Wahai
saudaraku…
Dipenghujung Ramadhan
ini para malaikat gemuruh dan goncang karena sebentar lagi umat Muhammad
Rasulullah Saw akan ditinggal oleh bulan Ramadhan yang bertaburan dengan
mutiara-mutiara maghfiroh (ampunan)
dari Allah dan sebentar lagi alam barzah akan kembali seperti sedia kala
sebelum bulan Ramadhan, siksa akan kembali seperti sedia kala sebelum bulan Ramadhan
datang.
Semua ahli
kubur gemuruh tidak seperti masuk dibulan Ramadhan siksa diangkat terasa tenang
ahli kubur akan tetapi sebentar lagi ahli kubur hanya menunggu doa-doa kita
yang ada didunia, agar diampuni oleh Allah.
Dan sebentar
lagi kita sudah sampai dipenghujung Ramadhan dimana bulan penuh rahmat dan
ampunan ini akan meninggalkan kita semua dan semoga diujung Ramadhan ini kita
diberi fadhol oleh Allah Swt sehingga
disisa akhir Ramadhan ini benar-benar manfaat dan mendapat titel idul fitri.
Tapi bagaimana
dengan keadaan kita? hampir sebulan penuh kita dilatih dipusat jiwa dan kita
dilatih dipusat hati dengan tujuan agar kita menjadi orang-orang yang bertaqwa dan dekat dihadapan Allah Swt
Sangat cepat
sekali waktu ini… kita melaksanakan puasa yang tinggal sisa yang sedikit!
Sangat cepat
sekali waktu ini… rahmatnya Allah yang diberikan kepada kita yang setiap hari penuh
dosa, setiap hari lupa kepadaNya, setiap hari hati kita jauh dari Allah bahkan
setiap hari kita syirik dihadapan
Allah.
Bibir mengucap
Allah adalah Tuhanku akan tetapi kenyataan hati bohong tidak ingat kepada Allah
bahkan senantiasa merasa mampu, senantiasa merasa kaya, merasa suci, bahkan
dirinya disembah dengan nafsu rububiyah
(nafsu keTuhan-Tuhanan) sehingga hatinya merasa menjadi Tuhan dan mengaku
menjadi Tuhan padahal hanya Allah (ILLALLOH) yang patut kita sembah.
Oleh karena itu
iman yang ada dihati kita ini akan diuji dulu oleh Allah Swt, iman sungguh kah
kita? atau iman imitasi?
Ingat kalau
iman kita imitasi, otomatis hati kita tidak menjagakan, mengharap, dan butuh
kepada Allah, masih ada pandangan selain Allah walaupun satu biji atom makhluk
yang ada didalam jiwa tidak akan menjadikan kita sampai kepada Allah karena DIA
Esa tiada sekutu bangiNya dan kita akan terhalang dan terhijab tidak akan
sampai kepadaNya.
Mari kita
bertafakur wahai saudaraku…
Ketika la a’llakum tattaquun hatinya hanya
benar-benar kepada Allah, maka apa mungkin kita bisa disebut taqwa kalau masih menyakiti Allah dengan
perasaan aku walau hanya satu atom?
Satu kali ada perasaan aku saat itulah
penyakit rububiyah sudah meracuni
hati!
Apakah rububiyah itu? Rububiyah adalah
nafsu keTuhan-Tuhanan, dan sekali kita merasa aku, merasa mampu, merasa kuat,
maka saat itulah kita terjangkit nafsu rububiyah (nafsu keTuhan-Tuhanan).
Ingat saudaraku…
Jauhilah sifat-sifat atau perasaan
rububiyah tersebut, karena sekali merasa mampu, merasa kuat yang timbul dari
diri kita yaitu PERASAAN AKU, maka leburlah semua amal yang kita lakukan karena
kita merasa menjadi Tuhan atau mengaku sebagai Tuhan.
Mari kita
koreksi diri ini….
Ketika kita merasa
mampu beribadah (puasa, sholat, zakat, haji, dll) saat itulah kita terjangkit
penyakit RUBUBIYAH karena yang mampu,
berkuasa atas segalanya itu hanya Allah Sang Pencipta, begitupula kita merasa
kuat, kalau kita merasa kuat (kuat ibadah) langsung nafsu RUBUBIYAH menancap didalam hati.
