Wahai saudaraku…
Hari terus
bergulir menghabiskan sisa usia dimana pada suatu saat sampai pada hari
perjanjian, mau tidak mau jasad akan dipaksa untuk berpisahnya dengan roh, jasad
asalnya dari tanah kembali kepada tanah sedangkan roh pulang kembali kepada
Allah. Akan tetapi banyak dari kita terlena dengan apa yang kita miliki
sekarang, padahal Allah telah mengingatkan kepada kita melalui ayatnya akan
tetapi kebanyakan dari kita lupa, lalai dan lengah.
“Telah
dekat kepada manusia hari menghisab segala amalan mereka, sedang mereka berada
dalam kelalaian lagi berpaling (daripadanya).” (QS. Al Anbiyaa’ [21] :1)
Walaupun kita
sudah ibadah akan tetapi hati lupa tidak kunjung bertemu dengan Allah,
bagaimana kita akan bertemu dengan Allah untuk memperoleh ampunan dan rahmatNya
kalau di dunia ini tidak kenal kepadaNya? Sementara yang kita sembah hanya asma
Allah yang agung itu, akan tetapi jiwa tidak pernah bisa membongkar dibalik
asma yang agung itu, sehingga ibadah
dan puasa kita hanya sebatas seremonial belaka tidak menjadikan tunduknya
hati sehingga bisa merubah akhlaqul
karimah yang endingnya adalah
menjadikan manusia bertaqwa
dihadapanNya.
Inilah permasalahan
yang harus kita hadapi!
Alhamdulillah…
Allah telah
memberikan fadhol dengan turunnya
bulan Ramadhan, sehingga semua umat Rasulullah Saw diberi prioritas mendapat kasih
sayang dari Allah, akan tetapi dari rujukan ayat diatas, mungkin juga kita
masuk didalam bulan ampunan, bulan penuh rahmat dan kasih sayangNya akan tetapi
kita lalai dan lengah bahwa puasa adalah fadhol
dari Allah.
Dimana ada 3
keutamaan puasa yang diberikan Allah kepada umatnya Rasulullah Saw, sehingga 10
hari pertama akan diberi rahmat dan apabila rahmat diturunkan, semua akan
diampuni oleh Allah sehingga masuk dalam 10 hari kedua mendapatkan maghfiroh dan siap untuk diampuni, dan
terakhir masuk dalam 10 hari ketiga umat Rasulullah Saw akan dibebaskan dari
neraka, bahkan diakhir bulan Ramadhan tidak cukup bebas dari api neraka akan
tetapi ada hari dimana hari itu lebih baik daripada 1000 bulan yaitu malam lailatul qodar.
Akan tetapi
ingat bisa jadi ayat diatas mengenai kita semua, sehingga umat Rasulullah Saw
lupa dan lengah karena semua itu adalah fadhol
(pemberian) dari Allah Swt.
Maka dari itu wahai saudara-saudaraku… mari
kita merenung sejenak!
Setiap tahun
kita berpuasa, setiap tahun kita melewati malam lailatul qodar, dan setiap tahun kita mendapat titel idul fitri, akan tetapi kenyataanya
adakah perubahan akhlaqul karimah
didalam diri kita? Ataukah semakin merasa merasa benar, merasa baik, merasa
sombong, merasa bangga bahkan merasa suci menyaingi Allah dengan perasaan aku
kita?
Inilah fenomena
yang terjadi saat ini, padahal orang yang kembali fitrah otomatis hatinya
bersih dan suci tiada pengakuan merasa
baik dan suci didalam hatinya, akan tetapi justru menjadi hijab didalam diri kita.
Ingat…!!! Orang
yang dipilih Allah untuk menerima fadholnya
itu ada 2 ada yang dipilih langsung oleh Allah dan ada yang melalu proses.
“Allah
menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya” (Q.S Asy Syuura [42]: 13)
Suatu saat ada
sejarah dimana ada ulama besar yang bernama Abu
Yazid Al Bustomi bermunajat kepada Allah sambil berdoa:
“Yaa Allah angkatlah orang-orang yang tidak
mengerti agama dan orang-orang bodoh jadikanlah yang Engkau kasihi”
Suatu saat Beliau
mendapatkan alamat (mimpi) bertemu dengan seorang remaja bernama Abdulloh anak dari pembesar disuatu
daerah, yang merupakan pilihan dari Allah dan nampak sangat tinggi derajatnya
dihadapan Allah sehingga Abu Yazid Al
Bustomi mencari remaja tersebut disuatu daerah.
Ketika sampai
pada suatu daerah bertemulah dengan ulama sekitar yang mengenal anak remaja
itu, dan ketika ditanya mengatakan bahwa anak itu setiap hari berkumpul dengan
80 orang maksiat, sambil tidak percaya Abu
Yazid Al Bustomi membuktikan kebenaran dari informasi itu sendiri, akhirnya
bertemulah dengan remaja bernama Abdulloh
yang dalam mimpinya itu.
