Hidup di dunia ini merupakan suatu
perjalanan singkat untuk melanjutkan perjalanan suci kembali pulang kepada ALLAH,
maka apa yang kita cari di dunia ini, apa yang kita perbuat di dunia ini, sesungguhnya
merupakan bekal untuk menentukan sukses dan tidaknya perjalanan suci itu,
karena di dalam undang-undang Al Quran surat Adz –Dzariyat ayat 56:
“Dan tidak aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk mengabdi kepadaKU”
Ayat ini sudah sering kita baca
dan kita dengar akan tetapi mempraktekkan surat ini yang harus kita buktikan
dan ini ada sesuatu yang harus kita ketahui bahwa kita mengabdi kepada siapa? sedangkan
orang mengabdi harus tahu dan kenal kenal kepada yang di abdi, karena tidak
akan bisa mengabdi dengan benar sebelum kita mengenal siapa yang kita abdi,
lalu bagaimana kita bisa mengabdi kepada ALLAH selagi kita belum mengenalnya,
sementara kita hanya kenal asma padahal yang kita sembah adalah dzatnya (hakekat) ALLAH sendiri? apa
mungkin kita bisa menyembah ILLALIYA’BUDUN
selagi kita belum LILLAH (karena ALLAH) dan BILLAH (sebab karena ALLAH)? sedangkan
orang yang mengenal kepada ALLAH itulah yang disebut wushul (sampai) atau dalam
bahasa agama dia sudah ma’rifat
(kenal) kepada ALLAH, tapi bagaimana dengan kita?
“Dan tidaklah AKU (ALLAH) memerintah kepada kalian, melainkan menyembah
kepadaKU dengan setulus dan semurni menyembah” (QS. Al-Bayyinah : 5)
Maka mutlak bagi kita untuk wajib
mengenal dan menemukan ALLAH di dunia ini, agar perjalanan sesingkat ini tidak
salah tujuan dan tidak tersesat di jalan, karena kita adalah ciptaan maka kelak
harus kembali kepada sang pencipta,, karena semua makhluk yang ada pokonya
selain ALLAH adalah makhluk (ciptaan) walaupun bentuknya itu abstrak seperti bahagia,
sakit, menderita, kenikmatan atau yang berhubungan dengan alam rohani misalnya
; surga, neraka, bidadari, siksaan, pahala, dosa dsb.
Karena semua itu adalah makhluk dan
harus disadari bahwa semua makhluk adalah asalnya tidak ada, tidak mempunyai
kekuatan, tidak mempunyai kuasa, tidak hidup. Maka alangkah terkecamnya kita
sudah tahu apa-apa selain ALLAH itu makhluk tidak wujud, lemah, tidak memiliki
kekuatan, tidak memiliki kemampuan masih diandalkan?
Kita ikhtiar sehingga sukses
akhirnya bangga dengan ikhtiar kita!
Kita ibadah sehingga kita mulia
akhirnya bangga dengan ibadah kita!
Kita mujahadah sehingga tujuan
kita terpenuhi akhirnya bangga dengan mujahadah kita!
Kita bisa menangis sehingga dekat
dengan ALLAH akhirnya malah kita banggakan dan kita andalkan!
Inilah yang terkecam,
mengandalkan makhluk! tidak boleh sedikitpun ada makhluk selain ALLAH!
Lalu apakah kita bisa ma’rifat? secara syariat kita bisa akan tetapi secara hakekat semua itu tidak ada
yang bisa yang bisa hanya dia yang bisa mengenalkan kepada kita (ma’rifat), maka yang kita cari tidak
akan bisa kita miliki kecuali wadah itu harus kita bersihkan dulu, karena
kekuatan yang suci itu tidak mau disekutukan dengan yang lain karena dia yang MAHA AHAD tidak bisa disandingkan dengan
siapapun juga
Ingat wahai saudaraku…!!!
Qolbun (hati) ini yang menentukan sebagai wadah untuk mengenal ALLAH,
disini mengandung arti bahwa walaupun akal tempatnya makhluk akan tetapi hati
tidak boleh ada makhluk selain ALLAH, harus kosong, harus bersih, harus NOL
dari segala makhluk.
Maka hati harus bersih dari
sifat-sifat tercela (iri, dengki, hasud, pamer, ujub, sombong) sehingga bisa ma’rifat kepada ALLAH serta tanamkan
sesuatu selain ALLAH adalah hijab (makhluk),
Dan ingat wahai saudaraku…!!!
Rajanya penyakit batin itu adalah "AKU"!
(aku mulia, aku suci, aku hebat, aku berkuasa, aku kaya,dsb), maka dari itu
hati harus dibersihkan, dikosongkan, di NOL kan, walaupun air mata jangan
diandalkan harus murni dan ketika merasa murni harus di tenggelamkan lagi
sehingga benar-benar bersih, benar-benar NOL tidak ada apa-apa selain ALLAH
MAHA SUCI!
