“Apa
mungkin kita mengenal Alloh selagi hati kita belum kita NOL kan dari semua
makhluk yang menempel didalam hati?”
كَيْفَ
يُسْرِقُ قَلْبٌ صُوْرُ الْأَكْوَانِ مُنْطَبِعَةٌ فِى مِرْ آتِهِ
Tentu tidak
mungkin, karena Alloh Maha Esa, Alloh Maha Suci, maka ketika kita berhadapan
dengan-Nya semua harus kita tinggal, dan semua harus kita leburkan!
Maka wahai
saudaraku…!!!
Bagaimana kita
bisa menghadap dan menghamba kepada Alloh dengan benar, selagi kita belum kenal
kepada-Nya???
Jangankan
menghadap kepada Alloh Yang Maha Agung, kenalpun kita tidak mampu!
Kita hanya
sebatas kenal kalimat “Allahu Akbar” “Allahush-shomad” akan tetapi dibalik
kalimat yang Maha Agung dan Maha Dahsyat itu kita tidak bisa membongkar kalimat
yang hebat yang dapat menolak kiamat itu.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda:
لاَ
تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى لاَ يُقَالَ فِي اْلأَرْضِ: اللهُ، اللهُ
“Tidak akan datang hari Kiamat hingga di
bumi tidak lagi disebut: Alloh, Alloh.” [Shahiih Muslim, kitab al-Iimaan, bab
Dzahaabul Iimaan Akhiraz Zamaan (II/ 178, Syarh an-Nawawi)]
Buktinya ketika
kita membaca “Allahu Akbar” kita masih merasa besar, merasa benar, merasa suci,
merasa aku, padahal ketika si hamba dekat dengan Sang Pencipta, dia tunduk,
diam, merasa kecil, dan banyak dosa, yang notabene manusia tempatnya salah dan
dosa, seperti halnya seorang seorang pengemis yang ingin dikasihani untuk
diberi makan, dia hanya tertunduk, memelas dan mengiba kepada si pemberi berharap
ia diberi makan, tidak ada sikap sombong didalam diri seorang pengemis.
Mestinya seorang hamba mempunyai jiwa seorang pengemis, selalu rendah, dan
butuh pertolongan.
Maka tentunya
kalau kita benar-benar menyadari dan merasa Allohu Akbar, maka saat bibir
mengucap hati dan jiwa ini tenggelam kedalam kesadaran terhadap Alloh yang
memiliki sifat agung, sehingga timbullah rasa NOL, tiada arti, dan rendah
serendah rendahnya, apakah kita sudah demikian wahai pembaca yang budiman.
Mari kita
renungkan diri ini, kita mau pulang kepada Alloh yang Maha Agung
Allohu Akbar….
Allohu Akbar…. Allohu Akbar…. Ternyata diri ini sangatlah buta tidak mengenal
kepada Sang Pencipta!
Munafikkah hati
ini? Atau memang sangat buta
وَمَنْ كَانَ فِي هَٰذِهِ أَعْمَىٰ فَهُوَ فِي الْآخِرَةِ أَعْمَىٰ
وَأَضَلُّ سَبِيلًا
“Dan barangsiapa yang buta (hatinya) di dunia ini, niscaya di
akhirat (nanti) ia akan lebih buta (pula) dan lebih tersesat dari jalan (yang
benar)” (QS. AL ISRAA : 72)
Bagaimanakah
dengan keadaan kita wahai saudaraku…???
Ingat…!!! Pintu awal kenal (ma’rifat) kepada Alloh ada didalam kerendahan!
Dalam sejarah,
iblis adalah pemimpin para malaikat, akan tetapi kedudukannya jatuh hanya
karena dia tidak rela disuruh bersujud oleh Alloh kepada Nabi Adam AS karena
merasa lebih baik daripada Nabi Adam AS yang tercipta dari api sedangkan Nabi Adam
AS tercipta dari tanah.
Begitupula
dalam sejarah seorang pelacur yang notabene
adalah yang dianggap sebagai sampah masyarakat dan pasti masuk neraka, Alloh
mencintai seorang pelacur itu, kedudukannya diangkat menjadi mulia hanya
gara-gara memberi minum air kepada seekor anjing yang hampir mati gara-gara
kehausan. Didalam hatinya dia berkata “lebih
baik kamu anjing yang tidak mempunyai akal akan tetapi engkau tidak pernah
maksiat daripada aku diberi akal oleh Alloh akan tetapi aku selalu maksiat dihadapan
Alloh”, saat itu melelehlah air mata kerendahan seorang pelacur itu yang
menjadi sebab ia dicintai oleh Alloh dan dimasukkan didalam surga.
Ingat wahai
saudaraku…. “SEORANG KEKASIH ALLOH PASTI DICINTAI…!!!”
Maka dari itu
baik tidaknya seorang manusia itu tergantung dari hatinya
Sabda
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
“Ketahuilah bahwa
pada jasad terdapat segumpal daging, jika ia baik maka baiklah seluruh
jasadnya, jika ia buruk maka buruklah seluruh jasadnya, ketahuilah itu adalah
hati” (Shahih Bukhari)
Karena hati
adalah pusat untuk mengenal kepada Alloh, maka tidak akan mungkin hati akan
mengenal Alloh selagi didalam hati itu terisi makhluk-makhluk selain Alloh dan
Alloh pasti akan cemburu, dan melaknat seorang hamba tersebut, apalagi didalam hatinya
tertanam 20 sifat yang wajib Alloh miliki merasa ada, merasa kuasa, merasa kaya, merasa
alim, merasa suci, dsb.
Inilah awal “Pengakuanku Sebagai Tuhan”, dimana
sifat itu ada pada diri seorang manusia.
Maka buang
sifat aku didalam diri kita, dalam filsafat jawa “ketok en kuku-kukumu (potonglah kuku-kukumu)” yang terdiri dari 20
kuku (10 jari tangan dan 10 jari kaki), yang mengandung makna buanglah sifat
keaku-akuanmu, sesuai dalam kitab aqidatul
awam, Alloh mempunyai sifat wajib 20 yang tidak mungkin atau mustahil
dimiliki makhluk, inilah ilmu tauhid (Meng-Esa-kan diri kepada Alloh).
Dalam kalimat
indah seorang ahli tasawuf mengatakan “Pancunglah Lehermu Bila Ingin Mengenal
Tuhanmu”, ini mengandung arti kata yang sangat dalam apabila ingin
mengenal Alloh jangan memakai akal akan tetapi pakailah hati, hati yang bersih,
hati yang “NOL” tidak mengandalkan makhluk selain Alloh.
Maka saat hati
bersih hilang “Pengakuanku Sebagai Tuhan” didalam hatinya, saat itulah seorang
ahli tasawuf berkata “ketika kupejamkan mataku, maka nampak semua
tiada (NOL), dan ketika kubuka mataku nampak semuanya yang kupandang itu adalah
fatamorgana (tipuan belaka)”.
“Tiap-tiap sesuatu pasti
binasa, kecuali Alloh. bagi-Nyalah segala penentuan, dan hanya kepada-Nyalah
kamu dikembalikan.” (QS. Al Qashash: 88)
****
Catatan
Perjalanan Al Fakir yang hina
Dalam
Bumi Kerendahan, 19 Mei 2016
"Hidup
Sekali Harus Berarti"

0 comments :
Posting Komentar