Hati tetap fitrah, akan tetapi mengapa tidak ada yang pernah
menggali? tapi masalah otak, digali dan diseminarkan? sekarang otak menjadi
idola, alam logika kita agung-agungkan, Masalah otak mulai gencar di
seminarkan, baik otak kiri, otak kanan, mau maupun otak tengah. akan tetapi
masalah hati? mengapa tidak ada yang pernah menggali? dimana hati tempat sebuah
kedamaian dan tempat sebuah kesucian. Ironinya pelaku-pelaku yang menggali
masalah otak tersanjung dan disanjung, bagaikan pahlawan dalam kehidupan
didunia ini, Sedangkan pelaku-pelaku pembersih hati dan jiwa tenggelam dan
ditenggelamkan.
Ada fenomena apa dalam kehidupan
ini?
Masalah otak mulai
gencar di di seminarkan,baik otak kiri, otak kanan, mau maupun otak tengah,
akan tetapi masalah hati? mengapa tidak ada yang pernah menggali? dimana hati
tempat sebuah kedamaian dan tempat sebuah kesucian.
Ironinya pelaku-pelaku
yang menggali masalah otak tersanjung dan disanjung, bagaikan pahlawan dalam
kehidupan di dunia ini, sedangkan pelaku-pelaku pembersih hati dan jiwa
tenggelam dan ditenggelamkan.
Ada
fenomena apa dalam kehidupan ini?
Abad 21 merupakan abad
terberat dan terhebat, kecanggihan teknologi tidak bisa dibendung dan dihindari
lagi, pegeseran dari makhluk nomaden menuju makhluk modern sudah terjadi bak
jamur yang tumbuh subur, tak terelakkan lagi pergeseran nilai Ketuhanan sudah
mulai nampak terjadi, banyak orang sudah mulai eksodus dari ketauhidan menuju
kepada mengagung-agungkan akal dan logikanya, ini sudah mulai terbukti,
paham-paham kapitalis dan duniawi sudah meracuni hati umat manusia, sehingga
semua serba pehitungan tanpa mengindahkan hukum dari Tuhan.
Pada situasi saat ini
kegalauan, kegelisahan, rasa cemas mencekam, tiada lagi titik perdamain, alam
semakin tidak bersahabat, bencana tejadi dimana-mana baik bencana alam maupun
bencana kemanusiaan, karena manusia sudah kehilangan jati dirinya sehingga
manusia bukan berjiwa sebagai manusia lagi akan tetapi manusia yang anarkis,
buas seperti serigala haus dengan darah mangsanya, hukum rimba terjadi
dimana-mana, siapa yang kuat dialah pemenangnya, sehingga seorang berani
membunuh saudaranya, ayah bahkan ibunya sendiri. perzinaan dilakukan
terang-terangan, orang amanah dituduh berkhianat, sedangkan orang yang khianat
diberi amanat.
Tiada lagi suatu
penerang jiwa, dan penyejuk hati, karena manusia bukan lagi sebagai hamba akan
tetapi manusia telah menjadi Tuhan-Tuhan baru yang bermunculan dimuka bumi.
Merasa kuat, merasa berkuasa, bahkan merasa memiliki, sehingga sifat “AKU”
mendominasi dan kebodohan hati menjadi dominan, maka inilah pertanda
detik-detik hancurnya dunia akan terjadi.
Zaman saling mendekat,
satu tahun seperti sebulan, sebulan seperti seminggu, seminggu seperti sehari,
sehari seperti satu jam dan satu jam seperti menyalakan kayu dengan api.
Ada fenomena apa dalam kehidupan
dunia ini?
Tiada penyejuk dan penerang didalam hati semua serba panas,
ucapan, tingkah laku, dan tulisan sebagai peluncur kekacauan dan kerusuhan,
satu sama lain saling benar sendiri sehingga hujat menghujat, fitnah menfitnah,
tuduh menuduh, dan merasa paling benar sendiri. Menjadi baju keangkuhan kita,
sehingga muncul penyakit aku.. aku dan aku, Awas!
Lalu dimana sifat kehambaan kita,
sebagai manusia yang terlahir dari setetes air yang hina?
Kita tidak menyadari padahal suatu saat otak akan menjadi musuh
terbesar umat manusia, karena sumber kehancuran dunia terletak pada kekuatan
otak, Sejarah kelam mencatat perjalanan umat manusia, tiada kedamaian ketika
umat manusia mengagung-angungkan kekuatan otak.