Walaupun likulli syaiin sababa (semua ada sebab akibat) akan tetapi sebab
akibat itu semua datangnya dari ALLAH! ingatkah dalam pembahasan sebelumnya, 1
obat bisa menghantarakan kita kepada nerakanya ALLAH!
Berapa kali kita menjagakan
selain ALLAH? menjagakan sholat, ibadah, haji, mujahadah? sedikit ada keinginan ingin mulia saat itu hancur
derajatnya dihadapan ALLAH, apabila hati sudah bisa seperti itu inilah kekasih
dan orang khusus dihadapan ALLAH dan orang yang sudah NOL dia tidak butuh
terkenal dan dikenal karena dia sadar bahwa semua itu adalah makhluk,
terkenalpun makhluk tidak dikenalpun juga makhluk, mulia adalah makhluk, juga
adalah makhluk, ia benar-benar sadar didalam hatinya bahwa hanya DIA yang Ahad tidak bisa disandingkan dengan
siapapun juga ALLAH Sang Maha Segala-galanya.
Sehingga ketika ia bergelimang
dengan kemuliaan, bergeliman dengan ibadah, dan sekalipun bergelimang dengan
cacian, hinaan dan fitnaan, akan tetapi ia semakin tenggalam dalam label “aku
bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa” NOL tidak ada pengakuan sedikitpun
dan semua disandarkan dihadapan ALLAH SWT!
Karena dirinya sadar bahwa
dirinya bukanlah apa-apa dan bukan siapa-siapa, sesuai dengan Al Quran:
“Sesungguhnya Aku ini adalah ALLAH,
tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat
untuk mengingat Aku” (QS. Thaahaa [20]: 14)
INGAT, SELAMANYA AKU ITU TIDAK PERNAH ADA SEBAB ADANYA AKU KARENA
TIMBULNYA RASA!
Sebagai ilustrasi:
Ada mobil mewah bernopol RI 1,
tiba-tiba mobil yang bernopol RI 1 parkir didepan rumah Si Fulan, apakah berani
Si Fulan mengaku bahwa itu adalah mobilnya walaupun mobil bernopol RI 1 itu
parkir didepan rumah Si Fulan? Jawabnya tentu tidak! sebab ia tidak merasa
memiliki yang merasa dan berhak memiliki mobil itu adalah Pak Presiden, kalau
Si Fulan pasti ia bisa dipenjara, karena mobil bernopol RI 1 bukan miliknya
tapi diaku bahwa Si Fulan yang memiliki mobil bernopol RI 1.
Ilustrasi ke 2:
Suatu saat ada sepasang suami
istri menikah akan tetapi bertahun-tahun masih belum mempunyai keturunan
akhirnya sepasang suami istri itu memutuskan untuk mengadopsi seorang anak perempuan
dari ibu fulan saudara salah satu pasangan suami istri tersebut.
Hari demi hari, bulan demi bulan,
tahun berganti tahun, anak adopsi itu tumbuh dewasa dan menjadi seorang anak
remaja yang cantik , suatu saat di salah satu pertemuan ada seseorang
menanyakan kepada sepasang suami istri tersebut bertanya “Itu anak bapak ya? Cantik sekali seperti istri bapak ya”
Jawaban dari bapak anak itu “iya, itu anak saya pak” dan ketika
bilang bahwa itu adalah anak saya didalam hatinya sadar bahwa sebenarnya anak itu
adalah bukan anak kandungnya, tapi anak dari ibu fulan yang dia adopsi.
Inilah ilustrasi gambaran hakekat
ingat itu, mulut berbicara akan tetapi hati sadar bahwa itu sebenarnya bukan
miliknya.
Begitupula ingat kepada ALLAH, kita
yakin bahwa semua dunia seisinya adalah ciptaan dan miliknya ALLAH (kaya, pandai,
mulia, bahkan keluar masuknya nafas kita semuanya itu milik ALLAH), maka yang berhak untuk mengaku semuanya hanya ALLAH!
karena jelas “Sesungguhnya Aku ini adalah ALLAH, tidak ada Tuhan (yang hak) selain
Aku” .
Akan tetapi bagaimana dengan
kita?
Ketika kita kaya, kita mengaku
bahwa itu adalah kekayaan saya!
Ketika pandai, merasa sebab pandai
hasil usaha keras belajar saya!
Ketika mulia, merasa dari
kedudukannya sehingga menjadi mulia!
Ketika bisa hidup, bernafas dan
melakukan aktifitas merasa sebab dari dirinya!
Maka sedikit merasa aku, penjara
tempat kita dan penjaranya ALLAH itulah NERAKA!
ASTAGHFIRULLOH HAL ADZIM….TERNYATA
KITA ADALAH PENIPU-PENIPU TUHAN!
Inilah kejahatan rohani terbesar
bagi manusia dan tidak pernah kita bongkar sebelumnya, merasa memiliki dan
diaku semua, kita tidak sadar bahwa selama ini kita menyekutukan ALLAH dengan diri
kita sendiri, semua diaku, akhirnya secara tidak sadar timbullah “PENGAKUANKU SEBAGAI TUHAN”, kita kaya,
merasa kaya, ketika pandai, merasa pandai, ketika ahli ibadah, bahwa aku adalah
orang suci yang ahli ibadah.
