Ingatlah wahai saudaraku…!!!
Kita sebagai manusia diciptakan oleh Allah dalam sebaik-baik bentuk dan
juga ditanami iman dan musyahadah,
maka begitu mulianya manusia sebagai makhluk yang lemah tiada daya dan tiada
arti diangkat derajatnya menjadi makhluk yang beradab dan tinggi kedudukannya
disisi Allah sehingga malaikat pun disuruh sujud kepada Adam (manusia).
Sesuai dengan firman Allah dalam surah Al A’raaf 11:
“Tsumma qulnaa lil malaaikatisjuduu
liaadama fasajaduu illaa iblis lamyakun minassaajidiin”
Kemudian Kami
katakan kepada para malaikat: "Bersujudlah kamu kepada Adam", maka
merekapun bersujud kecuali iblis. Dia tidak termasuk mereka yang bersujud
Mengapa manusia dimuliakan? karena saat itu manusia berada di genggaman Allah,
manusia sadar akan TUHANNYA, dia mengatakan
“Qooluu Balaa Syahidnaa - (QS Al A’raaf 172)” ia engkau tuhanku dan kami
menyaksikan.
Inilah karunia agung bagi manusia sebagai pandangan rohani, jiwa manusia
yang suci hanya tertuju kepada TUHANNYA (senantiasa LILLAH DAN BILLAH) yang
disebut dengan “fitrah” karena
pandangan manusia hanya satu, hatinya hanya ada SANG PENCIPTA selain DIA tidak
ada, tidak wujud, karena semua adalah CIPTAANNYA!
Kesadaran jiwa yang mestinya itu tertanam dan tidak hilang didalam hati,
walaupun kita hidup ditengah kehidupan dunia yang merupakan ujian bagi manusia
sebelum bertemu kembali kepada TUHANNYA.
Maka ketika manusia dijadikan khalifah
di muka bumi ini
“Wa idz qoola robbuka lilmalaaikati
innii jaailun fil ardi kholiifah” (QS. Al baqarah: 30)
“Ingatlah ketika
Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak
menjadikan seorang khalifah di muka bumi."”
Ayat ini merupakan awal kehidupan manusia di dunia yang fana’ dimana penuh dengan kepentingan
dan kebutuhan hidup maka roh turun dalam kehidupan dunia ini dibungkus dengan
jasad, sedangkan jasad merupakan rumahnya roh yang ada batasnya karena hanya
merupakan kontrak untuk mengiringi roh dalam kehidupan di dunia ini maka kalau
habis kontraknya maka roh harus kembali kepada TUHANNYA sedangkan jasad asalnya
dari tanah kembali ke tanah dan jasad sendiri adalah bungkus belaka yang harus
kita tinggal, bisa jadi jasad akan menjadi musuh manusia di alam keadilan yaitu
di alam mahsyar.
Ingatlah wahai saudaraku…!!!
Semuanya akan kita tinggalkan, maka apa arti kemewahan, kedudukan,
pangkat, dan kemuliaan di dunia ini bila kita pulang kembali kepadaNYA tidak
kembali dalam keadaan “fitrah”,
semuanya akan menjadi musuh, jasad ini menjadi tape recorder yang akan
membongkar rahasia kehidupan kita di dunia ketika kita melakukan dosa dan
maksiat, melanggar larangan Allah dan meninggalkan perintahNYA maka sadarlah
wahai saudaraku bahwa semua yang kita miliki dan jasad ini akan menjadi musuh
dihadapan Allah YANG MAHA ADIL DAN MAHA MENGHAKIMI.
Sadarlah wahai saudaraku…!!!
Siapakah diri ini? darimana diri ini berasal? untuk apa dihidupkan? dan
akhirnya kemana ketika diri ini meninggalkan dunia yang fana’ ini?
Oh… alangkah ketika kita pulang tidak tahu dan tersesat dijalan, padalah
saat itu kita harus melanjutkan perjalanan suci kembali kepada TUHAN SANG
PENCIPTA YANG MAHA SUCI! dunia akan kita tinggal, anak dan keluarga kita juga
kita tinggal bahkan jasad inipun juga akan kita tinggal, padahal hidup hanya
sekali dan tidak akan bisa kembali!
Ingat saudaraku…!!!
Kita buta tidak tahu jalan menuju kepadaNYA, sehinga penderitaan agung
menimpa diri ini padahal ketika kita di dunia dimana diri ini berbalut dengan
kemuliaan, kekayaan, dihormati dan semuanya serba tercukupi, akan tetapi
mengapa kita pulang, diri ini miskin, buta, compang-camping,
tiada yang menghiraukan lagi, semuanya ditinggal di dunia, ketika pulang semuanya
tiada arti, sehingga kita sangat miskin dan menderita dalam perjalanan suci
kembali menuju kepada TUHANNYA (Allah SWT).