Ingat firman
Allah:
La'in 'Asyrakta Layaĥbaţanna `Amaluka Wa Laatakuunanna
Minal Khoosiriina
"Jika kamu mempersekutukan Tuhan
(merasa aku), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk
orang-orang yang merugi” (QS. Az Zumar [39]: 65)
Bagaimana
dengan diri kita? Adakah perubahan didalam diri kita dipenghujung ramadhan ini?
ingat kesempatan kita terbatas, sebentar lagi akan kita tinggal. Orang awam
bergembira akan datangnya idul fitri
sedangkan orang yang bijak sadar kepada Allah hanya bersimpuh berlinangan air
mata karena akan ditinggal ramadhan yang penuh barokah.
Selamat tinggal
yaa ramadhan… semoga kita bertemu ditahun mendatang, tapi….. sampaikah umur
hamba yang hina ini untuk menemuimu kembali yaa ramadhan ditahun mendatang.
Saudaraku…. waktu kita terbatas…. Sekali
lagi sangat terbatas…!!!
Adakah perubahan dengan datangnya ramadhan
ditahun ini, mungkinkah diri ini akan menjadi muttaqin atau kembali kedalam kesucian idul fitri?
Ingat… ketika sebelum Ramadhan diri ini suka
pamer dan selalu ingin dikenal, apakah sekarang sudah hilang dalam diri ini
perasaan pamer dan ingin dikenal itu?
Ketika kita tadarus bagaimana andaikan tidak
ada pengeras apakah kita rela ataukah malah kecewa karena tidak didengar orang?
Ingat wahai
saudaraku…!!!
Umat islam yang
benar-benar hati-hati dan bersyukur (muttaqin)
kepada Allah Swt, ketika dipenghujung Ramadhan justru menangis, bersimpuh
dimalam hari sehingga nampak dosa-dosa yang ia lakukan, nampak kerendahan yang
ia lakukan dan benar-benar hatinya tertanam perasaan rendah-serendahnya dan
penuh berlumuran dosa.
Orang-orang
yang benar-benar bertaqwa di sepuluh
penghujung Ramadhan terakhir hatinya sudah tertanam perasaan rendah dan nampak
dosa-dosanya, Dimana orang awam sibuk untuk mempersiapkan dan menyambut bahagia
kemenangan idul fitri sedangkan Si Muttaqin sibuk mengoreksi diri, hanya
mengatakan “kami penuh dosa ya Tuhan…
kami penuh dengan kesalahan ya Allah…” sehingga air mata butir demi butir meleleh
dipipi sehingga Si Muttaqin tidak
berkutik dihadapan TuhanNya, Si Muttaqin
hanya merasa rendah dihadapan Allah sambil
lisan berucap lirih :
“Ampunilah dosaku ya Tuhan… ampunilah aku ya
Allah… ampunilah kedua orang tuaku ibu yang melahirkanku dan ayah yang telah
membesarkan aku dengan keringat menetes dibumi ini, sedangkan air susu ibuku
belum terbalas, keringat ayahku pun tidak terbalas sampai ibuku berpulang
ketika penghujung bulan Ramadhan aku datang ke tempat peristirahatan terakhir
disana ada batu nisan terukir nama ibuku yang aku cintai”
Saat itu Si Muttaqin tidak berkutik dihadapan
Allah…
Si Muttaqin tidak pernah menghitung amal
ibadah yang ia lakukan…
Si Muttaqin tidak menampakkan ibadahnya
karena mengerti bahwa semua itu adalah pemberian dari Allah yang Maha Suci
Si Muttaqin hanya menampakkan diri
didalam bumi kerendahan dan alam yang penuh dosa, merasa tidak pantas ketika
pintu surga dibuka, merasa tidak pantas ketika bidadari menyambut.
Alangkah
teriris hati Si Muttaqin karena
kerendahan itulah yang mendapatkan maqoman
mahmudah yaitu maqom yang terpuji
dimana Si Muttaqin hanya ada DIA dan
yang ada hanya Sang Pencipta karena keyakinan yang membara “Laa ilaa ha Ilallooh” dihati ada kenyakinan tiada yang wujud,
tiada yang ada kecuali Allah Sang Pencipta.
