Kita sudah memasuki
bulan yang penuh rahmat, bulan penuh ampunan sehingga begitu mulianya bulan ini,
bahkan didalamnya ada hari istimewa dimana hari itu lebih baik daripada seribu
bulan. Coba bayangkan begitu mulianya hampir setara 83 tahun dalam satu malam,
dan dalam satu bulan itu ada 5 hari sehingga mulia dari 416 tahun itupun
bersama malaikat apalagi bersama Allah mungkin lebih baik daripada satu juta
tahun bahkan lebih karena kekuasaan Allah absolut dan tak terbatas, itulah
malam lailatul qodar di bulan Ramadhan
yang penuh berkah ini.
Rasulullah juga
bersabda :
“Barang siapa menyambut Ramadhan dengan hati
gembira, maka haram jasadnya disentuh api neraka” (Al Hadist)
Di bulan ini
seluruh umat muslim berbondong-bondong untuk memperbanyak amal dan ibadah
bahkan tidurpun dibulan suci dan barokah ini menjadi ibadah, sungguh sangat
mulianya bulan suci Ramadhan. Akan tetapi apakah bulan Ramadhan ini bisa
menjadikan benar-benar bertaqwa sesuai dengan Al Quran surat Al Baqarah ayat
183 :
“Hai
orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana
diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertaqwa”
Ini ayat yang
sangat luar biasa, puasa ini merupakan proses menjadikan orang-orang dilatih
dan digembleng agar benar-benar
menjadi orang yang bertaqwa kepada Allah, sedangkan Rasulullah pernah bersabda
3 kali sambil menunjukkan dadanya sebagai tempat bersemayamnya taqwa “at-taqwa ha huna, at-taqwa ha huna, at-taqwa
ha huna”, ini menunjukkan suatu sinyal bahwa sesungguhnya taqwa itu tempatnya
ada didalam hati bukan diakal atau didalam tempurung otak kita.
Artinya Allah
memberikan alat agar manusia bertaqwa bukan hanya fokus pada lahir saja
berpuasa, menjaga makan dan minum serta meninggalkan hal-hal yang membatalkan
puasa, akan tetapi hati juga harus berpuasa.
Alasannya, karena taqwa
itu ada didalam hati, maka orientasi taqwa itu untuk hati sehingga walaupun
setiap tahun kita berpuasa dan beribadah akan tetapi didalamnya bila hati tidak
dilibatkan dengan perasaan rendah-serendahnya, tawadhu’, dan penuh berlumuran dengan dosa sehingga timbullah
perasaan hina dina dihadapan Allah, maka puasa kita sesungguhnya tiada arti
karena sesungguhnya ending dari puasa
mencetak manusia menjadi taqwa dihadapan Allah “la allakum tattaqun”.
Sebab ujungnya
puasa adalah taqwa sedangkan Rasulullah mengatakan taqwa sendiri itu didada (hati),
artinya puasa kita walaupun kita isi dengan berbagai macam amalan ibadah yang
baik (tarawih, tadarrus, sholat
malam, sahur, dan ibadah bagus lainnya) akan tetapi hati tidak pernah kita
libatkan maka tiada arti puasa kita setiap tahun.
Mari kita koreksi dan bertafakur sejenak
wahai saudaraku…!!! Bagaimana dengan puasa kita…???
Kalau fokus puasa
untuk menjadikan hati semakin baik bertaqwa, sudahkah puasa kita menjadikan
semakin merendah dihadapan Allah?
Sudahkah haji kita
menjadikan tunduk dihadapan Allah?
Sudahkah sholat
kita menjadikan menyadari semakin merasa hina dan penuh banyak dosa dihadapan
Allah?
Sudahkah tadarrus kita menjadikan sebagai bahan
renungan untuk menjadikan kita bertaqwa dihadapan Allah?
Apa jadinya kalau puasa
kita hanya menjadi seremonial belaka?
