Keadaan genting, kondisi batin manusia mengalami
penderitaan yang mendalam, kelaparan pangan kerohanian melanda umat manusia.
Sistem antibiotik jiwa manusia melemah, sehingga virus-virus hati mudah masuk
dan akan melumat habis kesejatian diri manusia sebagai hamba Tuhan. Tak
disadari sesungguhnya kerajaan “ANANIYYAH”
sedang tumbuh subur di hati manusia yang mengundang sifat-sifat asing bagi
manusia itu sendiri.
Inilah fenomena saat ini yang harus kita
tanggulangi karena "MEA" datang
bukan karena kebodohan akal akan tetapi kebodohan dari hati yang kotor sehingga mengakibatkan kehancuran moral dan aqidah.
Apabila hal ini
kita biarkan dan kita masa bodoh maka agama hanya tinggal namanya, seperti
jasad tanpa roh (bangkai yang tiada manfaat). Hanya pandai di akal akan tetapi
bodoh masalah hati sehingga mengakibatkan bobroknya moral yang menjangkit umat
masyarakat. Bagaikan hukum dalam rimba, siapa yang kuat dia yang menang, buas
seperti harimau bahkan lebih buas padahal tidak ada sejarah harimau membunuh
anaknya lebih-lebih anak harimau membunuh ibunya akan tetapi fenomena yang
sering terjadi orang tua membunuh anaknya dan anak tega membunuh orang tuanya,
koruptor tak ada habisnya, semua merasa “aku” tiada yang mengalah, teroris kian
lama bertambah dan bahkan seusia kencur tercuci otaknya dengan iming-iming
bidadari dan surga padahal semua itu adalah fatamorgana dan ilusi belaka bila
tidak mengenal Sang Pencipta. Mungkin detik-detik kiamat sudah dekat, saatnya
manusia segera bertaubat!
Apakah MEA itu?
Apakah ia sejenis penyakit yang ganas? Ataukah ia adalah sejenis monster yang
sangat berbahaya?
MEA ADALAH SINGKATAN DARI “MASYARAKAT ETIKA
ASING” yang mana notabene
merupakan racun yang masuk dan menguasai hatinya umat itulah penyebab sumber
perpecahan, sumber fitnah, sehingga terjadi perpecahan, permusuhan dimana-mana,
inilah penyebab krisis kasih sayang dan persaudaraan umat dijagat raya ini.
Alat apakah yang
mampu menumbangkan dan mengalahkan “MEA”?
Maka metode
untuk menghadapi "MEA" dengan
cara menginjeksi hati dengan nutrisi
jiwa yang bernama “BIT”:
1. Buang Rasa
Buang rasa hati yang mengandung sifat-sifat lebih baik
daripada yang lain : aku kaya, aku pintar, aku pimpinan, aku ahli ibadah, dan
aku...aku yang lainnya.
2. Isi Rasa
Isi rasa hati yang mengandung sifat-sifat kehambaan : aku
rendah, aku tempatnya salah dan dosa, aku tiada apa-apanya dan yang lainnya.
3. Tinggal rasa
Sadarilah dalam hati yang terdalam bahwa kalau sudah yang
diatas teradopsi dalam hati, kita harus mengeNOLkan atau mengembalikan itu
semua kepada ALLOH SWT yang menciptakannya. “LAA HAULA WA LAAQUWWATA ILLAH
BILLAH".
Semoga kita semua dituntun untuk menemukan
nutrisi jiwa dalam relung-relung kerendahan dan kealfaan (NOL) sebagai asupan
hati kembali menjadi hamba yang taat kepada Tuhan Sang Penguasa Sejati sehingga
tercipta negara gema ripa loh jinawe
yang aman, tentram, makmur, melimpah dan penuh kasih sayang (Baldatun Thayyibatun Wa Rabbun Ghafur)!
Aamiin…
*******
Dalam bumi kerendahan, 9 Mei 2016
Al Fakir yang hina
“Hidup Sekali Harus Berarti”

0 comments :
Posting Komentar