Maka Si Muttaqin hatinya hanya ada Allah dan kemapuan yang
ada didalam hatinya itu dibuang jauh-jauh karena semua itu milik Allah Sang Pencipta
(LAA HAULA WALAA QUWWATA ILLA BILLAH).
Wahai
saudaraku…
Apakah kita
sudah termasuk golongan muttaqin dan
orang yang benar-benar bertaqwa
kepada Allah?
Apakah hati
kita sudah bisa merendah atau congkak dihadapan Allah?
Ingat…!!! Merasa baik sekali kita sudah
mewarisi virus-virusnya iblis yang ada didalam hati! dan satu kali merasa baik
iblis akan tertawa bangga dengan diri kita, kita dianggap saudaranya iblis dan
kita akan dianggap sebagai temannya iblis!
Ingatkah dalam
sejarah iblis terlempar dari surga hanya karena tertanam perasaan baik (merasa
aku) yang ada didalam jiwanya!
Bagaimana
dengan diri kita dipenghujung Ramadhan yang akan segera meninggalkan kita?
Masih adakah
perasaan aku (aku mampu, aku ahli ibadah, aku baik, aku mulia) didalam diri
kita?
Padahal waktu
ini sangat terbatas, mungkin bulan Ramadhan akan datang tidak akan bertemu lagi,
dan mungkin Ramadhan ini adalah bulan Ramadhan yang terakhir bagi kita.
Tahu-tahu dunia
bergetar Izroil datang dihadapan kita
dikatakan waktumu sudah habis kamu harus kembali pulang kepadaNya!
Sungguh alangkah
menyesalnya kita karena kita bisa jadi keluar dari bumi ini masih ada kesyrikan membawa sifat aku didalam jiwa
kita!
Wahai saudaraku…
Mari dipenghujung Ramadhan ini, kita koreksi sedalam dalamnya…
Seorang muttaqin yang berakal sempurna dia
memilih sendiri menghitung dosa-dosa yang pernah ia lakukan.
Dikala orang
umum menghitung amal dan pahala seorang yang muttaqin hanya diam tertunduk sambil menangis dihadapan Allah karena
banyaknya dosa yang pernah ia lakukan.
Tidak pantas Si Muttaqin menghitung amal dihadapan
Allah…
Tidak pantas Si Muttaqin membanggakan amal yang ia
lakukan dihadapan Allah…
Semua umat
berbahagia karena mendapat pahala, tapi Si
Muttaqin dia tertunduk malu tidak pantas bersimpuh..
Si Muttaqin hanya banyak menangis dan
sedikit tertawa…
Si Muttaqin sadar bahwa ia bukan apa-apa
dan bukan siapa-siapa, yang ada hanya kerendahan dan NOL dihadapan Allah
Karena LAA
MAUJUDA ILALLOH (TIADA YANG WUJUD SELAIN ALLAH), maka yang dibanggakan yang
Maha wujud dan Maha Pencipta!
Ingat wahai
saudaraku…
Ketika kita keluar dari Ramadhan
ini dengan membawa perasaan bangga (aku), sesungguhnya kita gagal berjalan
menuju kepada Allah dengan titel muttaqin!
Semoga di akhir
Ramadhan ini hati kita dibersihkan, jiwa kita disucikan dari NAFSU
RUBUBIYAH DAN VIRUS-VIRUS ANANIYAH sehingga kita keluar dari bulan Ramadhan
yang penuh ampunan dan kasih sayangNya ini benar-benar mencapai maqom taqwa dihadapan Allah yang sesuai dengan
tujuan dari puasa itu sendiri.
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan
atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian
agar kalian bertaqwa” (QS. Al Baqarah [1]: 183)
-------------------------------------------------------------
Catatan
kelam perjalanan “Al Fakir” yang hina
Dalam
Bumi Kerendahan, 26 Juli 2014
“Hidup
Sekali Harus Berarti”

0 comments :
Posting Komentar