“Berapa banyak orang yang puasa, tapi tidak dapat apa-apa kecuali haus dan lapar.” (Hadits Riwayat Bukhari-Muslim)
Hanya sia-sia menahan haus dan lapar saja akan tetapi puasa kita tidak berefek pada hati dan jiwa kita, sehingga puasa yang semestinya menjadikan kita bertaqwa dan merendah dihadapan Allah, akan tetapi justru malah sebaliknya menjadikan kita bangga dengan puasa yang kita lakukan, bangga dengan sholat tarawih yang kita jalankan, bangga dengan tadarrus yang kita lantunkan baik dirumah, dimushola maupun dimasjid.
“Berapa banyak orang yang puasa, tapi tidak dapat apa-apa kecuali haus dan lapar.” (Hadits Riwayat Bukhari-Muslim)
Hanya sia-sia menahan haus dan lapar saja akan tetapi puasa kita tidak berefek pada hati dan jiwa kita, sehingga puasa yang semestinya menjadikan kita bertaqwa dan merendah dihadapan Allah, akan tetapi justru malah sebaliknya menjadikan kita bangga dengan puasa yang kita lakukan, bangga dengan sholat tarawih yang kita jalankan, bangga dengan tadarrus yang kita lantunkan baik dirumah, dimushola maupun dimasjid.
Inilah fenomena nyata yang terjadi saat
ini!
Ingat…!!! Orang
yang sudah bertaqwa dan semakin dekat dengan Allah, sedikitpun tiada pengakuan
merasa aku didalam dirinya (aku mulia, aku alim, aku, ahli ibadah, aku
terhormat, dsb), justru semakin dekat tidak berani mengaku dihadapan Allah.
“Wahuwa
ma a’kum ainamaa kuntum” - Dan Dia (Allah) bersama kamu di mana saja kamu
berada (QS. Al Hadid : 4)
Seperti halnya
ketika kita dekat dengan atasan kita, kita diam, tidak berani berkutik dan
tunduk bahkan tidak berani mengaku-aku menunjukkan milik kita, akan tetapi
ketika jauh kita berani dan sombong mengaku semuanya milik kita.
Maka dari itu kita
koreksi bagaimana dengan keadaan kita wahai saudaraku…???
Sudahkan hati kita
mencerminkan taqwa dihadapan Allah? ataukah masih ada pengakuan merasa baik,
merasa mulia, bahkan merasa benar sendiri?
Sudahkah ibadah,
puasa, haji, dan amal baik lainnya berefek pada hati? atau malah menjadi suatu
kebanggaan dan kesombongan terhadap diri kita?
Ingat kita adalah hamba….!!! Sekali
lagi, hamba adalah rendah, tidak ada kemampuan dan kekuatan walau sebiji sawi,
maka masuklah di bulan Ramadhan ini sebagai hamba tidak ada kebanggan untuk
beribadah, dan perasaan baik karena semua adalah pertolongan dari Allah (Laa Haulaa Walaa Quwwata Illa Billah).
Maka dari itu,
jadikan momentum bulan Ramadhan ini
sebagai bulan kerendahan dan bulan kepasrahan dihadapan Allah, karena ketika
kekuatan rendah dan NOL (pasrah) menyatu didalam diri seorang hamba, bisa
menjadikan kekuatan yang sangat hebat dan luar biasa, kekuatan absolut dan tak
terbatas, itulah kekuatan Maha Dahsyat yang kami sebut dengan TANGAN TUHAN.
Wahai Saudaraku…!!!.
Pertolongan Allah
tidak akan diberikan kepada siapapun juga walaupun kita berpuasa dan beribadah
setinggi langit dibulan Ramadhan ini kecuali diberikan kepada hati yang merasa
rendah dan berlumuran dosa dan senantiasa menjagakan dan memandang kepada Allah
belaka.
“Laa yakunul fadhlu illaa lilquluubil munkatsirotil
muta-arridhotil linnafahatil ilaahiyyah” (Taqribul Ushul: 217)
“Fadhol Allah tidak akan diberikan kecuali
kepada hati yang merasa rendah, berlumuran dosa dan merasa butuh (menjagakan
hanya kepada Allah)”
Bagaimana dengan diri kita ini…??? Ingat
hidup hanya sekali...!!!
