![]() |
| Biadabnya Manusia! Akibat Ilmu Yang Tidak Bermanfaat |
Ingat wahai
saudaraku…!!!
Ketika ilmu
pengetahuan mudah didapat sehingga manusia menemukan temuan-temuan yang sangat
hebat akan tetapi justru dibalik itu hancurnya dunia ini karena ilmu
pengetahuan yang tiada manfaat, maka alangkah hebatnya dampak negatif dari ilmu
baik itu ilmu pengetahuan, teknologi apabila ilmu tersebut tidak bermanfaat
sehingga dapat merusak kelangsungan hidup umat manusia.
Coba kita lihat
sejenak, banyak tokoh-tokoh yang memiliki ilmu pengetahuan dan teknologi yang
sangat hebat, banyak juga tokoh-tokoh yang dipandang menguntungkan bagi umat,
akan tetapi jika tidak manfaat justru hancur dan kiamatnya dunia ini dari
pikiran dan akal manusia itu sendiri yang mana ilmu-ilmu itu tidak manfaat.
Ingat, ketika ilmu
pengetahuan sangat didambakan dan pelaku-pelaku ilmu disanjung kesana kemari
sehingga manusia menciptakan suatu temuan yang sangat hebat, suatu saat ketika
manusia menemukan materi uranium satu sisi yang semestinya untuk kesejahteraan
umat sebagai tenaga nuklir, tapi satu sisi materi uranium malah menjadi bom nuklir
sehingga bisa membunuh jutaan dalam satu kali ledakan.
Ternyata ilmunya manusia untuk membuat
kiamatnya dunia ini apabila ilmu itu
tidak manfaat!
Begitupula
dengan ilmu agama, walaupun ilmu itu nampaknya kita mulia, disanjung oleh umat
manusia, disana sini semua orang kagum, akan tetapi ingat apabila ilmu itu
tidak bermanfaat justru ini yang akan menjadikan hancurnya kehidupan ini dan
menjadikan manusia semakin jauh dari Allah SWT dan semakin berwatak layaknya seperti
iblis (merasa aku).
“kullu ‘alimin laa yanfa’u bi ilmihi huwa wa
iblisu sawa’”
Semua yang berilmu (baik ilmu agama ataupun
ilmu yang lainnya), akan tetapi tidak bisa menjadikan manfaat, tidak
menghasilkan nilai-nilai positif, maka dia sama saja dengan iblis, bahkan lebih
sesat daripadanya!
Maka alangkah
menyesalnya bila ilmu yang kita miliki itu tiada manfaat!
Bagaimana
dengan kita wahai saudaraku?
Ingat!
Apabila ilmu
itu masih dikuasai oleh nafsu! maka yang berilmu itu akan menjadi jahat, bahkan
yang berilmu agamapun akan menjadi anarkis, mudah menyalahkan dan mudah menghujat
orang lain, bukan malah sebagai petunjuk bagi dirinya semakin merendah dan
penuh banyak dosa.
Inilah dampak apabila hati kita kotor!
Maka mutlak
hati harus dibersihkan dari sifat-sifat kotor dan tercela sampai benar-benar
habis, benar-benar NOL “Attakholli anissifati
mazmumah”.
Kalau
sifat-sifat tercela belum kita hapus, semakin pintar, semakin alim, semakin
pandai justru malah ilmunya ini yang akan menghancurkan umat masyarakat dan
mengajak umat semakin jauh dari Allah SWT.
Ini fenomena ilmu di akhir zaman!
