Tepat hari
senin tanggal 12 Rabiul Awal di kota Madinah seakan-akan keadaan sunyi senyap
nampak situasi yang mengharukan, saat itu banyak penduduk mengurungkan
kegiatannya karena hawa di Madinah sangat mengharukan, gerangan akan ada apa
dan apa yang akan terjadi di Madinah.
Sekitar
menjelang siang waktu dhuha, ada satu rumah yang masih tertutup rapat karena
didalamnya ada orang agung yang saat itu mengalami kesakitan yang sangat parah ditemani
oleh istri yang sangat mencintainya sambil kepalanya bersandar dipangkuan sang
istri itulah Beliau Rosululloh Saw ditemani oleh ibunda Siti Aisyah, kekasih
hati, buah jantung umat, sang pemberi syafaat yang genap berusia 63 tahun.
Begitupula
Fatimah putri satu-satunya telah menangis melihat kondisi sang ayah, saat itu
wajah Beliau Rosululloh Saw mulai pucat, peluh keringat telah menetes dan
membasahi dahinya. Pun demikian dengan Sayyidina Ali KW sebagai menantu,
mondar-mandir melihat sakitnya sang mertua, sang nabi, sang pencinta umat dan
sang pemberi syafaat.
***
Suatu saat Malaikat
Izroil dipanggil oleh Alloh, ketika itu diperintahkan kepada Malaikat Izroil, “Datanglah kepada kekasihku Muhammad Saw”
Malaikat Izroil
menjawab “Apakah saya disuruh hanya
silaturahmi atau untuk mencabut nyawa sang terkasih Rosululloh Saw yang sangat
engkau cintai?
“Kedua-duanya wahai Malaikat Izoil, tapi
kalau kekasihku Muhammad tidak mau, maka kembalilah engkau”
Maka Malaikat
Izroil melaksanakan tugas dari Alloh datang kerumah Sang Terkasih dengan bentuk
dan rupa yang sebaik-baiknya.
Saat di depan
pintu rumah Rosululloh Saw, Malaikat Izroil mengucap salam kepada Nabi dan
kepada seluruh penghuni rumah itu “Assalamualaikum….
Bolehkan saya masuk?”
Fatimah putri
baginda Rosul membuka pintu sambil menjawab “Waalaikum
salam, maaf ayahku sedang sakit keras dan demam sangat tinggi” sehingga
pintu ditutup kembali.
Saat itu Beliau
Rosululloh Saw membuka matanya yang sedang terpejam itu lalu menanyakan kepada
putrinya Fatimah “Siapakah yang datang
itu wahai putriku?” jawab Fatimah “saya
tidak tahu ayah, yang jelas orang itu sangat wibawa, saat aku memandang orang
itu bulu kudukku berdiri”
“Tolong persilahkan masuk wahai putriku
Fatimah, itulah utusan Alloh, yang akan bertugas mencabut kenikamatan yang
sementara ini, yang bertugas untuk memisahkan pertemuan ini, itulah malaikat
maut, malaikat izroil wahai putriku” Tukas Beliau Rosululloh Saw sambil
tetap berbaring dipangkuan ibunda Aisyah.
Saat itulah Siti
Fatimah menutup matanya dengan kedua tangannya, menangis tersedu-sedu sambil
berucap “Yaa Alloh, ini tanda aku akan
menjadi yatim, umat manusia tiada pembela lagi, karena sang pembela akan pulang
dan berpulang kepada Sang Maha Suci”
Maka saat itu
masuklah Malaikat Izroil dan duduk disamping Rosul, Rosululloh Saw bertanya
kepada Malaikat Izroil “apa perlumu
datang kepadaku, apakah engkau datang mencabut nyawaku atau datang hanya
sekedar bersilaturahmi?”
Dengan menunduk
hormat sedalam-dalamnya sambil meneteskan air mata Malaikat Izroil berucap “Ya Rosul, disamping saya bersilaturahmi
saya juga diperintah oleh Alloh untuk mencabut nyawamu, tapi kalau engkau tidak
berkenan, saya akan pergi”
Maka Rosululloh
Saw menjawab “kalau itu memang kehendak
Alloh, sudahlah cabutlah nyawaku”
***
Disitulah
proses detik-detik Rasululloh Saw meninggalkan umat manusia dan meninggalkan
perjuangan suci, maka saat itu Madinah kelam kelabu karena hawa yang
ditimbulkan akan berpulangnya kekasih, sang penolong, sang pemberi syafaat dan
sang pembela bagi kita umat yang penuh dosa ini.
Sebelum
pencabutan dimulai Beliau Rosululloh Saw menanyakan kepada Malaikat Izroil “kemana kekasihku Malaikat Jibril yang
senatiasa memberikan wahyu kepadaku?”
“Iya Rosul, jibril telah menata barisan,
semua pintu kebaikan dibuka” Jawab Malaikat Izoil
Maka seketika
itu duduklah Malaikat Jibril disamping Rosululloh Saw, lalu Rosululloh Saw bertanya
“hak ku apa Jibril yang diberikan oleh
Alloh?”
Maikat Jibril
pun menjawab “Ya Rosul karena engkau
adalah kekasihNya, semua pintu langit dan pintu surga telah dibuka lebar-lebar,
kenikmatan-kenikmatan surga akan diberikan kepadamu, bidadari-bidadari berhias
menanti kedatanganmu”
Ketika Malaikat
Jibril mengatakan haknya kepada Rosululloh Saw, Beliau masih nampak khawatir
lalu bertanya lagi kepada Malaikat Jibril “bukan
itu Jibril, yang kumaksud hakku terhadap umatku nanti apa?”
