Mujahadah
adalah ajang untuk riyadhoh (latihan)
juga merupakan tirakat batin yang harus dilakukan, akan tetapi apa yang harus
dilatih? apakah mujahadah kita hanya sebatas lisan saja? Dan mengapa mujahadah
kita masih belum berefek membuahkan akhlaqul karimah yang mana ending dari mujahadah itu sendiri adalah
akhaqul karimah?
“Fa-ifrodud Tauhidi Ba’da Fanaail Aghyar Huwa Haqqul Yaqiin”
Maka yang
dilatih pertama kali adalah mengosongkan jiwa, kalau dalam alam hikmah
mengNOLkan jiwa, hati harus kosong, hati harus lepas dari kepentingan apapun,
karena hati itu adalah tempatnya untuk ingat kepada ALLAH dan kalau hati ini
sering dilatih maka otomatis hati akan tunduk dan menyadari dirinya tidak ada
apa-apa, tidak ada kemampuan, tidak ada kekuatan.
Karena hati harus
menyadari bahwa dunia tidak bisa memberi manfaat dan tidak membahayakan (ini hakekat) karena yang bisa memberi
manfaat, yang menciptakan bahaya atau tidak, yang menciptakan celaka atau
selamat itu adalah ALLAH karena dunia seisinya adalah makhluk seperti kita.
Tidak ada kemampuan,
tidak ada kekuatan dan tidak ada hal-hal yang lain karena dunia seisinya,
langit seisinya adalah senasib SEMUA
ADALAH CIPTAAN, maka hati yang sadar dia tidak pernah takut dengan siapapun
juga baik makhluk yang bernama rugi atau mencelakakan, maka orang yang hebat
dia tidak pernah takut rugi maupun takut ditipu.
INGAT ORANG YANG HEBAT DIA TIDAK PERNAH
TAKUT DITIPU KARENA DUNIAPUN DICIPTAKAN UNTUK TIPUAN!
“Wamal
Hayaatud Dunya Laibun Wa Lahwun” (QS Muhammad : 36)
Maka kalau
sudah melangkah pasrahkan kepada ALLAH karena hakekatnya tidak ada yang bisa
menipu kecuali sudah diskenario oleh ALLAH sebagai SANG PENCIPTA.
Maka jangan
takut ditipu karena kita hidup didunia ini semuanya adalah tipuan karena hartapun
juga tipuan, berapa orang ingin kaya, setelah kaya malah tertipu dengan dunia.
“Faidza
'Azamta Fatawakkal 'Alallah” (QS. Ali Imron: 159)
Ingat…!!! innad dunya mal-unun (dunia itu dilaknat
oleh ALLAH) maa fihaa (termasuk
apa-apa yang ada didalamnya) illa
dzikrullah (kecuali LILLAH BILLAH).
Rasulullah Saw juga
bersabda: “Sesungguhnya dunia itu
dilaknat, berikut segenap isinya juga dilaknat, kecuali dzikir kepada ALLAH.”
(Al Hadits)
Dan ingat…!!! Sesungguhnya ALLAH menciptakan dunia, dan
dunia itu dilaknat, maka orang yang hebat dia tidak pernah takut untuk ditipu
karena langkah per langkah semuanya adalah tipuan-tipuan dunia, dan
ranjau-ranjau dunia yang siap meledakkan manusia yang santun akan menjadi
anarkis, saudara akan menjadi musuh karena dunia menipunya.
Berapa orang
menjadi lawan ketika bersama-sama berhubungan dengan dunia?
Awas dunia
penuh jebakan dan tipuan, keluarga akan menjadi musuh karena berebut warisan
padahal sama-sama sedarah, kawan akan menjadi hancur karena dunia.
“MAKA ORANG YANG HEBAT HATINYA TIDAK PERNAH
TAKUT KEHILANGAN, KARENA DIA SADAR SEDANG BERJALAN DIATAS SKENARIONYA, SEHINGGA
DALAM PANDANGAN BATINNYA SEMUA TIADA YANG BERMANFAAT DAN MENCELAKAKAN.”
