Dalam suatu
kebaikan disitu pula terdapat suatu keburukan, sebaliknya dalam suatu keburukan
terdapat suatu kebaikan bagi siapa yang mau berusaha selalu mawas diri, karena
didalam gelap pasti ada secercah cahaya, begitu juga sebaliknya. Sungguh
beruntung bagi siapapun yang bisa menjaga hati didalam setiap langkah dan
perbuatan. Karena sekali kita salah melangkah
niscaya cahaya hati itu akan menjadi redup dan menjadi kegelapan bagi
dirinya sendiri,
Wahai
saudaraku….!!!
Jika hati
seseorang bersih, akan menjadi lemah lembut jiwanya, penyejuk bagi jiwa yang gersang,
penerang hati yang sedang gelap gulita, karena hati
yang lembut bagaikan tabung resonansi yang mampu menghasilkan cahaya, semakin lembut hati seseorang, maka semakin tinggi
frekuensi resonansi kelembutan jiwanya, sehingga jiwa yang lembut itu akan
menghasilkan cahaya dalam pandangan cakrawala rohaninya hingga menembus alam
semesta, karena belaian yang lembut bisa membuat hati yang keras menjadi luluh.
Ternyata
frekuensi hati seseorang yang teresonansi frekuensi hati yang absolut bisa
merubah hati yang negatif menjadi positif, yang keras akan menjadi lunak, yang
asalnya takabbur menjadi rendah diri.
Wahai
saudaraku…. Siapakah dia?
Dia adalah Sang kekasih Tuhan, hamba yang terpilih sebagai
tempat menyimpan segudang rahasia keTuhanan, hatinya merupakan tempat terbitnya
cahaya – cahaya hikmah, dia merupakan pusat alam semesta, dimana alam semesta
ini tidak akan berputar tanpa dirinya,
karena dia al- waahiduz-zaman, Thoifah yang senantiasa tawajjuh
bagi keadaan zaman itu, menjadi lentera zaman yang semakin hari kian semakin
redup, dengan semakin banyaknya manusia lupa akan yang hak dan bangga dengan
perbuatan yang jauh dari nilai-nilai murni seorang hamba. Sehingga suatu
perkara yang hak di jauhi dan yang bathil semakin diikuti, Hidupnya
sebagai penuntun zaman, air matanya bagaikan penyejuk bagi rapuhnya keadaan
zaman itu.
Laulaa yushbihu
waahiduz-zamaani yatawajjahu ilalloohi fii amril kholaa-iqi lafaja-ahum
amrulloohi fa-ahlakahum (taqriibul ushuul)
Tuuba
lilmukhlishiina ulaa-ika mashoobihul huda tanjali ‘anhum kullu fitnatin
dholma-a
“Berbahagialah
orang – orang yang mempunyai kelembutan jiwa, ikhlas didalam setiap langkah
perbuatan, mereka itulah adalah lampu – lampu petunjuk dimana suatu fitnah
digambarkan bagaikan malam yang gelap gulita menjadi nampak terang bagi mereka
(hadist riwayat abu nu’em dari tsauban)”
Wahai saudaraku…!!!
Apa jadinya bila seumur hidup kita tidak
menemukan pembimbing rohani, Sang kekasih yang terpilih itu? Dan apa
jadinya bila kebanyakan umat telah lalai,
menganggap aneh, bahkan dianggap sesat bimbingan dan ajaran kesadaran yang
beliau ajarkan itu?
“laukaana
fii himaa aalihatun illalloohu la fasadataa” (Q.S Al – Anbiyaa : 22)
Kehancuran akan terjadi dimana – dimana, bahkan
malapetaka akan meliputi seluruh alam semesta, kerusakan moral tak terbendung lagi,
karena manusia disaat itu telah mengingkari jati dirinya sebagai manusia yang
lemah dan hina. Suatu pengingkaran yang
sulit termaafkan, sebab manusia telah berani mengaku dirinya sebagai Tuhan,
menyekutukan Tuhan dengan dirinya, maka disaat itu guncangan zalzalah
akan turun dimuka bumi ini:
Idza zulzilatil ardhu zilzaalahaa
Apabila bumi sudah digoncangkan dengan
goncangan yang begitu dahsyatnya,
Wa-akhrojatil ardhu atsqoolahaa
Dan bumi telah mengeluarkan beban – beban berat
yang dikandungnya
Waqoolal insaanu maa lahaa
Dan manusia saling bertanya ada apa dengan bumi
ini?
Yauma-idzin tuhadditsu akhbaarohaa
Pada hari itu bumi akan menceritakan berita –
beritanya kepada umat manusia
Bumi akan memberitahu, menceritakan kepada umat manusia akan
goncangan yang terjadi pada saat itu, disebabkan karena kebanyakan umat manusi
telah menjauh dan melalaikan ajaran – ajaran yang dibawa Sang kekasih yang
terpilih itu (al waahiduz zaman).
Senin, 04 Januari 2016
(JAMA'AH AL MA'RUF)

0 comments :
Posting Komentar