(Renungan Ramadhan Dalam Menggapai Keutamaan
1000 Bulan)
Siapakah yang mendapat lailatul qodar itu?
Adakah orang muslim yang tidak kenal dengan lailatul qodar (malam seribu bulan)?
Dimalam itu lebih baik daripada 1000 bulan
yang diberikan oleh Allah kepada umat Muhammad Rasulullah Saw, sungguh sangat
menakjubkan, sungguh agung karunia Allah yang diberikan kepada hambanya dimalam
itu. Alangkah mulianya si hamba bila mendapat karunia agung itu, dan siapakah
hamba yang mendapat karunia itu?
Ingat saudaraku…!!!
Lailatul qodar adalah karunia dan fadhol dari Allah yang
maha pengasih lagi maha penyayang dan fadholnya Allah hanya diberikan kepada
hambaNya yang memiliki hati senantiasa merasa rendah, hina, dan merasa penuh
dosa, dholim dihadapan Allah Swt.
Maka orang yang mendapat karunia agung itu,
dia diperkenankan untuk mengabdi kepadaNya dengan lurus dan ikhlas, sehingga dimalam
seribu bulan itupun ia beribadah semata-mata karena Allah dan tidak terpengaruh
dengan keistimewaan malam seribu bulan itu. Hatinya senantiasa memandang Allah
sebagai tujuan hidupnya dan dia senantiasa mengharap dan membutuhkan dengan
penuh kerendahan keharibaanNya.
Firman Allah :
Wamaa kholaqtul
jinna wal insa illaa liya’buduun (Adz Dzaariyat : 56)
“Dan tidaklah
Kuciptakan jin dan manusia melainkan hanya semata-mata mengabdi kepadaKU”
Dan bagaimana kita menggapai karunia dibulan
Ramadhan ini? dan bagaimana kita bisa menggapai lailatul qodar?
Ingat
saudaraku…!!!
Semua amal
digambarkan seperti gerbong–gerbong kereta, begitupula amal ibadah kita dibulan
Ramadhan ini akan sampai pada tujuannya bila ada lokomotifnya, dan bagaimana
jika gerbong-gerbong itu tidak memiliki lokomotif, apakah bisa sampai pada
tujuan (menuju kepada Allah)?
Jawabannya
: Mustahil….!!! Mustahil sekali akan sampai pada tujuan, jangankan sampai pada
tujuan, bergerakpun tidak akan mampu! bahkan tertolak!
Begitupula
dengan amal-amal yang kita lakukan, apakah amal-amal itu akan sampai dan akan
bermanfaat bagi si hamba tanpa adanya lokomotif? Lalu apakah lokomotifnya amal
itu?
Ingat
saudaraku…!!! Didalam doa iftitah
ketika kita sholat kita berjanji kepada Allah yaitu sesungguhnya solatku,
ibadahku, hidupku dan matiku hanya untuk
Allah TUHAN SEMESTA ALAM!
Inilah
lokomotifnya amal yaitu LILLAH (untuk Allah semata), tanpa pengetrapan LILLAH
semuanya akan ditolak oleh Allah!
Dibulan
Ramadhan yang mulia ini, Allah memberikan satu malam di bulan Ramadhan yang
disebut LAILATUL QODAR (malam seribu
bulan) maka ketika si hamba mencari malam seribu bulan dan beribadah
didalamnya, I’tikaf di masjid dengan
bermacam-macam ibadah tanpa dijiwai pengetrapan LILLAH (hanya semata-mata
karena Allah) maka kita sama saja MENGGADAIKAN
TUHAN DENGAN MALAM SERIBU BULAN! karena kita beribadah bukan karena Allah
tapi ibadah karena malam seribu bulan (lailatul
qodar).
Ingat
janji kita kepada Allah…!!! Innassholatii…. Wanusukii…. Wamahyaya… Wamamaatii….
Lillahi Robbil Alamin…
Mari kita
koreksi bagaimana dengan ibadah kita wahai saudaraku…??? Jangan munafik…. Jangan kau tipu
diri ini!
Sudah
luruskah amal kita? Sudah LILLAH kah ibadah yang kita kerjakan? Ibarat gerbong
sudahkan ada LOKOMOTIFnya?