Penipu-penipu
itupun karena skenario, koruptor-koruptor itupun karena skenario bahkan
orang-orang yang jahatpun itu adalah skenario. Dari harta, keluarga, saudara,
teman, uang, pekerjaan, yang sakit akan kelihangan kesehatan, satu per satu
akan meninggalkan dirinya, bahkan kita akan kehilangan diri kita sendiri karena
pada saat sakaratul maut jasad ini
akan kita tinggal terkubur ditanah dan roh akan kembali berpulang kepadaNYA.
Maka dia tidak
pernah merasa takut kehilangan karena hakekat hidup didunia adalah perpisahan
karena semuanya harus berakhir dengan perpisahan. Walaupun sifat basyariah
takut kehilangan tapi batin harus lepas akan ketakutan, ketakutan ditipu, dan ternyata
teman sejati kita adalah “SEPI”, ketika
kita “SEPI” teman sejati itulah mengingatkan
kita, menuntun kita ingat apa yang kita lakukan, ingat apa yang kita perbuat
sehingga 10 tahun 20 tahun yang lampau dengan “SEPI” itulah akhirnya ingat dosa-dosa yang pernah kita buat.
Saat itulah
teman sejati mengingatkan kita dan menuntun menemukan jati diri kita yang
sesungguhnya, diam merenung dikamar, dirumah, dikantor, dijalan tahu-tahu air
mata lepas dari pelupuk mata karena “SEPI”
menuntun kita untuk mengetahui dan mengenal segala kekurangan dan semua dosa
yang pernah kita lakukan.
“SEPI” ternyata mengingatkan kita
dengan pengalaman-pengalaman yang kita lupakan, maka teman sejati adalah teman yang mengingatkan kita akan kesalahan
dan dosa kita dan ternyata yang mengingatkan adalah “SEPI” itu sendiri karena ketika kita tidak berkhalwat tidak menemukan jati diri itu sendiri.
Mengapa saya
miskin… mengapa nasib saya seperti ini, akhirnya “SEPI” itu yang menuntun dan mengatakan itulah kasih sayang ALLAH,
justru kemiskinan, kemelaratan, ujian itu bentuk kasih sayang ALLAH sehingga “SEPI” itu membuat hati ridho kepadaNYA.
INGAT…!!! TEMAN SEJATI ADALAH “SEPI” DAN
ORANG HEBAT BERTEMAN PASTI DENGAN “SEPI”!
Ketika dengan “SEPI” kita tertuntun dan terbimbing
semuanya tidak ada, akupun akan tiada, hidup pun akan tiada, kekayaan inipun
akan tiada karena akan kami tinggal akhirnya dia merasa tiada yang wujud (ada)
kecuali ALLAH, inilah sejatinya teman SELAIN
“SEPI” itu sendiri.
Dengan penuh
kerendahan ditemani oleh “SEPI” dan
dimasukkan kedalam hati pasti akan mengenal kehidupan dan jati diri kita….
INGAT setelah mengenal dan berteman dengan “SEPI”
maka cari teman yang lebih sejati lagi.
Lihat apa yang
dicontohkan oleh Rasulullah Saw, Beliau Berkhalwat
(menyepi) selama 40 hari, banyak merenung karena “SEPI” itulah teman sejati, akan tetapi masih ada teman yang lebih
hebat DARIPADA “SEPI” ITU SENDIRI dan
ternyata “KETIADAAN” itulah teman yang
lebih sejati, karena semua kehidupan bukanlah milik kita melainkan milik SANG
PENCIPTA.
Maka wahai
saudaraku…
Belajarlah
untuk merenung didalam “SEPI”,
walaupun itu 10 menit, bila perlu dalam pososi tenang, berdiri, bahkan
berbaring. Renungkan kehidupan kita, sebentar lagi kita akan kemana?