Firman Allah:
“Yauma laa yanfau malun walabanuun
illaaman atalloha bi qolbin salim” (QS Asy-Syu'araa
[26] : 88 -89)
(Di hari itu ketika manusia kembali
pulang kepada Allah/ mati tiada yang manfaat dunianya dan anak-anaknya kecuali
manusia yang sowan kepada Allah dengan hati yang selamat)
Maka selagi ada kesempatan kita harus lari kembali kepada Allah (FAFIRRUU
ILALLOOH) karena kehidupan ini adalah permainan dan senda gurau. PASTI AKAN
KITA TINGGALKAN!
Maka sebelum kita tinggalkan dunia ini kita harus sadar bahwa semuanya
bukan milik kita, kemampuan dan kekuatan yang kita miliki bukan milik kita,
jangankan iman, ibadah, hidup, berkedip dan keluar masuknya nafas itupun bukan
milik kita tapi semuanya dikehendaki oleh Allah (LAA HAULA WALAA QUWWATA ILLAA BILLAH).
Maka apa jadinya ketika kita pulang belum sadar akan hal itu yang kalau
kami sebut dengan NOL!
NOL disini adalah ungkapan kesadaran hanya kepada Allah, karena selain Allah
adalah ciptaan (makhluk), maka apapun makhluk adalah NOL karena wujud
diwujudkan asalnya tidak ada dan diadakan.
Dengan kesadaran itulah bila tertancap dalam jiwa maka hilanglah sifat
ego (ananiyah) dalam jiwa manusia
sehingga hancurlah penyakit-penyakit hati yang ditimbulkan oleh sifat ego
(keaku-akuan - ananiyah).
Maka mutlak jiwa harus sadar kepada SANG PENCIPTA, jiwa harus dikosongkan
dari semua makhluk yang ada hanya kesadaran kepada Allah SANG PENCIPTA.
Dalam dawuh kitab al-hikam :
“Fa ifroduttauhidi ba’da fana’ail
aghyar huwa haqqul yaqiin”
Maka disamping tauhid dan pengetrapan LILLAH BILLAH maka hati harus
dikosongkan, menghapus semua makhluk sehingga hanya sadar semuanya itu adalah Allah,
ketika hidup, mulia, beribadah, bernafas, dan semuanya adalah semata-mata Allah
(NOL), itulah HAQQUL YAQIIN!
Bagaimanakah dengan diri kita? sudah demikiankah atau semuanya kita aku
sehingga suburlah kerajaan ANANIYAH didalam hati kita, sehingga timbullah dalam
diri ini sifat merasa baik, merasa suci, sombong, takabur, bangga dengan diri kita dan suka pamer yang semuanya itu
menjadikan manusia jauh daripada TUHANNYA, ketika kita merasa mampu, merasa
aku, merasa baik, merasa bisa maka saat itulah manusia mengaku menjadi TUHAN,
ini adalah syirik dan Allah tidak
mengampuni dosa syirik.
Ingat saudaraku…!!!
Kita akan pulang kembali kepada TUHAN YANG MAHA SUCI, MAHA ESA, DAN TIADA
SEKUTU BAGINYA. Apa jadinya ketika kita kembali kepadaNYA belum bisa NOL…???
SEKALI LAGI NOL ADALAH KESADARAN
HATI (JIWA) SELAIN ALLAH ADALAH MAKHLUK (CIPTAAN) YANG TIDAK BISA KITA
SEKUTUKAN KEPADANYA DAN SEMUA CIPTAAN (SEGALA SESUATU TIDAK BISA DISANDINGKAN
DENGAN TUHAN, SEMUANYA AKAN BINASA) YANG KEKAL, YANG ADA HANYA DIA!
“Janganlah kamu sembah di samping (menyembah) Allah,
tuhan apapun yang lain. Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia.
Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah. Bagi-Nyalah segala penentuan,
dan hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan”. (QS. Al Qashash : 88)
Bagaimanakah dengan diri kita…???
Maka hilangkan sifat-sifat keaku-akuan, dan menjagakan makhluk (itu
didalam hati, ingat hanya kesadaran hati) sedangkan kita masih menjagakan
ibadah, usaha, sholat kita, amal kita padahal semuanya itu dari Allah SANG
PENCIPTA (kita adalah pelaku sandiwara AGUNG yang hanya melaksanakan
SKENARIONYA sedangkan sutradanya adalah DIA YANG ADA, DIALAH PENGUASA SEJATI…… Allah
SWT).
Ingat wahai saudaraku…!!!
Dalam sejarah, Iblis yang sudah ada di surga itu terlempar dari surga
karena ada sifat “ana khoiru minhu” padahal
surga adalah kekal siapa yang masuk tidak akan keluar akan tetapi ketika di
surga ada pernyataan aku lebih baik maka tertolak! apalagi kita yang ingin naik
ke surga, ingin mulia bersama bidadari ibadah akan tetapi ibadah kita belum
bisa baik, belum bisa khusyu’ dan
belum bisa ikhlas, masih merasa lebih baik daripada orang lain, sebagai guru
merasa lebih baik daripada muridnya, sebagai kyai merasa lebih baik daripada
santrinya, sebagai pimpinan merasa lebih baik daripada bawahannya, ingat semua
itu adalah bagian dari sifa takabur!
