Bulan ini
adalah bulan yang sangat istimewa dimana beberapa hari yang lalu adalah
bertepatan dengan hari raya Idhul Adha,
dimana yang melaksanakan ibadah haji pada saat ini ada di Mina sedang melaksakan ritual haji yang disebut lempar jumroh.
Disana bukan
sekedar melempar batu kerikil-kerikil akan tetapi mengandung maksud bahwa
jamaah haji setelah wukuf di Arafah
dan setelah diperkenankan sowan dihadapan Allah (ma’rifat dihadapan Allah)
merupakan gambaran rohani yang hakikatnya adalah melempar syaiton-syaiton ada di
hati kita yang digambarkan seperti batu ula,
wustha, aqoba yang ada di Jamarat.
Tapi hakikatnya
hati kita yang penuh syaiton-syaiton, hati kita yang keras bagaikan
batu yang ada di Jamarat ini harus
diperangi karena di dada kita ada syaiton-syaiton yang keluar masuk melalui
pembuluh darah.
Inilah
perjuangan saudara-saudara yang ada di Mina
untuk melontar jumroh, begitupula yang
ada disini hati kita membeku dan membatu sehingga jangankan menangis, ingat
dosa saja sulit bagaikan batu-batu di Jamarat
yang ada di Mina.
Mestinya kalau
hati kita lunak tidak ada syaiton-syaiton
yang keluar masuk didalam jiwa kita, tentu kita akan menangis melihat ayat-ayat
Allah yang sangat kasih sayang kepada hamba yang penuh durhaka ini, akhirnya
kita tidak terasa begitu sayangnya Allah yang menciptakan kita ternyata kita
masih diperhatikan untuk mengingat dosa sehingga ketika berucap subhanalloh…, astaghfirulloh…, orang
yang penuh dosa tunduk, tersungkur dihadapan Allah dengan berlinangan air mata.
Itulah hamba yang dipilih dan diberi petunjuk oleh Allah artinya akan
dibebaskan dari catatan ahli neraka.
Apakah kita
tahu dengan nasib kita di akhirat nanti? Tentu tidak ada yang tahu!
Walaupun
sekarang baik belum tentu ada jaminan, mungkin diri ini termasuk dalam catatan
ahli neraka karena hati ini keras… hati ini membeku… dan hati ini membatu…!!!
Saya teringat
akan hadist Rasululloh Saw :
“Jumudul
‘aini min qoswatil qolbi waqoswatil qolbi min kasroti dzunuubi”
“Kerasnya
mata disebabkan oleh kerasnya hati, kerasnya hati disebabkan oleh banyaknya
dosa yang kita lakukan”
Padahal dibalik
itu tanda-tanda ditolak oleh Allah SWT, hati kita ini membeku, mengeras
sehingga mata ini tidak bisa menangis padahal orang yang diberi hidayah dan
dipilih oleh Allah itu ada syaratnya, entah kita ini orang yang dipilih atau
tidak.
Ingat ada Surah
Mariam 58 :
“Dan
dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila
dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka
menyungkur dengan bersujud dan menangis.”
Adakah
tanda-tanda dari ayat diatas didalam diri kita? atau kita malah sudah bangga,
sudah merasa benar, sudah bisa mengetrapkan LILLAH BILLAH? Bohong! Awas jangan
menipu Allah! jangan menipu diri! Koreksi yang paling dalam jangan-jangan kita
adalah ahli neraka!
Maka orang yang
benar-benar diberi petunjuk oleh Allah, bukan terlihat dari ilmunya, bukan
terlihat dari banyaknya ia beribadah, bukan hafalnya ia menghafal al quran,
akan tetapi ketika ia dibacakan ayat-ayat Allah justru dia tahu dengan
cacatnya, tahu dengan masa lalunya yang kelam penuh banyak dosa, akhirnya ia
merenung bahwa dirinya adalah rendah, hina, kecil dihadapan Allah sehingga ia
merendah, tersungkur dengan baju kehinaan, bahkan menangis karena tahu akan
jati dirinya yang penuh berlumuran dosa.
Sehingga memandang
ayat-ayat Allah yang ada didalamnya baik itu ayat yang tersurat maupun ayat
yang tersirat sehingga banyak musibah, banyak perang, banyak orang mati mendadak,
dia merenung mungkin aku mati dalam keadaan tidak ingat kepada Allah, akhirnya
ia bersimpuh dan bermunajat:
“Saya
rendah Yaa Allah… saya dholim Yaa Allah… saya kufur Yaa Allah… padahal saya
belum pernah bersiap-siap diri untuk menemuimu, hatiku tidak pernah ingat
engkau, hatiku tidak pernah merasa dosa sehingga hatiku bebal, banyak tertawa,
senang mengumpulkan dunia sehingga saya tidak bisa menghadap kepadaMu Yaa
Allah…. Yaa Allah ternyata saya kecil… ternyata saya hina, walaupun saya sudah
sholat, walaupun saya sudah baik ternyata saya masih hina”
Maka ketika
merenung dengan penuh kerendahan, akhirnya dari kerendahan itulah muncul sumber
mutiara-mutiara hikmah, yang tercermin didalam sikapnya, didalam ucapannya, didalam
perbuatannya.