Maka Rasulullah
SAW bersabda:
”Man
yazdad ’ilman lam yazdad hudan, lam yazdad minallaahi illaa bu’dan"
Barangsiapa bertambah ilmunya namun tidak
bertambah hidayahnya, maka ia semakin bertambah jauh dari Allah SWT
Artinya :
Barang siapa
yang bertambah ilmunya akan tetapi tidak menjadikan ia semakin merunduk sehingga
merasa benar dan orang lain dipandang salah dan kecil sehingga hati yang kotor
mempengaruhi kesucian hatinya maka sesungguhnya ilmunya itu tiada manfaat. Akan
tetapi walaupun orangnya tidak berilmu akan tetapi memiliki hati yang rendah
dan merunduk itulah orang yang benar-benar mendapat petunjuk dari Allah.
Lebih-lebih
orang yang berilmu sehingga mendapatkan petunjuk dan hidayah “man tawadhua rofa’a hullah” sehingga
yang dipandang hanya dirinya yang salah sehingga ilmunya bermanfaat menjadikan
petunjuk hati bagi orang tersebut dan orang itu diangkat menjadi kekasih Allah
SWT.
Maka jangan tertipu dengan ilmu pengetahuan
dan teknologi, sekali tidak manfaat akan menghancurkan diri kita dan orang lain
bahkan yang akan menjadikan dunia ini kiamat!
Begitupula ilmu
agama apabila hati kita kotor sehingga ilmu agama itu tidak manfaat, menjadikan
ilmu agama itu untuk ajang debat, mengkafirkan dan menyalahkan orang lain!
Wahai saudaraku…
mari kita koreksi keadaan kita…
Berapa orang
yang telah kita hujat?
Berapa orang
yang kita hina?
Sehingga
mengunggulkan diri kita sendiri akhirnya diri kita merasa suci dan mulia bukan
malah menjadikan ilmu agama itu petunjuk untuk hati menjadi lunak dan rendah.
Maka sejatinya orang
yang diberi petunjuk dan dipilih oleh Allah orang itu tunduk, bersujud dan
menangis, sehingga dia tidak sempat dan tidak pernah melihat cacat dan hinanya
orang lain, tapi dia hanya melihat dirinya sendiri.
"Sesungguhnya orang yang beriman itu,
apabila disebutkan nama Allah, akan bergetar hati mereka. Apabila dibacakan
ayat-ayatnya (Al-Quran), maka akan bertambah keimanannya.” (QS Al-Anfaal : 2)
“Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha
Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis.”
(QS Maryam : 58 )
Bagaimana
dengan ayat-ayat diatas itu wahai saudaraku…???
Semestinya dengan
ayat itu menjadikan petunjuk bagi kita untuk tunduk, tidak berani mengangkat
kepala, dan merasa rendah-serendahnya, bahkan banyak menangis, sehingga hati
kita selalu merasa rendah, merasa tiada arti, hati kita rindu dengan Sang
Pencipta Alam dan ketika membaca sholawat hati kita rindu bertemu Sang Kekasih
(Rasulullah SAW), semakin hari kerinduan itu semakin terasa dan air mata
kerinduan pun tiada bisa terbendung.
Inilah hakekat kekasih Allah dan Rasulullah
SAW!
Dia tidak
pernah melihat cacat dan hinanya orang lain, tapi dia senantiasa melihat hina
dan kerendahan dirinya sendiri, akhirnya teralun untaian sholawat di lisannya
yang penuh dosa seiring kerinduan muncul didalam hati.
YAA SAYYIDII… YAA ROSULALLOOH… YAA SAYYIDII…
YAA ROSULALLOOH… YAA SAYYIDII… YAA ROSULALLOOH…
Pernahkah kita membaca
sholawat sambil menangis?
Pernahkan kita
mujahahah sambil merasa dosa tidak pantas dihadapan Allah?
Ingat wahai
saudaraku..!!!
Hidup kita
terbatas, semakin hari semakin berkurang umur kita, alangkah ruginya kita
apabila hati masih jahat dan penuh dengan sifat keaku-akuan! Sehingga semakin
hari bukan malah semakin rendah dan tunduk akan tetapi malah semakin kuat dan
mengakar sifat sombong dan takabur
kita dihadapan Allah, padahal perasaan ini akan dibongkar dihadapan Allah
kelak.
