Ingat wahai saudaraku…!!!
Sesungguhnya bukanlah kemampuan yang dapat
mengantarkan seseorang kenal kepada Tuhannya dan bukan pula ilmu dan amal yang mampu
menyampaikan seseorang kepada ALLAH SWT, karena sesungguhnya apapun bentuk kemampuan
ataupun kehebatan seseorang, setinggi dan semulia apapun suatu ilmu dan amal,
sedikit pun tak mampu memberikan manfaat dan kemuliaan yang menjadikan seseorang
bisa kenal kepada Tuhannya, karena sejauh apapun ilmu berlari, sebesar apapun suatu
amal, seampuh apapun suatu doa tetap tak akan mampu menembus irodah (kehendak)
Tuhan ALLAH SWT, sebab irodah-Nya tidak digantungkan oleh sebab baik dan
buruk makhluk-Nya, maka bukanlah ilmu dan amal yang mampu menyampaikanseseorang
untuk menemui Tuhannya kecuali hanya kehendak DIA (ALLAH) sendiri yang
berkehendak menemui hamba yang notabene
adalah ciptaan-Nya.
“IDZAA FATAKHA LAKA WIJHATAN MINAT-TA’ARUFI FALAA TUBAALI MA’AHAA ‘AN
QOLAA ‘AMALUKA….”
“Apabila Tuhan membukakan
bagimu jalan untuk kenal (ma’rifat) kepada-Nya, maka jangan perdulikan amalmu
yang masih sedikit, sebab ALLAH tidak membukakan jalan sebab banyaknya ilmu dan
amalmu, kepandaian dan kehebatanmu, melainkan DIA (ALLAH) sendiri yang
berkehendak memperkenalkan diri-Nya kepadamu”(Al-Hikam)
Maka jangan sekali-kali engkau bersandar hati kepada ilmu dan amal,
kemampuan ataupun kepandaian, didalam menempuh jalan untuk ma’rifat kepada-Nya,
karena hanya akan membuatmu semakin jauh dari Diri-Nya, sebab tak mungkinTuhan bisa
ditemui dengan ilmu maupun amal, kehebatan maupun kepandaian, karena semua itu adalah
ciptaan yang sejatinya tidak ada, tidak wujud, dan tidak mempunyai kehendak mendatangkan
kebaikan dan keburukan, kecuali hanya DIA ALLAH SWT Sang Pencipta Alam Semesta,
yang menciptakan kebaikan dan keburukan.
“KHOIRIHI WASYARRIHI MINALLOHI TA’ALA”(segala baik dan buruk ada di Tangan-NYA)
Maka tidak mungkin suatu ciptaan bisa menemui Yang Maha Pencipta, dan tak
mungkin sesuatu yang tidak ada bisa berkuasa, mampu menciptakan kebaikan dan mampu membuat kemudhorotan,
lalu bagaimakah jalan bagi si hamba untuk menemui Tuhannya serta mengenali dan tahu
kepada yang disembah?
INGAT….!!!
“TUHAN MAHA ESA, MAHA WUJUD, MAHA SUCI DAN MAHA TINGGI TIDAK MUNGKIN
DAPAT DITEMUI DAN DIKENALI, KECUALI DIA SENDIRI YANG BERKEHENDAK INGIN DITEMUI
DAN DIKENALI”
Maka sikap pertama yang harus dilakukan si hamba ialah tetap beristiqomah,
bersungguh-sungguh di dalam riyadhoh-riyadhoh sesuai apa yang telah dibimbingkan
oleh guru mursyidnya, bermujahadah,
berdepe-depe, menangisi dosa, merasa rendah di hadapan Tuhannya ALLAH SWT, dengan
begitu maka ALLAH akan memberikan jalan baginya.
”Dan orang-orang yang
berjihad bersungguh-sungguh untuk mencari keridhoan KAMI (ALLAH), maka akan KAMI
tunjukkan kepada mereka jalan-jalan KAMI”(Qs. Al-‘Ankabut:69)
“AL MUJAHADATU
MIFTAHUL HIDAYAH LAA MIFTAAHA LAHAA SIWAAHAA”Mujahadah adalah kuncinya HIDAYAH,
tidak ada kunci untuk memperoleh hidayah selain mujahadah (kitab IHYA, hal 39)
Dan yang kedua yang paling pokok bagi si hamba ialah benar-benar menyadari
di dalam hati bahwa segala sesuatunya tergantung sepenuhnya apa yang menjadi kehendak
Tuhan. NOL dari segala sesuatu selain Tuhan, tidak ada rasa kemampuan apa-apa,
tidak ada rasa berilmu dan tidak ada rasa berkeinginan apa-apa, hanya pasrah menerima
ketentuan yang ada, menyadari bahwa dirinya hanyalah ciptaan, yang hakekatnya tidak
ada dan tidak mempunyai kemampuan apa-apa dan perasaan ini harus benar-benar tertancap
didalam hati bukan sekedar hanya mengerti diakal saja.