Apakah akan kita tukar Allah Yang Maha Mulia
dengan kemuliaan bulan Ramadhan yang didalamnya ada malam seribu bulan…????
Ingat semuanya itu adalah ciptaanNYA!
Maka sekali lagi jangan tukar dan jangan kau
gadaikan TUHANMU dengan semuanya, termasuk kemuliaan Ramadhan dan lailatul qodar!
Saudaraku….
Tahukah apa hakikat lailatul qodar itu?
Bagaimana ciri-ciri orang yang mendapatkan lailatul qodar itu?
Lail yang berarti malam atau sepi, dimana seorang
hamba bisa menyepikan hatinya, mensunyikan hatinya dari pengaruh-pengaruh
makhluk sehingga hatinya benar-benar bersih hanya memandang Sang Pencipta, maka
saat itulah hakikatnya lailatul qodar
karena dia lebur kedalam kemuliaanNya.
Dan ciri orang yang telah mendapatkan lailatul qodar yang nampak jelas adalah
perubahan sikapnya, dari tinggi hati menjadi rendah hati, dari sombong menjadi tawadhu’, dari mulia menjadi merasa
hina, sehingga si hamba yang mendapat lailatul
qodar itu seketika hilang penyakit kesombongan maupun penyakit KEAKUAN,
yang jelas perubahan hati yang nampak pada sikap lahiriyah.
Renungkan wahai saudaraku…!!!
Sudahkah kita demikian atau setelah Ramadhan
malah merasa lebih suci, mulia dan lebih baik?
Pada malam 10 terakhir dibulan Ramadhan,
banyak umat berbondong-bondong, beriktikaf
dimasjid-masjid untuk mendapatkan lailatul
qodar itu, tapi sayang masjid yang ada di rohani dibiarkan najis dan banyak
dihuni patung-patung dunia, bahkan anjing-anjing yang najis pun berada
didalamnya, sehingga tidak mungkin malaikat akan turun sesuai dengan janji Allah
bahwa para malaikat turun sampai fajar dengan membawa keselamatan, kemuliaan,
dan doa.
Sebagai sabda Rasulullah Saw :
“Qolbun mukmin
baitul haq”
“Hati (jiwanya)
orang mukmin adalah rumah Tuhan”
Ingatlah sesungguhnya yang menerima lailatul qodar itu hakikatnya bukan
jasad, akan tetapi rohani (jiwa) atau hati.
Walaupun tiap malam kita i’tikaf di dalam masjid dengan khusyu’
dan tekunnya, jika masjid yang ada di dalam jiwa ini masih kotor, banyak patung
dan anjing-anjing rohani, maka para malaikat tidak akan turun kedalam hati
seorang hamba yang masih kotor, penuh KEAKUAN, kesombongan, dan kebanggaan,
sehingga tidak pernah merasa rendah, dosa, dan hina (karena itu adalah sifat
sejati sebagai hamba).
Andaikan saat itu surga, lailatul qodar, pahala, nampak di pelupuk mata, orang yang
mendapatkan karunia lailatul qodar
tetap bersimpuh dihadapan Allah, tidak bergeming dan terpengaruh dengan apapun
jua.
Karena hakikat lailatul qodar itu sendiri adalah leburnya jiwa kehambaan kedalam
samudera KEESAANNYA, sehingga wajarlah kalau Malaikat turun mengucapkan “SALAMUN HIYA HATTA MATH LAIL FAJR”.
Ingatlah: Tujuan hamba hanya mengabdi kepada
TuhanNya dengan murni dan penuh keikhlasan! Banyak diantara kita, terjebak
dengan iming-iming itu semua, termasuk Al Fakir sendiri.
Ingatlah: Allah tidak akan pernah mengingkari
janjinya, kemuliaan akan diberikan kepada hamba yang tulus, karena Allah akan
cemburu apabila melihat hambanNya berpaling kepadaNya, seperti orang yang kau
cintai ketika berpaling denganmu, pasti engkau akan cemburu ketika orang yang
kau cintai mencintai orang lain.
Maka temukan DIA, pasti semua kemuliaan akan
diberikan kepadamu.
Buka hatimu dengan alat kerendahan jiwamu…
Buka hatimu dengan air mata kerendahan di
hadapan Tuhan…
Buka hatimu dengan dosa-dosa yang pernah kau
lakukan sehingga kau merasa kecil dihadapanNYA…
Sebab tidak akan seorang mendapatkan lailatul qodar ketika hati belum
terbuka!