Yang dulu orang
itu disebut anarkis sekarang menjadi santun, sekarang menjadi kasih sayang
walaupun disekitarnya menghina dan menghujatnya, dia tidak pernah membalas
sehingga timbul akhlaqul karimah didalam
dirinya seperti yang dicontohkan oleh beliau Rasulullah Saw ketika dilempar
batu sampai berdarah akan tetapi beliau tidak membalas malah memaafkan dan mendoakan
orang tersebut.
Akan tetapi bagaimana dengan kita wahai
saudaraku? apakah kita sudah bisa seperti itu atau belum?
Wahai saudaraku…
Ketika
merunduk, ketika merasa rendah serendah-rendahnya, air mata berlinangan setiap
malam, setiap hari, bahkan setiap saat, mengingat dirinya bukan siapa-siapa,
menyadari bukan apa-apa, maka muncul didadanya “aku hamba Allah dimana aku nanti akan dimintai pertanggungan jawab”.
Saat itulah si
hamba menyadari akan dimintai pertanggungan jawab, sejengkal langkah akan
dimintai pertanggungan jawab, sekata ucapan akan dimintai pertanggungan jawab,
dia merasa hancur dihadapan Tuhannya tidak ada merasa baik sedikitpun. Orang
inilah yang dipilih dan orang inilah yang diberi petunjuk oleh Allah.
Bagaimana dengan kita wahai saudaraku…???
Janganlah merasa menjadi umat Islam kalau kita sudah merasa LILLAH BILLAH!
Janganlah kita sebagai umat Islam kalau kita merasa mulia!
Janganlah kita mengaku sebagai umat Islam kalau kita masih ada pengakuan merasa aku
didalam hati!
Bohong wahai saudaraku..!!! kalau hati kita
masih belum bisa merendah, penuh banyak dosa dan masih merasa aku!
Kita mengatakan
bahwa kita benci dengan syaiton-syaiton, bahkan semua umat Islam
mengatakan bahwa musuh kita adalah syaiton-syaiton, akan tetapi apa yang terjadi?
Dibalik ucapan itu ketika hati kita dibongkar ternyata kita telah membangun
kerajaan dengan kokohnya dihati kita, membangun benteng-benteng pertahanan syaiton-syaiton yang sangat kokoh.
Lisan
mengatakan aku benci dengan syaiton
akan tetapi jiwa kita seperti syaiton,
jiwa kita penuh hasud, penuh adu domba, penuh dengan perasaan ‘AKU’!
Maka ketika membaca
ta’awudz (“aku berlindung diri kepada
Allah dari godaan syaiton yang terkutuk”) sebanyak mungkin, malah syaiton tertawa sambil mengatakan “kamu
bodoh, kamu hanya membenci aku dalam lisanmu tapi kamu merangkul aku didalam
jiwamu, bodoh kamu!”
Syaiton tidak pernah takut kepada kita
bahkan sholat kitapun telah ditipu daya oleh syaiton sehingga setelah sholat, setelah haji, setelah puasa,
setelah berqurban, syaiton menghiasi hati kita dengan baju merasa
benar dan mahkota merasa baik, sehingga kehinaan dan kerendahan itu tidak
muncul didalam jiwa.
Awas…!!! Bohong sekali diri ini! kita akan
pulang dan tidak akan lama kita akan dipanggil oleh Allah, hidup ini sejenak
seperti sekejap, tahu-tahu sudah tua! berarti kita tiba-tiba akan mati,
sedangkan hati masih keras, dosa kita dimana-mana tapi tidak bisa menangis.
“Maka
dari itu Wahai manusia… menangislah… menangislah… sebentar lagi kita akan
pulang, sejengkal langkah yang kita lakukan akan dimintai pertanggungan jawab,
pendengaran kita akan dimintai pertanggungan jawab, ucapan kita akan dimintai
pertanggungan jawab, jika kita tidak bisa menangisi dosa carilah alat yang bisa
membuat hati kita tunduk, yang bisa menyadari akan dosa dan kesalahan sehingga bisa
menangis”
Tapi aneh di
akhir zaman orang yang bisa menangisi dosa malah dianggap asing oleh sesama
umat Islam
“Islam
muncul dalam keadaan asing, dan ia akan kembali dalam keadaan asing, maka
beruntunglah orang-orang yang terasingkan itu.” (HR. Muslim no. 208)
Ketika manusia
bangga dengan hajinya, ketika manusia bangga dengan qurbannya, tapi ketika hari raya qurban ada sekelompok kecil yang merasa hina, tidak ada kebanggan
karena dirinya mengerti bahwa dia adalah ciptaan.