Ternyata kita
akan dijemput paksa oleh Izroil, alangkah…. ketika kita pulang tidak mempunyai
bekal untuk kehidupan disana, yang akhirnya kita pulang dengan tangan hampa.
Kalau sudah
demikian kita akan tersesat dijalan, maka cari teman “SEPI” walaupun sehari semalam hanya 10 menit, apalagi sambil bermujahadah
dengan membaca doa sholawat:
“ALLOOHUMMA
YAA WAAHIDU YAA AHAD, YAA WAAJIDU YAA JAWAAD, SHOLLI WASALLIM WABAARIK
‘ALAASAYYIDINAA MUHAMMADIW-WA'ALAA AALI SAYYIDINAA MUHAMMAD. FII KULLI LAMHATIW
WA NAFASIM BI'ADADI MA'LUMAATILLAAHI, WA FUYU DHOTIHI WA AMDAADIH.”
Ketika kaya,
pangkat, mula, atau sebaliknya itu bukanlah milik kita, melainkan semua adalah
SKENARIONYA.
Ketika
mengalami ujian itu adalah bentuk kasih sayang dari SANG PENCIPTA, karena semua
adalah permainan dunia, sebab kita harus pulang kembali kepadaNYA.
Secepat inikah
kita akan pulang, padahal kita sudah beranjak usia 40 tahun, 50 tahun, 60 tahun
mungkin kita akan terlambat apabila kita diam.
Saudaraku…
Umur manusia
sangat terbatas, kita tidak tahu sebentar lagi akan pulang, padahal perjuangan
seperti ini dan kami hanya memohon dan mengharap ada generasi penerus
perjuangan yang agung ini yaitu penerus-penerus yang santun, penerus-penerus
yang senantiasa berteman dengan “SEPI”,
yang artinya senantiasa bermujahadah, hatinya “SEPI” dihadapan ALLAH dan merasa tiada.
Padahal umat jiwanya
menjerit, rohnya menanti pejuang-pejuang FAFIRRU ILALLOH yang tulus, yang
dituntun gerak-gerik dan lisannya serta hatinya yang senantiasa dituntun oleh
guru pembimbing rohani.
MAKA “SEPI” JADIKAN TEMAN SEJATI, WALAUPUN
ITU 10 MENIT HARUS DIPAKSA!
Ingat dunia itu
tipuan, orang yang nampaknya menolong itu tipuan, yang tidak pernah menipu
adalah ALLAH, yang tidak pernah menipu adalah Rasulullah Saw.
Maka lepas hati
kita supaya tidak gundah gulana…
Jangan takut
celaka karena didunia ujungnya harus celaka, karena roh dengan jasad harus
dipaksa untuk berpisah yang sakitnya lebih parah daripada 300 sabetan pedang.
Rela, pasrahkan
kepada ALLAH, dan NOL kan semua, kita punya ALLAH, kita punya Rasulullah Saw,
pegang erat-erat.
Ingat…!!! Hidup hanya sementara, sebentar lagi kita
akan pulang meneruskan perjalanan yang selama-lamanya tidak ada batas dan
inilah yang kita renungkan.
Berteman dengan
“SEPI” kita akan menemukan jati
diri, ketika menemukan jati diri bahwa kita tiada arti, hidup ini tiada, yang ada hanya ALLAH Sang
Pencipta.
Oleh karena itu
wahai saudaraku….
Mari kita
berlatih untuk berkhalwat karena
dengan berkhalwat kita akan menemukan
teman sejati yaitu “SEPI” yang akhirnya menuntun kita sehingga menyadari
bahwa semuanya tiada bahkan diri inipun tiada karena kita bukan apa-apa dan
bukan siapa-siapa.
-------------------------------------------------------------
Catatan
kelam perjalanan “Al Fakir” yang hina
Dalam
Bumi Kerendahan, 29 Agustus 2014
“Hidup
Sekali Harus Berarti”

0 comments :
Posting Komentar