Marilah kita mencari bekal untuk pulang
kembali kepada Allah, didalam kehidupan yang langgeng di alam barzah nanti,
yang mana berlanjut sampai di alam akhirat, maka persiapkanlah dengan
pengetrapan lillah dan billah, dengan penuh kerendahan yang serendah –
rendahnya, dengan mengeNOLkan diri, menghilangkan rasa aku yang ada didalam
jiwa, baik itu perasaan merasa mampu, merasa berkuasa, merasa suci, dsb.
Ingat saudaraku…..! Kita akan pulang, dan sejauh ini sudahkah
bekal itu kita persiapkan? apalah arti kita beramal kalau masih ada pengakuan
yang menimbulkan rasa bangga, masih ada pengakuan yang menimbulkan rasa mampu
dan takabbur, semuanya akan musnah tiada arti karena tidak akan bisa sampai
pada tujuan.
Ingat….! Sekecil di hati ada perasaan puas
atau bangga diri, maka leburlah semua amal-amal ibadah yang telah kita lakukan
selama 70 tahun, bagaikan api membakar ranting - ranting kayu kecil yang kering! oleh karena itu jangan puas, bangga diri dengan apa yang kita
lakukan, tapi syukurilah dengan apa yang di berikan Tuhan! Sadarilah kalau kita lemah, rendah dan tempatnya salah. Karena itu merupakan sifat seorang hamba,
Maka ketahuilah saudaraku, apabila hamba
sudah kehilangan jati diri sebagai seorang hamba,maka sifat adigang adigung
akan menebar didalam jiwa, sehingga merasa berkuasa, merasa punya kemampuan,
dan merasa mulya, ibarat pedang yang hilang akan ketajamannya, hamba tidak lagi
bermartabat disisi Tuhannya, karena tak layak bagi seorang hamba untuk merasa
baik. Merasa berkuasa, dan merasa punya kemampuan, karena itu merupakan sifat
miliknya Tuhan yang mukhal (mustahil) menjadi miliknya semua makhluk, termasuk
kita sebagai manusia yang asalnya tidak ada lalu dijadikan ada oleh sang pencipta,
Innamaa amruhuu idzaa arooda syai-aan,
ayyaquula lahuu kun fayakuun, fasubhaanal-ladzii biyadihii malakuutu kulli
syai-iw-wailaihi turja’uun (QS. Yasin 81-82)
Untuk itu wahai saudaraku….!
Persiapkanlah bekal untuk kembali pulang, jangan sampai kita tertipu didalam
kehidupan di dunia ini, karena dunia bukanlah tempat untuk kesuksesan, puas dan
bangga diri, tapi dunia merupakan tempat ladang bagi akhirat kelak, “addunya
mazroatul akhiroh”,
Maka lakukan apa yang menjadi kewajiban kita, melaksanakan
apa yang sudah di wajibkan oleh Allah (sholat, puasa zakat, dll), disamping itu
ada 2 langkah yang harus kita lakukan sebagai bekal keselamatan dan kebahagiaan
hidup kelak di akhirat,
Yang pertama yang harus kita lakukan ialah
membersihkan hati dari kuku – kuku ananiyah, keaku – akuan diri (aku hidup,
aku kuat, aku mulya, aku.. Aku… dst) dalam istilah kami, itu semua harus kita
nolkan di hati, kita kikis hingga benar- benar nol, tidak ada pengakuan sama
sekali, karena yang berhak untuk merasa aku, merasa berkuasa, merasa mulya,
hanyalah satu dia sang maha penguasa, maka sedetik ada perasaaan aku di hati si
hamba, sedetik itu dia terlempar dari wilayah kekasih Tuhan, karena tak mungkin
Tuhan akan mencintai si hamba-nya, apabila si hamba itu masih senang merawat
kuku – kuku ananiyyah didalam jiwanya,
“abghodlu ilahin ‘ubida fil ardli al hawa” (hadits)
Berhala sesembahan dibumi yang
paling dibendu Allah adalah nafsu (aku)!
Yang kedua, hamba harus tertanam kerendahan,
merasa hina, merasa tidak berkemampuan apa – apa, walaupun segi lahir nampak
kuat, kaya, dan menjadi seorang pimpinan, tapi didalam hati harus ada
kerendahan, merasa tidak memiliki apa – apa,
Wa’ibadur-rohmaanil-ladziina yamsyauna ‘alal ardhi
haunan….
Dan hamba – hamba yang baik dari Tuhan yang maha penyayang
itu ialah orang – orang yang berjalan dimuka bumi ini dengan rendah hati…..
(QS. Al –furqon : 26)
Ingat saudaraku….! Ada dua kekuatan yang harus tertanam di
hati seorang hamba, dan dua kekuatan ini tidak boleh pudar di tengah jalan,
harus terus dibawa sampai mati, apapun aksesoris kehidupan didunia ini nanti
menimpa dan mewarnai diri kita, dua kekuatan ini harus tetap melekat dan
tertanam subur didalam hati “NOL” dan “KERENDAHAN”, maka selamat,
engkau menemui kebahagiaan, karena
kecintaan Tuhan akan senantiasa bersamamu, engkau akan terselimuti oleh kasih
sayang Tuhan dan akan lelap tidur didalam wilayah ketunggalannya, itulah “khusnul
khotimah” mati dengan membawa iman, mendapatkan fadlol kasih sayang-nya,
Semoga Allah meridhoi kita semua, memberi petunjuk didalam
perjalanan hidup kita semua di atas dunia ini,
Aamiin...

0 comments :
Posting Komentar