Semuanya bangga
karena mampu berqurban yang
dikatakan, ada sekolompok golongan yang menangis dibalik orang-orang bangga dan
takabur dengan ilmunya, dengan
amalnya, dia merasa kecil, merasa rendah, mengikuti tuntunan Rasulullah,
mengikuti sikap tindak tanduknya Nabi Adam “Robbanaa
dholamna anfusana wailam tagfirlana watarhamna lana kuunanna minal khoosiriin“
Artinya :
“Ya Allah , kami telah mendholimi pada diri
kami sendiri, jika tidak engkau ampuni kami dan merahmati kami tentulah kami
menjadi orang yang rugi”
Orang itu malah
suka dengan pakaian kerendahan, dimana umat tertawa dan bangga dia malah
menangis didalam kerendahan, dimana umat merasa berbondong-bondong masuk surga
tapi dia tidak pantas masuk surga, golongan kecil itu menangis, golongan kecil
itu merendah, beda orang-orang yang merasa bahagia dan bangga dengan ibadahnya.
Rasulullah Saw
bersabda:
“Siapa
yang merasa rendah didalam hidupnya, dia diangkat oleh Allah” (HR. Muslim)
Bagaimana
dengan kita wahai saudaraku…???
Kita terbalik
malah kita lebih banyak bangga, lebih banyak takabur, lebih banyak “AKU”, lebih banyak tertawa daripada
menangisi dosa, buang jauh-jauh dihati kita!
Wahai saudaraku…
Mari kita latih
hati kita untuk merasa rendah… Kita latih hati kita dengan perasaan penuh dosa…
Karena sebentar
lagi kita akan menemui DIA YANG MAHA SUCI, DIA YANG MAHA MULIA, DIA YANG MAHA
KAYA, MAHA MENGAMPUNI DOSA.
Kita tidak akan
menemui Allah ketika perasaan bangga itu masih melekat didalam hati kita, maka
apa jadinya kita pulang dengan membawa perasaan kotor, membawa kesyirikan
perasaan “AKU”?
Astaghfirulloh…
Buang kebanggan… Tata hati kita merasa rendah dan merasa hina.
Kita harus berqurban apabila kita telah mampu
melaksanakan, tapi yang paling penting qurban
kita bukan menyembelih kambing ataupun sapi, akan tetapi makna yang paling
dalam hari raya idul adha adalah kita
qurbankan sifat-sifat hewani yang ada
didalam hati kita (perasaan mulia, perasaan kaya, perasaan, perasaan aku).
Apa arti kita
berqurban setiap tahun kalau kita
merasa bangga dengan hewan yang kita qurbankan,
Seribu kali qurban kalau binatang
didalam hati kita belum kita qurbankan
semuanya akan sia-sia.
Idul adha ini bukanlah bukan slogan kemenangan semu apabila kita bisa merenungi makna dibalik hari raya idul adha
Ingat Allah telah memperingatkan didalam Al Quran:
Ingat Allah telah memperingatkan didalam Al Quran:
“Daging-daging qurban dan darahnya itu
sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari
kamulah yang dapat mencapainya” (QS. Al Hajj 22 : 37)
Artinya sekali-kali
hewan yang kita qurbankan akan
sia-sia jikalau, ada satu biji atom “PERASAAN
AKU” didalam hati kita sehingga merasa mampu untuk berqurban, tidak sadar bahwa semua itu adalah karunia dari Allah SWT!
Mari kita
rendahkan jiwa kita, karena kita tidak akan bisa sowan kepada Allah apabila ada binatang-binatang najis yang
menguasai hati kita sehingga lahirnya seperti umat manusia yang baik, akan
tetapi dalamnya penuh dengan syaiton,
dalamnya penuh dengan hewan-hewan yang najis, dalamnya penuh dengan
patung-patung dunia yang belum kita qurbankan.
Maka potonglah
dengan pisau kerendahan, potonglah dengan pisau kehinaan, potonglah dengan
pisau kehampaan (NOL) tidak merasa apa-apa, sehingga hati kita bisa benar-benar
sowan dihadapan Allah dengan hati
yang selamat (bi qolbin salim).
Sehingga ketika
ritual tahalul (potong rambut)
dilakukan sebagai penutup ritual haji, manusia menjadi suci kembali, dimana
rambut digambarkan sebagai makhota kemuliaan akan tetapi ia tanggalkan ia ganti
dengan kerendahan dan kehinaan, saat itulah manusia telah paripurna seperti
bayi yang baru lahir tanpa ada bekas noda dosa sama sekali.
Semoga Allah
membersihkan hati kita, menyucikan roh kita, dan menerima hajinya umat Islam
seluruh dunia yang sedang melaksanakan ibadah haji saat ini.
Aamiin…
Catatan
kelam perjalanan “Al Fakir” yang hina
Dalam
bumi kerendahan, 07 Oktober 2014
“Hidup
Sekali Harus Berarti”
Refrensi diambil
dari kajian Alam Hikmah Ke – 136 :

0 comments :
Posting Komentar