Ingat…!!! ALLAH
ITU SUCI, ALLAH ITU ESA, ALLAH TIDAK MAU DISEKUTUKAN DENGAN MAKHLUK APAPUN
JUGA, akan tetapi bagaimana kita pulang membawa perasaan “aku” dihadapan Allah?
Inilah fenomena
yang terjadi saat ini..!!!
Semakin banyak
dan melimpah ilmu baik itu ilmu pengetahuan dan ilmu agama malah semakin tidak
manfaat dan menjauhkan diri kepada Allah.
Maka ilmu yang
manfaat dia sama sekali tidak gentar dengan siapapun juga walaupun likulli syaiin sababa, walaupun pistol
bisa membunuh akan tetapi dia tidak takut akan pistol itu yang dia takuti
adalah yang memegang pistol itu.
Begitupula
orang yang sudah mendapat manfaat dari ilmunya, dia tidak takut dengan apapun
juga walaupun dia kaya, dia tidak takjub dengan kekayaanya akan tetapi dia
takjub dengan yang memberi kekayaan itu sehingga didalam hatinya tiada
pengakuan sedikitpun karena ia sadar bahwa ia bukan apa-apa dan bukan
siapa-siapa.
Inilah hakekat tauhid, hakekat iman, dan
hakekat ma’rifat itu!
Orang itu
memiliki keyakinan yaitu khusnul yaqin (khusnodhon Billah) sehingga dia timbul pernyataan bahwa semua itu
datangnya dari Allah, dan orang yang diberi kekhususan didalam imannya, dia
mengalami kemajuan baik itu kemajuan lahiriyah atau kemajuan moral atau
sebaliknya, walaupun dia mengalami kemajuan dan kemunduran pandangannya tidak
pernah berubah yang ada adalah hanya positive
thingking dan semua adalah kasih sayang dari ALLAH ini adalah orang yang
khusus.
Kenyataannya
orang-orang yang penuh dosa diangkat oleh Allah, dan banyak kekasih-kekasih
Allah diangkat, banyak orang-orang bodoh dicintai sehingga dicintai oleh Allah,
banyak orang-orang rendah seperti sampah akan tetapi Allah mengangkat
derajatnya.
Berbeda dengan
orang pada umumnya ketika ia terangkat dia bersyukur akan tetapi ketika jatuh
inilah yang berubah sehingga hilang sangka baiknya kepada Allah, kalau diatas
bilang Alhamdulillah, dan ketika
jatuh dia bila innalillah (Allah
tidak sayang padaku), oleh karena itulah ketika seorang hamba itu jatuh, sekali
tempo seperti malaikat sekali tempo seperti setan (hasud).
Bagaimana
posisi kita wahai saudaraku?
Maka tanamkan perasaan rendah dan dosa dimanapun berada,
merasa tiada daya (NOL perasaan aku), sehingga satu langkah kita berjalan, satu
hembusan nafas yang kita keluarkan, satu kedip mata kita lakukan dan satu ucap
kata yang kita keluarkan benar-benar bisa bermanfaat dan berarti sehingga
menjadikan nilai pengabdian kita dihadapan Allah SWT.
“Dan
aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi
kepada-Ku.” (QS Adz Dzaariyaat : 56)
Semoga Allah
meridhoi langkah perjalanan hidup kita sehingga menjadikan ilmu yang kita terima menjadi bermanfaat, karena
hidup hanya sekali maka harus berarti.
...
Catatan
kelam perjalanan "Al Fakir" yang hina
Dalam
Bumi Kerendahan, 17 Juni 2014
“Hidup
Sekali Harus Berarti”
----------------------------------------------------------------------
Dirangkum dari kajian Pengakuanku Sebagai Tuhan Edisi 133 :
----------------------------------------------------------------------

0 comments :
Posting Komentar