Jangankan untuk sadar bisa mengenal Tuhannya, berkedipun dia tak mampu kalau
tanpa kehendak-Nya, maka pasrahkan sepenuhya kepada Tuhannya, dihancurkan ya hancur,
dibuat mulia ya mulia, karena sesungguhnya sadar ataupun tidak sadar, khusyu’
ataupun tidak khusyu’, syurga ataupun neraka,
dikenali ataupun tidak dikenali, itu semua tak lepas dari tangan Sang Tuhannya
yang selalu dia cintai dan dia rindui, maka semuanya dikembalikan kepada TuhanNya
ALLAH SWT, dan dia menerima segala ketentuan yang ada, asalkan itu datang dari Tuhannya
yang Maha Wujud dan Maha Esa, pandangan hatinya tidak melihat kepada pemberian sadar
ma’rifat dan tidaknya, namun yang dilihat hanyalah satu, itu Tuhan.. itu
Tuhan (ALLAH SWT), sehingga sedikitpun tidak mengandalkan kemampuannya, tidak mengandalkan
ampuhnya suatu doanya dan tidak terpengaruh oleh ilmu serta air mata kerendahannya,
karena menyadari bahwa semuanya itu tidak berarti apa-apa kehendak dari Sang
Pencipta Yang Maha Esa, karena DIA ALLAH adalah pemain/sutradara tunggal, tidak
mungkin bisa ditemui dan dikenali, kecuali DIA sendiri yang memperkenankan Diri-NYA untuk ditemui dan
dikenali oleh semua makhluk ciptaan-Nya.
“LAA YAKUUNUL FADHLU ‘ILLAL LILQULUUBIL
MUNKASIROTIL MUTA’ARRIDHOTIL-LINNAFAHAATIL ‘ILAHIYYATI”
“Fadlol ALLAH SWT (kehendak maghfiroh,
taufiq, hidayah, inayah, rohmat, dsb) tidak akan di berikan atau diturunkan kepada
siapa saja, kecuali kepada hati yang sungguh-sungguh meratap, penuh dosa, penuh
kelemahan, pasrah, menghadang pertolongan ILAAHIYAH)” (Taqriibul Ushul 217)
Saudaraku, mari sejenak kita bercemin pada
diri kita sendiri….
“…ALLAHU LINUURIHII MAY-YASYAA’…”
”ALLAH membimbing kepada cahayaNya siapa
yang DIA kehendaki”(QS. An-Nur : 35)
Saudaraku…!!!
Mungkinkah ALLAH sebagai Tuhan Yang Maha Suci,
Maha Wujud dan Maha Mulia akan menemui dan memperkenankan diri kita untuk sowan
datang keharibaan-Nya, sedangkan hati kita masih menyimpan iri, dengki,
benci dan dendam kepada sesamanya?
Mungkinkah Tuhan akan mencintai diri kita,
sedangkan ucapan dan tingkah laku kita masih sering membuat sakit orang lain
dan senang menabur fitnah kemana-mana?
Mungkinkah ALLAH akan mencintai diri kita,
sedangkan kita punya banyak cacat kepada masyarakat, kepada kedua orang tua,
kepada anak dan istri?
Dan apa mungkin Tuhan akan bertajalli menemui diri kita, sedangkan
di hati kita masih banyak tersimpan keaku-akuan diri, merasa mulia dan merasa terhormat
dan merasa penuh dengan kesucian?
Maka turunkanlah kedalam hati wahai saudaraku, tenggelamkan hati kita kedalam
samudera Tauhid-Nya, NOL kan hati kita dari perasaan aku (aku bisa, aku mulia,
aku kaya, aku berkuasa, aku hidup, aku berkehendak dsb), karena sedetik kita
ada perasaan aku ya detik itu juga kita terlempar dari wilahNya, karena ALLAH
SUCI DAN TIDAK MAU DISEKUTUKAN DENGAN MAKHLUK APAPUN JUGA.
Yang terpenting mari kita jadikan segala kekurangan
kita itu sebagai alat untuk semakin mendekat dan semakin merendah dihadapan-Nya
dan jangan pernah berputus asa, tetap sabar dan menguatkan langkah di dalam menempuh
jalan menuju kesadaran diri kepada ALLAH SWT WA ROSULIHI SAW.
Semoga kita semua dirahmati dan diridhoi oleh
ALLAH SWT
Aamiin…
Ditulis oleh Omyang Jinggo
03 Juni 2014

0 comments :
Posting Komentar