Abu Yazid Al Bustomi kecewa ternyata
benar apa yang dikatakan oleh ulama setempat bahwa remaja itu sedang bergaul
dengan 40 ahli maksiat. Pulanglah Abu Yazid
Al Bustomi dengan perasaan kecewa,
ternyata tidak sesuai yang diharapakan seperti anak sholeh pada umumnya,
setelah beberapa langkah meninggalkan kerumunan ahli maksiat tiba-tiba remaja
tersebut memanggil Abu Yazid Al Bustomi dan terjadilah dialog pada saat itu
“Wahai syeikh, apakah engkau mencari aku?”
Jawab Abu Yazid Al Bustomi
“Bagaimana engkau tahu bahwa aku sedang
mencarimu? Apakah engkau yang bernama Abdulloh?”
Lanjut remaja
itu bertanya
“Iya benar saya Abdulloh, engkau ulama yang
bermana Abu Yazid Al Bustomi itu ya? mengapa engkau meninggalkan aku? Apakah
hanya karena aku bergaul dengan 40 orang ahli maksiat ini?”
Terkejutlah Abu Yazid Al Bustomi sambil mengatakan
“iya… sesungguhnya saya sangat kecewa sekali
ketika aku bertemu dengan engkau wahai remaja, tidak seperti yang aku prediksi
bahwa engkau adalah remaja yang dicintai oleh Allah dan engkau bergaul dengan
ahli ibadah, tapi tidak, kulihat dengan mata kepalaku sendiri engkau bergaul
dengan 40 ahli maksiat, dan saya akan pulang dan tidak akan menemuimu lagi! ”
Remaja yang
bernama Abdulloh itupun menjawab
“Tahukah engkau wahai syeikh, ini adalah
tugas dari Allah untukku atas doamu yang pernah engkau panjatkan kepada Allah, masih
ingatkah engkau atas doamu ketika engkau bermunajat kepada Allah untuk
mengangkat orang yang tidak mengerti agama dan orang-orang bodoh sehingga
menjadi orang yang dicintai oleh Allah?”
“Iya aku ingat” jawab Abu Yazid Al Bustomi
“Aku bermimpi bertemu dengan Rasulullah dan Beliau
menyuruhku untuk membimbing 80 orang ahli maksiat dan ini sesungguhnya tugas
berat bagiku karena melanggar aturan agama, akan tetapi engkau malah suudzon
kepadaku, dan sekarang 40 orang sudah sadar dan menjadi orang baik, dan
sekarang giliranmu syeikh untuk membimbing ahli maksiat yang belum sadar ini!”
Saat itu
menangislah Abu Yazid Al Bustomi sambil
memohon maaf kepada remaja itu
Wahai saudaraku…
Kita ambil
hikmah dari pelajaran diatas bahwa bahwa sesungguhnya Allah tidak padang bulu
mengangkat hambanya untuk dijadikan kekasihNya.
Siapa saja bisa
bisa mendapat fadhol (pertolongan)
dari Allah termasuk remaja bernama Abdulloh yang dipandang hina oleh masyarakat
ternyata malah remaja itu adalah kekasih Allah dan Rasulullah Saw. Allah
memilihnya dan memberikan fadhol yang
sangat besar sehingga ia menjadi kekasih Allah.
“Dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang
yang kembali (kepada-Nya).” (Q.S Asy Syuura [42]: 13)
Begitupula yang
kedua orang yang diberi fadhol harus melalui
proses ikhitiar, melalui proses
ibadah, melalui proses riyadoh-riyadoh,
melalui proses puasa yang kita lakukan dibulan Ramadhan ini, yang tujuannya
mencetak akhlaqul karimah menjadikan
agar kita bertaqwa disisi Allah.
Akan tetapi apa
artinya ketika kita ibadah, ilmu kita setinggi langit dan ibadah kita luar
biasa akan tetapi tidak tertanam kerendahan, tidak tertanam kehinaan dan tidak
mengeNOLkan diri tujuannya LILLAH (semata-mata hanya Allah) dan BILLAH (sebab
semua datang dari Allah), sehingga muncul perasaan mampu, perasaan suci,
perasaan lebih tinggi daripada orang lain sehingga menganggap rendah orang
lain.
Awas….!!! Kalau kita syirik menyekutukan Allah dengan sifat aku walaupun hafal Al Quran
dan 1000 kitab sekalipun, akan tetapi didalam hatinya ada perasaan aku seketika
itu hapus seluruh amal yang kita kerjakan.
La'in
'Ashrakta Layaĥbaţanna `Amaluka Wa Latakūnanna Mina Al-Khāsirīna
"Jika kamu mempersekutukan Tuhan
(merasa aku), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk
orang-orang yang merugi” (QS. Az Zumar [39]: 65)
Ingat…!!!
Hidup ini hanya
sekali, sebentar lagi kita pulang kepada Allah kalau hati ini pulang tidak innalillahi wainna ilaihi roojiun dengan
qolbin salim (hati yang selamat) hati
yang merendah, hati yang tidak ada kemampuan, walaupun disebut orang mulia,
disebut ustad, disebut kyai, tetap hapus
semua amal kita dihadapan Allah Swt.