Ya Rosul… Jangan
khawatir, besok ketika manusia kembali ke alam kubur dan sangkakala ditiup saat
itu hari kiamat datang, saat itu aku pernah mendengar Alloh mengatakan “surga diperuntukkan untuk umat kekasihku
Muhammad terlebih dahulu sebelum umat-umat lain masuk” kata Jibril.
Saat itulah
Sang Terkasih nampak bahagia, bukan karena dia ada di surga, tapi bahagia
melihat umat yang bergelimangan dosa ada disisinya.
***
“Sudahlah Izroil, laksanakan tugasmu….”
tukas Sang Terkasih
Maka mulailah
pencabutan nyawa Rosululloh Saw, dengan cabutan yang paling halus yang belum
pernah Malaikat Izroil mencabut sehalus itu dan sangat hati-hati karenya yang
dicabut adalah kekasih paling dicintai Alloh, tapi saat itu Malaikat Izroil
tidak tega melihat wajah Rosululloh Saw, karena saat itu urat-urat leher
Rosululloh Saw menegang, menunjukkan sakit yang sangat parah. Saat itu Malaikat
Jibril memalingkan mukanya, karena tidak tega melihat kekasih Alloh menahan
sakitnya sakaratul maut.
"Jijikkah kau melihatku, hingga
kaupalingkan wajahmu Jibril?" Tanya Rosululloh pada Malaikat pengantar
wahyu itu. "Siapakah yang tega,
melihat kekasih Alloh direnggut ajal" kata Jibril.
Berlanjut sampai
pada kaki, Malaikat Izroil disuruh berhenti, peluh dan keringat dingin
membasahi wajah Sang Terkasih karena menahan sakit, disaat itu akhirnya
Rosululloh Saw berdoa “Yaa Alloh kalau
sakitnya sakaratul maut seperti ini, bagaimana dengan umatku nanti? Maka Yaa
Alloh jadikanlah satu sakitnya sakaratul maut ini, agar umatku tidak merasakan
apa yang kualami ini”
Kaki sudah
mulai dingin, tangan sudah mulai nampak membiru, saat itu hanya satu ucap bibir
bergerak pelan-pelan, saat itu Sayyidina Ali KW mendekatkan dibibir Rosul dan
berpesan "Uushiikum bis shalati, wa
maa malakat aimanuku, wahai umatku jagalah sholatmu, bantu yang lemah jangan
kau hina”.
Setelah itu
Rosululloh Saw diam, nampak wajahnya pucat pasi sambil menahan sakitnya proses
sakaratul maut, saat detik-detik terakhir ketika Sang Terkasih akan
meninggalkan umat untuk selama-lamanya, bibir Sang Terkasih bergerak halus
seperti ada yang diucapkan, sekali lagi Sayyidina Ali KW mendekatkan telinga di
bibir Sang Terkasih itu, ternyata di penghujung detik-detik sakaratul maut, Beliau
Rosululloh Saw menyebut “ummati… ummati…
ummati… aku berharap bisa bertemu di alam sana”
Disaat itulah Madinah
kelam, disana sini terdengar ledakan gemuruh tangis penuh keharuan sehingga
banyak sahabat yang tidak sadar termasuk sahabat Sayyidina Ustman RA berjalan
mondar-mandir sambil lari-lari kecil tangan kanan dan tangan kiri dikepal-kepalkan
karena tidak sadar karena Sang Kekasih telah meninggalkan umatnya.
Semua orang
tersungkur melihat Sang Terkasih, karena tidak akan bertemu kembali dengan
Rosululloh Saw yang biasanya senyum sejuk datang menembus jiwa-jiwa yang kering
kerontang itu,tapi senyuman itu berakhir tanggal 12 Rabiul Awal di usia 63
tahun.
Selamat tinggal
umatku… selamat tinggal umatku… selamat tinggal umatku…
***
Ingat
saudaraku….
Tidak akan lama
kita akan meninggalkan semua ini!
Bangkit wahai
saudaraku… di penghujung akhir masa kenabian, dimana pejuang-pejuang suci ini?
Apakah hancur
ditelan oleh kehidupan ini ataukah pejuang-pejuang suci tanpa pamrih ini
dimakan oleh monster-monster ananiyah, sehingga kita cari pejuang yang tangguh,
pejuang yang ikhlas rela berkorban, pejuang yang hatinya legowo (tidak mudah tersinggung) sudah tidak ada?
Ingat cinta
tanpa kerinduan adalah palsu…!!!
Begitupula cinta
tanpa airmata adalah kebohongan…!!!
Maka latih
kerinduan itu walau hanya setitik debu mengingat Sang Terkasih itu wahai
saudaraku…
Latih penuh
dengan kerendahan dan tetesan air mata untuk sang kekasih itu wahai saudaraku…
Semoga Alloh
memberikan karunia, taufiq dan hidayahnya kepada kita semua, sehingga kita
diaku sebagai umat Beliau Rosululloh Saw
***
Catatan
Perjalanan Al Fakir yang hina
Dalam bumi
kerendahan, 23 Maret 2015
“Hidup Sekali
Harus Berati”
Diambil dan
disunting dari :

Subhanallah ...
BalasHapusIjin share :)
Silahkan saudaraku... semoga bermanfaat.. salam
HapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
HapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusTerimakasih,
BalasHapusAamiin Yaa Robbal 'Alamiin ...
InsyaAllah , sangat bermanfaat :)
Wa'alaikumsalam
Yaa sayyidii yaa rasulalloh
BalasHapus