Mari kita renungkan wahai saudaraku? pantaskan kita masuk kedalam
surganya Allah ataukah lebih berhak masuk kedalam nerakanya Allah karena ada perasaan
aku yang bercokol didalam hati kita?
“Allah berfirman:
"Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku
menyuruhmu?" Menjawab iblis "Saya lebih baik daripadanya: Engkau
ciptakan saya dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah"” (QS Al
A’raaf: 12)
Ingatkah persitiwa Khudzaifah Al
Yamani menghina sahabat Billal salah
satu dari kekasih Allah dan sahabat Rasul, saat itu guncanglah arsy karena ucapan Khudzaifah Al Yamani yang menghina sahabat Billal dan menyakiti hati Rasulullah SAW, ingat ketika engkau
mengina dan mencaci maki sahabat Billal maka guncanglah arsy karena ucapanmu itu karena kamu memandang Billal hanya dari segi lahirnya tapi Allah memandang dari segi
batinnya.
Maka sahabat Khudzaifah Al Yamani
menuju kerumah Billal, dan berkata
“injaklah diriku wahai Billal”
Ini adalah sebagai bahan renungan kita, menghina orang satu arsy sudah goncang, bagaimana menghina
orang banyak wahai saudara-saudaraku? bagaimanakan dengan diri kita? berapa
kali kita merendahkan orang lain? berapa kali kita menghina orang lain? kadang-kadang
orang datang minta-minta justru malah kita menghardik, bahkan kita sering
menyalahkan dan menghina orang lain, bagaimana dengan keadaan diri kita?
Lalu mengapa manusia dimuliakan oleh Allah? karena manusia kembali kepada
fitrah, sehingga dalam keadaan fitrah manusia memandang “Qooluu Balaa Syahidna” dengan keyakinan dan kenyataan bahwa Allah
sebagi TUHANNYA, dan menyaksikan bahwa semua adalah ciptaan.
Maka ketika hati fitrah saat itu manusia ketika diberi karunia sebagai
pimpinan, diberi kekayaan, pangkat, jabatan dia senantiasa kembali “fitrah” bahwa semua itu miliknya Allah,
dan kembalilah manusia itu dengan menelorkan suatu cahaya kesucian didalam jiwa
sehingga manusia tetap menjadi manusia, walaupun lahir memandang jabatan, lahir
memandang dunia akan tetapi batin menyadari bahwa semua itu adalah milik Allah
karena semua itu adalah permainan, senda gurau belaka dan pasti akan kita
tinggalkan.
Sebentar lagi kita akan pulang, satu detik yang baru terjadi tidak akan
bisa terulang sedangkan satu detik berikutnya tidak menjamin apakah kita masih “Qooluu Balaa Syahidna” atau masih
terpenjara dengan kehidupan dan kepentingan dunia? sehingga hati kita masih terikat
dengan kedudukan, terikat dengan kekayaan, terikat dengan kepentingan, padahal
harus bebas dan harus ditinggal kembali kepada Allah dalam keadaan fitrah.
Bagaimanakah dengan keadaan kita
wahai saudaraku…???
Maka jangan pernah bangga dengan apa yang kita dapat sekarang, karena
sesungguhnya Allah tidak melihat ibadah kita satu detik yang lalu akan tetapi Allah
melihat dan menilai hambaNYA satu detik sekarang, karena tidak ada jaminan satu
detik yang akan datang kita mati membawa iman (khusnul khotimah) atau tidak membawa iman (suul khotimah)!
Dan disaat manusia ingin menonjol dan menampakkan "AKU" nya,
paksa dan latihlah jiwa kita selalu merasa rendah, merasa hina, dan merasa
banyak dosa serta merasa NOL tidak pernah merasa memiliki, sebab kita adalah ciptaaan
bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa dan pasti akan kembali kepadaNYA.
Ingat..!!!
Hanya ada dua kekuatan MAHA
DAHSYAT di dunia ini yaitu “RENDAH” dan “NOL”, maka latih... latih... dan
latih... dalam setiap langkah, setiap berkedipnya mata dan keluar masuknya
nafas kita.
Semoga Allah
memberikan taufiq dan hidayahnya
kepada kita semua sehingga menyadari tentang siapa hakekat diri ini? darimana
berasal? untuk apa dihidupkan? dan akan kembali kemana?
--------------------------------------------------------------
Catatan
kelam perjalanan “Al Fakir” yang hina
Dalam
Bumi Kerendahan, 24 Juni 2014
“Hidup Sekali Harus Berarti”
“Hidup Sekali Harus Berarti”

0 comments :
Posting Komentar