Ingat saudaraku…!!!
Walaupun sebulan penuh kita i’tikaf dan beribadah didalam masjid,
tapi masjidnya jiwa tidak pernah kita huni untuk beribadah pasrah dan ikhlas
kepada Allah Sang Pencipta dengan penuh kerendahan dan merasa dosa maka lailatul qodar tidak akan turun kedalam
jiwa kita.
Bagaimanakah dengan diri kita disaat Ramadhan
yang mulia ini, sudah LILLAH kah dan sudah menghadap kepadaNya dengan perasaan
rendah, hina, dan merasa berlumuran dosa?
Apakah justru sebaliknya diri kita merasa
suci, merasa ahli ibadah dan baik dihadapanNya?
Mari kita koreksi wahai saudaraku…
Ketika mata hati ini kita buka dengan perasaan
hina…
Ketika mata hati ini kita buka dengan perasaan
dholim…
Ketika hati ini kita buka dengan air mata
kerendahan dihadapan Tuhan…
Maka terbukalah hati…
Dan ketika hati terbuka, saat itu turunlah
para malaikat ke dalam jiwa (hati) ini, karena hati yang ingat kepada Allah
akan didatangi oleh para malaikat dengan mengucapkan “SELAMAT” (SALAMUN HIYA HATTA MATHLAIL FAJR).
Mari kita renungkan wahai saudaraku….
Dimalam seribu bulan itu bersama malaikat yang
turun dimalam itu nilainya lebih baik daripada 1000 bulan.
Sekali lagi mari kita renungkan….
Bagaimana jika Allah Sang Pencipta itu sendiri
memberi karunia kepada hambaNya sehingga diperkenankan bersimpuh dihadapanNya?
Hanya ada DIA (SANG PENCIPTA LAILATUL
QODAR), mungkin dan pasti lebih dahsyat, lebih mulia sehingga satu saat
bersama SANG PENCIPTA lebih baik dari 1 JUTA TAHUN bahkan lebih daripada itu
semua.
Renungkanlah wahai saudaraku...
Bagaimana dengan keadaan kita…???
Ingat…!!! Sesaat bersama Allah (SANG PENCIPTA)
lebih dari segala-galanya!
Sekali lagi…. Lebih baik dari semuanya karena ALLAH
YANG MAHA ADA, YANG MAHA PENCIPTA, YANG SELAIN DIA ADALAH MAKHLUK YANG WUJUD
KARENA DI WUJUDKAN!
Selamat dan berbahagialah wahai jiwa yang
menemukan hakikat lailatul qodar itu.
###
Pesan Sang Prof:
Gapai lailatul
qodar dengan kebersihan hati dan kesucian jiwa,
Gapai lailatul
qodar dengan kerendahan dan kehinaan diri senantiasa merasa dholim dan
penuh dosa,
Jadilah hamba dan jangan merasa menjadi Tuhan…..
kita akan binasa!
Selamat menunaikan ibadah puasa,
Semoga diakhir penghujung puasa ini kita
mendapat kemenangan karena sudah mendapatkan lailatul qodar.
Hakikat kemenangan adalah mengenal jati diri
bahwa diri ini adalah bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa.
Ujian besar bagi orang-orang besar dan ujian
kecil bagi orang-orang kecil, ujian yang kita hadapi saat ini, inilah kelas dan
derajat kita disisiNya.
Temukan Tuhanmu : “Ketika kau pejamkan matamu
maka leburlah semuanya, dan ketika kau buka matamu maka nampaklah semua itu
adalah ciptaan yang semu belaka”
Hanya dengan kesadaran NOL (semua hanya Allah)
dan kerendahan yang serendah-rendahnya kita akan mendapatkan karunia agung dari
Allah SANG PENCIPTA.
Selamat berjuang….. kita akan kembali
keharibaanNya
Semoga Allah memberikan rahmatNya kepada kita
semua.
Wassalam….
--------------------------------------------------------------
Catatan
kelam perjalanan Al Fakir yang hina
Dalam Bumi
Kerendahan, 15 Juli 2014 (17 Ramadhan 1435 H )
“Hidup Sekali Harus Berarti”

0 comments :
Posting Komentar