Wahai
saudaraku… rendahkan dirimu, tundukkan sayapmu, tinggalkan ketakaburan merasa “aku”
dihadapan Allah dengan perasaan rendah, berlumuran dosa serta merasa butuh dan
menjagakan Allah (NOL), karena fadhol Allah tidak akan diberikan
kecuali kepada hati yang merasa rendah, berlumuran dosa dan merasa butuh dan
menjagakan hanya kepada Allah. (Taqribul Ushul: 217).
Awas…!!!
Saat perasaan
aku ada didalam hati, saat itu kita jauh dihadapan Allah Swt sedangkan orang
yang dekat dengan Allah lebih banyak diam dan menangis bertaubat karena senantiasa
merasa menyekutukan Allah, dholim dan kufur dihadapanNya.
Mulai detik ini
harus dilatih, ketika sholat harus rendah, ketika sujud rendah, dan ketika baca
sholawat harus tertanam kerendahan, jangan sampai kerendahan itu hilang, karena
ketika kerendahan itu hilang, saat itu iblis datang menancapkan bendera “aku”
didalam hati kita sehingga perasaan aku dan iblispun berkata kepada kita kamu
bagus, kamu mulia, kamu suci, kamu ahli ibadah, kamu ahli surga, dan kamu orang
yang dicintai Allah.
Kita adalah
hamba, jangan sekali-kali merasa menjadi tuhan maka buang penyakit “ananiyah” (keaku-akuan).
Satu kali merasa aku sama saja kita
mendeklarasikan “PENGAKUANKU SEBAGAI TUHAN”!
Satu kali mengatakan aku pandai sama saja
mengatakan “PENGAKUANKU SEBAGAI TUHAN”!
Satu kali merasa aku adalah orang yang
dicintai Allah saat itu engkau sesungguhnya jauh (bu’dun) dan sama saja mengatakan “PENGAKUANKU SEBAGAI TUHAN”
karena merasa aku suci, merasa aku ahli ibadah, merasa aku mulia!
Maka buang
penyakit aku, buang penyakit nafsu
ananiyah dengan pengetrapan LILLAH BILLAH diterapkan didalam hati dan
dengan mujahadah-mujahadah karena mujahadah adalah kunci hidayah dan
pertolongan Allah Swt, sedangkan mujahadah
bukan hanya bungkusnya (jasad) akan tetapi hati harus dilibatkan, lahir
mujahadah diikuti batin mengetrapkan kerendahan sebagai hamba Allah.
Tidak ada yang diandalkan didunia ini,
kalau akal mengandalkan lainnya boleh akan tetapi jiwa jangan sekali-kali
mengandalkan selain Allah (Laa Haula
Walaa Quwwata Illa Billah)!
Sekali lagi, latih…
latih… latih… perasaan rendah dan hina dimanapun berada terutama dihadapan
Allah karena wahuwa ma a’kum ainamaa
kuntum (Allah beserta kita dimanapun berada) dan NOL jangan sekali-kali ada
pengakuan, bawa dan pertahankan perasaan rendah dan NOL itu sampai mati karena
sebentar lagi kita akan kembali kepadaNya.
Ingat…!!!
Satu kali membenci orang lain saat itu
terganjal sudah perjalanan kita untuk menuju kepada Allah!
Satu kali menfitnah orang lain saat itu
terganjal sudah perjalanan kita untuk menuju kepada Allah!
Satu kali menghujat orang lain saat itu
terganjal sudah perjalanan kita untuk menuju kepada Allah!
Maka hilangkan
kebencian… hilangkan fitnah… hilangkan hujat menghujat!
Kita saudara, semua
umat, semua agama adalah saudara!
Kita berjuang
untuk keluar dari dunia kembali kepada Tuhan Sang Pencipta!
‘Fabima rahmatin minallahi linta lahum walau
kunta fazhzhan ghaliizhalqalbi lanfadhdhuu min haulika…”, (QS. Ali Imran [3]:
159)
Maka disebabkan rahman dari Allah, kamu
lemah lembut kepada mereka. Seandainya kamu berperangai keras berhati kasar,
niscaya mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu…”
Sekali lagi ingat…!!!
Kita adalah
senasib, ciptaan dan diciptakan, maka harus kembali kepada Sang Pencipta (FAFIRRU ILALLOOH)!
Semoga sisa
daripada kehidupan ini benar-benar bermanfaat dan berarti karena hidup kita
hanya sekali dan tidak akan pernah ada kesempatan untuk mengulang kembali.
Dan semoga amal
puasa dan ibadah kita di 10 hari yang kedua diterima dan mendapatkan maghfiroh (ampunan) dari Allah Swt
sehingga diujung perjalanan kita dalam memasuki bulan Ramadhan mendapatkan
titel taqwa dan idul fitri dihadapan Allah.
Aamiin…
-------------------------------------------------------------
Catatan
kelam perjalanan “Al Fakir” yang hina
Dalam
Bumi Kerendahan, 13 Juli 2014
“Hidup
Sekali Harus Berarti”
* Refrensi diambil dari kajian alam hikmah
edisi 134 “Membongkar
Rahasia Ramadhan 10 Hari Pertama”

0 comments :
Posting Komentar