Alangkah kecewanya
jika kita diberi kesempatan hidup dan bertahun-tahun melaksanakan ibadah dan
berpuasa dibulan Ramadhan yang penuh barokah ini, tapi kita belum bisa
melibatkan hati untuk beribadah didalamnya.
Mungkinkah hati kita ini buta…??? atau hati
kita mati sehingga tidak bisa kita libatkan untuk beribadah kepadaNya, kita
beribadah bukan hanya bungkusnya (jasadnya) tap roh (hati) harus kita libatkan
untuk beribadah kepada Allah.
Al kamil man yakunu jam’u wal farqu
(orang yang sempurna hatinya senantiasa bersama Allah) “Wahuwa ma a’kum ainamaa kuntum”
(QS. Al Hadid : 4) artinya Dan DIA (Allah) bersama kita dimanapun
berada, sedangkan lahirnya tetap bersama manusia.
Sudahkah kita
seperti ini…..!!! ataukah hanya lahirnya belaka beribadah menyembah Allah, tapi
jiwa kita mati tidak pernah ingat kepada Allah bahkan senantiasa merasa baik,
merasa aku, merasa ada kemampuan, merasa ada dan bangga dengan amal ibadah ini
padahal semua adalah pertolongan dan milikNya (Allah).
Ingat… !!! Taqwa itu adalah hati, bukan jidad yang
hitam karena banyaknya sujud atau sembabnya mata karena banyak menangis, tapi
adalah hati yang memutih karena sadarnya kepada Allah bahwa dia NOL tidak
memiliki kemampuan apapun (Laa Haulaa
Walaa Quwwata Illa Billah).
Apa artinya
menangis akan tetapi tidak ingat kepada Allah, malah takut bukan selain kepada
Allah, tidak Lillah dan tidak Billah?
Apa artinya kalau
hati tidak pernah dilibatkan, malah bangga dengan airmata dan merasa puas
dengan airmata itu sehingga tidak pernah menjagakan Allah, menjagakan istighfar, menjagakan sholat malam
bahkan menjagakan sujud sehingga nampak hitam pada jidadnya.
Inikah yang disebut kembali kepada
fitrah….???
Orang yang fitrah
(Idul Fitri) kembali kepada sifat hamba, senantiasa merasa penuh berlumuran dosa,
sadar dirinya NOL (pandangannya hanya kepada Allah) dan senantiasa merendah
serendah-rendahnya dihadapan Allah, tidak ada pengakuan sebiji sawipun.
Selamat berpuasa
dibulan Ramadhan semoga Ramadhan ini menjadi maghfiroh bagi kita semuanya…
Ingat…!!! Sekali lagi…. Semuanya itu
diberikan kepada kita semua yang merasa rendah, merasa dosa, dan hanya butuh
dan menjagakan allah semata-mata, tidak pernah mengandalkan amal (puasa, tarawih,
sholat malam, tadarrus quran, dan amal ibadah baik lainnya). Maka
dari itu bersih hati kita, suci jiwa kita, dan bersiaplah menghadap Sang Penguasa
Sejati.
Semoga puasa kita dan
puasa seluruh umat islam diseluruh dunia diterima oleh Allah, dijadikan
orang-orang yang bertaqwa dihadapanNya sehingga kembali fitrah seperti bayi
yang baru lahir “ka yaumin waladathu
ummuh”.
Aamiin…
-------------------------------------------------------------
Catatan
kelam perjalanan “Al Fakir” yang hina
Dalam
Bumi Kerendahan, 1 Juli 2014
“Hidup
Sekali Harus Berarti”
* Refrensi diambil dari kajian "Apakah Puasa Kita Sudah Bisa Menjadikan Kita Bertaqwa?"



0 comments :
Posting Komentar