Maka kekuatan besar itu bukan bersumber dari otak kanan maupun
otak kiri dan otak tengah yang tengah diagung-agungkan itu, akan tetapi
kekuatan itu besar itu ada didalam hati manusia, dimana hati sebagai penentram
jiwa dan merupakan sinyal untuk mengenal Sang Pencipta, sedangkan otak hanya
sebatas menerima sinyal untuk mengenal ciptaannNya untuk menemukan Sang
Pencipta. Sangatlah jauh berbeda!
Maka didalam Az zumar 30 :
“Sesungguhnya kamu adalah mati dan
sesungguhnya mereka adalah mati (pula).”
Ayat tersebut merupakan panduan dan petunjuk dari Allah bagi
manusia seyogyanya manusia tidak mampu walaupun hanya sebiji atom. Sudahkan
kita demikian ? maka wajarlah didunia ini manusia bukan seperti manusia, sifat
anarkis telah mencoreng keindahan dunia ini, terjadi merasa baik dimana-mana.
Persaingan yang tiada arti dan saling menjatuhkan dimana-mana, karena karakter
bangsa yang berazaskan atas kemanusiaan yang adil dan beradab belum tercermin
didalam diri manusia itu sendiri.
Masih pantaskah kita disebut
sebagai manusia? apalagi disebut sebagai hamba? mungkinkan dunia telah dikuasai
oleh sifat-sifat anarkis berbaju manusia?
Dari
mana semua itu berasal? yang menjadikan manusia menjadi anarkis, brutal dan
tidak ada Kasih Sayang diantara sesama? renungakanlah wahai saudaraku? Jawabannya
hanya satu! Otaklah sebagai “Dalang Utama” dimana pada posisi otak yang
mengusai hati, bukan sebaliknya semestinya hati yang mengusai otak, akal
ataupun pikiran, ternyata otak dalang utama kehancuran dunia!
Maka situasi yang
sedemikian ini patutlah kita harus kembali pada “Karakter Manusia Berbasis Hamba” dimana manusia sebagai khalifah dan dimana manusia sebagai
hamba Tuhan.
“Dan tidaklah AKU (Alloh) ciptakan jin dan manusia
melainkan untuk mengabdi kepadaKu”. (Adz- Dzariyat : 56)
Maka dari itu kita
harus menemukan formula yang tepat agar manusia tetap sebagai manusia yang
santun, manusia yang lemah lembut, dan manusia yang bersaudara bukan manusia
sebagai Tuhan yang merasa berkuasa, merasa hebat, serta merasa memiliki, sehingga
menjadi kejam dan anarkis.
Sedangkan yang mampu menghancurkan karakater-karakter PENGAKUAN SEBAGAI TUHAN (merasa mampu,
yang merasa berkuasa, merasa hebat, serta merasa memiliki) hanya kekuatan
mutlak yang mana kekuatan itu senantiasa bersama manusia dimana dan kapanpun
berada.
Al Hadid ayat 4 : “….Dan Dia bersama kamu
di mana saja kamu berada….”
Ironinya KEKUATAN AGUNG itu tidak bisa
disandingkan atau disekutukan dengan apapun walaupun sekecil atom perasaan “aku”!
Maka mutlak manusia
harus meleburkan perasaan akunya, karena kalimat Allah Yang Maha Agung inilah
yang bersumber dari produk hati yang suci dan produk jiwa yang betul-betul
sejati dan muncul dari jiwa betul-betul murni sebagai hamba, bukan jiwa
munafik, bukan pula jiwa yang pengecut.
Maka sekecil mempunyai
perasaan aku pasti tidak akan datang kekuatan agung itu, sebiji atom manusia
merasa bisa tidak akan datang KEKUATAN
AGUNG itu didalam jiwa manusia.
Barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat dzarrah
(sebiji atom)-pun, niscaya dia akan melihat (balasan)-nya. Dan barangsiapa yang
mengerjakan kejahatan seberat dzarrah-pun (sebiji atom), niscaya dia akan
melihat (balasan)-nya pula (QS Az-Zalzalah [99]: 7-8).
Renungkanlah?
murnikah kita sebagai hamba? atau masih merasa ada pengakuan sebagai Tuhan?
Oleh sebab itu untuk menghancurkan virus-virus “ananiyah” dengan 2 kekuatan besar dunia
yang bersumber dari jiwa yang bersih.
Yang pertama Kekuatan Sang
Pencipta yang
bersumber hati yang suci bukan didapat oleh pikiran yang pandai, bukan pula
otak kanan, otak kiri maupun otak tengah, akan tetapi hanya bisa didapatkan
oleh hati yang bersih dan suci.
