![]() |
| Ilmu Padi : "Semakin berisi semakin merunduk" |
“Orang besar
dibimbing oleh orang besar, orang kecil dibimbing oleh orang kecil, siapa
pembimbingmu saat ini itulah menunjukkan kelasmu saat ini!”
Siapa pembimbing
orang besar itu? Dan siapa pembimbing
orang kecil itu?
Pembimbing orang
besar yaitu selalu membimbing dan mengarahkan untuk menyadari bahwa kita adalah
makhluk ciptaan yang asalnya tidak ada (NOL) sehingga ada (menjadi wujud) dan
ketika diberi amanah kaya, pandai, terhormat, mulia, sehat, miskin, sakit,
terhina, itu hakekatnya semua datang dari ALLAH, maka hati harus menyadari
bahwa semua itu adalah titipan dan bukan milikknya sehingga tiada pernah ada
pengakuan merasa “AKU” sedikitpun, akhirnya dalam hatinya merasa tidak memiliki
(NOL) karena semua datangnya dari ALLAH dan dia merasa rendah apapun manusia
pasti mempunyai kesalahan dan dosa, inilah pembimbing yang besar itu, mampu
membimbing hatinya umat lepas dari penyakit “AKU” yang merupakan raja dari penyakit batin.
Karena orang
yang sudah NOL dan bebas dari penyakit “AKU” tiada acara ketika ia dikenal
maupun tidak dikenal, tiada sedikitpun kebanggan ketika dipuji tiada pula
nampak kemarahan ketika ia dicaci.
Hatinya bagaikan
selembut sutera artinya ia memiliki sifat rahmatal lil a’lamin, kasih
sayang kepada semua makhluk, tiada pernah mencaci maki, menyalahkan,
menggunjing dan merendahkan orang lain, kata-katanya selalu selalu bergelimang
dengan hikmah, menyejukkan jiwa dan pembangkitkan semangat bagi siapa saja yang
mendapatkan petuah darinya.
Ia mampu
merubah perangai tercela menjadi terpuji, mampu menjadikan sifat pemarah
menjadi penyabar, lemah lembut dan kasih sayang, mampu merubah hati yang panas
menjadi dingin seperti air es memadamkan bara api, mampu menjadikan orang yang
asalnya hina menjadi mulia dan mampu menjadikan lupa dengan Tuhannya bisa sadar
kepada Tuhannya.
Mempunyai hati dan
jiwa seperti Rasulullah SAW, dia sangat bijaksana, meluruskan hal-hal yang
keliru menjadi tidak keliru, salah menjadi benar, mengingatkan tanpa menyakiti,
menuntun orang dengan toga kesabarannya, melayani orang dengan jubah kerendahan
hatinya, sehingga iapun sanggup mencetak aklaqul karimah yang seperti
padi semakin berisi semakin merunduk, semakin tinggi ilmunya semakin rendah
hati.
Cara berpakainnya
sangat bersahaja, suaranya sangat lembut serta pelan penuh dengan kesabaran,
sehingga dia tidak pernah mengecewakan orang lain, membuat orang sejuk dan
terhormat apabila berbicara dengannya serta tatapan matanya pun sejuk penuh
pesan perdamaian dan kasih sayang.
Ia gemar
menebar senyuman kepada orang yang mengenalnya dan yang dikenalinya, selalu positive
thinking dan positive feeling terhadap orang lain, dan dia
menempatkan setiap orang adalah inspirasi ilmunya. Hatinya juga sekuat dan
sekeras baja artinya ketika orang itu mendapat ujian yang sangat hebat
sedikitpun ia tiada bergeming sehingga aura kesabaran dan ketabahan memancar
didalam dirinya.
Ketika ia
mendapat cercaan, fitnaan dan hinaan dia tidak bergeming sekalipun, senjatanya
adalah diam dan berdoa semoga ALLAH mengampuni orang yang menghina dan
memfitnahnya sehingga mengubah fitnaan dan hinaan itu menjadi hikmah yang
berbalut mutiara keindahan, dia hanya berucap “Indahnya fitnaan itu seperti
hikmah dituangkan dalam jiwa orang yang mengalami kebuntuan jalan”,
sehingga ia mampu merubah fitnah menjadi hikmah.
Akan tetapi ketika
yang dibimbing malah tumbuh perasaan aku (aku kaya, aku pandai, aku mulia, aku
hafal kitab dan al quran), semakin pandai semakin bangga, merasa benar sendiri. Hatinya
sekeras batu artinya ia memiliki sifat iblis yang merasa unggul (aku),
mudah mencaci maki, menyalahkan, menggunjing serta merendahkan orang lain,
kata-katanya selalu bergelimang dengan fitnah, menjadikan hati panas seperti
neraka dan ketika mendapat fitnah justru dia malah membalas dengan lebih kejam.
Ia termasuk orang yang kecil walaupun yang membimbing itu adalaha seorang
ulamat yang top dan terkenal seantero jagat.
“Begitupula
masalah yang kau hadapi sekarang adalah menunjukkan kelas dan derajatmu saat
ini dihadapan Allah! karena masalah kecil bagi orang kecil, dan masalah besar
bagi orang besar!”
Apa masalah
besar dan masalah kecil itu?
Masalah kecil
selalu memikirkan dunia! masalah besar selalu memikirkan akherat!
Tidak peduli
walaupun seorang presiden kalau urusan kita mengurusi dunia tetap kelas kita
adalah kelas kecil karena dunia itu kecil dan pasti akan kita tinggal!
Akan tetapi
walaupun kita seorang pemulung, tukang becak atau seorang pengemis yang sangat
miskin sekalipun kalau yang dihadapi adalah urusan akherat,dan urusan
membersihkan jiwa dari penyakit aku sehingga hatinya selalu NOL berarti kita adalah
orang besar, karena yang kita hadapi adalah akherat yang lebih besar daripada
dunia.
Ingat saudaraku….!!!
“Orang
besar tidak pernah merasa dirinya besar, akan tetapi orang kecil selalu menggap
bahwa dirinya adalah orang besar!”
Maka cari dan
temui orang yang mempunyai ciri-ciri tersebut, walaupun dia adalah seorang
pemulung, tukang becak atau seorang pengemis! Mintalah petuah darinya, mintalah
bimbingan petunjuk darinya untuk mendapatkan mutiara akhlaqul karimah yang
sangat langkah diakhir zaman ini.
Karena orang besar
itu tidak akan pernah hidup di dalam singgahsana kemuliaan bermahkota keakuan
yang berselimut dengan kesombongan, akan tetapi ia tersembunyi kolong
kerendahan yang dibalut dengan cacian, fitnaan, dan hinaan, sehingga setiap
langkahnya adalah langkah kerendahan bukan langkah kesombongan dan ketakaburan, hatinya selalu NOL tidak menjagakan siapa-siapa kecuali ALLAH SANG MAHA
PENOLONG DAN SANG MAHA PENCIPTA!
*****
Catatan
perjalanan hidup “Al Fakir” yang hina
Dalam
Bumi kerendahan, 14 Juni 2014
“Hidup Sekali Harus Berarti”
“Hidup Sekali Harus Berarti”

0 comments :
Posting Komentar