Maka keluarlah dari sifat-sifat aku-mu
(kaya, pandai, mulia, suci) bila ingin hidup selamat dunia dan akherat.
“UKHRUJ AUSHOOFI MIN SIFATIKAL
BASYARIYYATIKA…”
Seperti ilustrasi ilustrasi
diatas tadi, penempatannya didalam hati, ketika kita punya mobil mewah katakan
itu mobil saya, akan tetapi hati jangan sekali-kali merasa memiliki karena
semuanya adalah titipan sebab ketika kita mati semua akan kita tinggalkan.
Ada sebuah kisah hikmah dari
sahabat Rasulullah SAW:
Suatu saat Sayyidina Umar RA yang berwatak keras dan ingin membunuh Rasulullah
SAW tunduk sehingga masuk islam hanya gara-gara membaca Al Quran surat Thoha 14
seperti diatas, ini merupakan rahasia besar yang harus kita gali, karena begitu
tinggi dan dalam surat Thoha 14 tersebut.
Semuanya harus disandarkan kepada
ALLAH, artinya semua harus tiada (NOL) karena harus ada akunya ALLAH dan akunya
ALLAH harus hidup dihatinya manusia dan ketika akunya ALLAH hidup dihatinya
manusia maka otomatis semua harus hancur, fana’, kosong, nol kecuali hanya ALLAH,
saat itulah baru dikatakan manusia ingat kepada ALLAH dan tidak akan ingat
kepada ALLAH selagi hati masih merasa aku, maka harus dilatih perasaan NOL itu
sehingga benar-benar merasakan bahwa dirinya adalah rendah, bodoh, berlumuran
dosa.
Ingat…!!!
Ada setitik perasaan aku maka
selamaya tidak akan sadar kepada ALLAH!
Ada setitik perasaan aku maka
manusia akan hancur kedudukannya dihadapan ALLAH!
Sedangkan syaratnya bertemu
dengan ALLAH jangan ada syirik, harus
murni dan suci, jangan sekali-kali menjagakan air mata dan mujahadah kita,
harus NOL dari menjagakan selain kepada ALLAH!
Dan ingat…!!!
Timbulnya kekacauan, perpecahan,
sampai pertumpahan darah sebab merasa aku! saat itu dia syirik dihadapan ALLAH,
menyekutukan ALLAH dengan keakuannya dan ternyata ketika aku tidak ada itulah
NOL!
Maka makhluk apapun harus NOL,
kalau tidak NOL dirinya adalah sumber kerusakan, sumber kesyirikan karena
manusia merasa ada, merasa mampu, dan merasa kuat, maka untuk menemukan itu
harus mujahadah, karena semua makhluk tidak manfaat dan tidak membahayakan
karena makhluk itu tidak ada yang wujud, mutlak harus NOL!
Segala sesuatu selain ALLAH (sepi dari ALLAH) adalah PALSU “ALAA KULLU
SYAIIN MA KHOLALLAAHU BAATHIL” dan Segala sesuatu rusak hancur kecuali ALLAH "Kullu
Syai In Haalikun Illaa Waj Hah" karena semuanya adalah ciptaan dan tidak
ada, hancur dan binasa.
YAA ALLAH, YA TUHAN KAMI….
Siapakah KAU? apakah KAU ada
didalam diriku? sesuci inikah diri ini ? apakah kau dihatiku? apakah juga
sesuci inikah hati ini? KAU yang suci adalah hanya sebuah nama, maka
perkenankanlah kami YAA ALLAH untuk mengenal dibalik asma Agung itu.
Kusebut AsmaMU, kuingat asmaMU
tapi aku tidak tahu siapakah diriMU, sehingga kuucap ALLAHUAKBAR, ALLAHUSSOMAD, ALLOHU KHOLAQOSSAMAWAA TI WAL ARD tapi
tetap aku tidak tahu, Butakah diriku ini? Kusebut asmaMu tapi lupa, ku ingat
asmaMU tapi lupa, kusembah DIRIMU tapi aku tidak tahu.
Apa arti diri ini yang tiada
arti, tidak ada apa apa dan bukan siapa siapa? tapi mengapa harus ada? mengapa
harus hidup? sangat dholim diri ini
bila harus ada dan harus hidup! maka lenyapkanlah YAA ALLAH semuanya ini
kembalikanlah kami kepangkuanMU agar aku tahu tentang diriMU karena yang tau
KAU adalah KAU, yang ingat KAU adalah KAU, yang melihat KAU adalah KAU dan
semuanya ini ada digenggamanMU karena semuanya adalah IRODATMU (NOL).
--------------------------------------------------------------
Catatan kelam perjalanan Al Fakir
yang hina
Dalam Bumi Kerendahan, 10 Juni
2014
“Hidup Sekali Harus Berarti”

0 comments :
Posting Komentar