Sedangkan yang kedua Kekuatan Nol yang bersumber dari
kehambaan sehingga menimbulkan perasaan rendah, perasaan hina, serta perasaan
tidak mampu, sehingga menjadi hamba benar-benar murni bukan imitasi, maka
perasaan itulah yang akan mendatangkan kekuatan agung tak terbatas dan memancarkan
kekuatan yang sejati, sehingga hamba itu senantiasa dilindungi oleh Sang
Pencipta.
Maka Kesimpulan dampak apabila manusia tidak
mencerminkan sifat“KEHAMBAAN” akan terwujud terapi-terapi iblis
menjamur di muka bumi ini yang akan menanamkan virus sifat ke aku-akuan,
sehingga manusia bukan lagi menjadi hamba akan tetapi manusia merasa bagaikan
Tuhan yang bermunculan dimuka bumi .
Satu sama lain tidak ingin dikalahkan karena merasa menang, merasa
unggul, dan merasa lebih dari yang lain. Maka dampak yang jelas timbul ialah
timbul suatu kebencian sehingga terjadi anarkis karena ketidakpuasan
menyebabkan muncul perasaan paling benar sendiri sehingga antara pemimpin satu
dengan pemimpin yang lain bersilangan dan saling menjatuhkan.
Apabila situasi dan kondisi seperti ini masih berlanjut tidak
menutup kemungkinan Indonesia bahkan dunia pun hancur karena
kebringasan dari hukum rimba sehingga merasa menjadi Tuhan-Tuhan baru dimuka
bumi ini, dan tidak menutup kemungkinan suatu saat pasti akan terjadi lanjutan
babak perang dunia ke tiga yang menyebabkan umat masyarakat yang akan menjadi
korban kebrutalan para pemimpin bangsa, dimana pada saat itu manusia bukan
menjadi manusia yang santun, akan tetapi manusia yang buas, dan tega memakan
saudaranya sendiri.
Pada saat itulah
“AKAN DATANG SUATU ZAMAN DIMANA
MANUSIA DENGAN OTAKNYA AKAN MENGHANCURKAN DUNIA”.
Nuklir pun akan berjatuhan diatas
bumi. milyaran orang tergeletak mati mengenaskan sebab karena sifat keangkuahan
dan kepongahan dari virus-virus sifat KE AKU - AKU AN.
Maka mulai hari ini, detik ini kita tanam pohon-pohon kesadaran
dengan menyuburkan sifat “KEHAMBAAN”,
yaitu sebagai hamba yang lemah, hina dan
tiada daya. dan ini harus dikembangkan bukan di akal akan tetapi benar-benar
dirasakan didalam hati agar kita benar-benar mengetahui dimana kedudukan posisi
sebagai hamba dan dimana pula posisi Sang Penguasa Sejati.
Renungkanlah wahai saudaraku….
Akal untuk
mengenal makhluk ciptaan sedangkan hati untuk mengenal Sang Pencipta, alangkah
indah hati apabila dekat dengan Sang Pencipta, maka mutlak kekuatan Sang
Pencipta didalam hati akan menemukan semua rahasia alam ini, termasuk apa akal
dan apa nafsu, apa pikiran dan apa otak.
Yang mana sejak zaman
umat Nabi Adam sampai zaman umat Nabi Muhammad,
baik itu didalam Taurat, Zabur,
Injil, maupun Al-Quran HATI dijadikan
prioritas utama bukan OTAK!
Wahai saudaraku…!!!
Kapan kita seminarkan masalah hati?
Adakah intelektual-intelektual yang mampu menggali masalah hati sehingga bisa
membimbing hati umat yang anarkis menjadi santun, beradab dan kasih sayang?
Adakah profesor-profesor mampu membongkar rahasia hati hati
untuk pendekatan diri kepada Tuhan Sang Pencipta Alam?
Mulia dan jayanya kehidupan bila hati
menguasai zaman, padahal hati adalah pemegang kebaikan, karena
baik jeleknya manusia tergantung hatinya.
Sabda Rasulullah saw:
“Ketahuilah bahwa pada jasad terdapat segumpal daging, jika ia
baik maka baiklah seluruh jasadnya, jika ia buruk maka buruklah seluruh
jasadnya, ketahuilah itu adalah hati” (Shahih Bukhari)
Catatan Al Fakir yang hina
Dalam bumi kerendahan, 11 Mei 2014
Hidup Sekali Harus Berarti
----
Sebelumnya : Inilah Zaman Ketika Otak Menjadi Tuhan!

0 comments :
Posting Komentar