Manusia ibarat seperti rokok, ada
bungkus adapula isi, ketika isi masih ada didalam bungkus, bungkuspun tidak
akan dibuang oleh pemiliknya, akan tetapi ketika bungkus sudah tidak berisi
lagi, maka si pemilik akan membuang bungkus rokok itu.
Begitupula manusia, ketika dalam
masa kontrak didunia dengan segala aksesoris yang ada (cantik, tampan, kaya,
miskin, terhormat, terhina) semua berlomba-lomba mempercantik dan memperindah
bungkus yang pasti akan ditinggal ketika isi telah habis masa kontraknya, akan
tetapi sayang jarang orang yang memperhatikan masalah isi, yang akan kembali
kepada pemiliknya.
Maka dari itu sudahkah kita
mempersiapkan diri untuk mengahadap Sang Penguasa Sejati yang suci, murni, tiada
sekutu bagiNya?
Wahai saudara-saudaraku, coba kita renungkan…
Adakah seorang punakawan (abdi)
membusungkan dada dihapadan Sang Raja?
Adakah seorang hamba bertepuk
dada ketika berhadapan dengan Sang Penguasa Sejati?
Tentulah tidak mungkin, karena
ketika berhadapan dengan yang Maha Ada, maka hamba WAJIB tiada!
Mustahil yang tidak ada bisa
berhadapan dengan yang Maha Ada!
Kita sudah terlena kenikmatan
yang ada didunia, sehingga semua berbondong-bondong kebahagiaan yang semu!
Kita sudah kehilangan jati diri
kita, jati diri sebagai hamba yang harus mengabdi kepada Tuhannya!
Kita sudah lupa dengan firman
Allah didalam Al Quran Surah Adz Dzariyah 56 : “Dan tidak Ku ciptakan jin dan manusia kecuali mengabdi kepadaKU”
Mestinya dengan akal yang sehat,
seorang hamba akan mempersiapakan untuk menghadap kepada Tuhannya, bukan malah
bangga dan bertepuk dada seperti Iblis ketika ia disuruh sujud dan menghormat
kepada Nabi Adam As.
Mari kita bersama-sama kembali ke
porsi awal, sebagai hamba yang banyak berlumuran dosa dan noda, karena tidak
akan lama kita pasti akan mati dan kembali kepadaNya
Jangan biarkan kita pulang masih
membawa bendera ”AKU” yang ditancapkan Iblis didalam jiwa manusia karena hidup hanya sekali, kita akan pulang, kita akan kembali kepada Sang
Pencipta, maka jangan sampai sesat dijalan!
Maka latih… latih… dan latih… perasaan rendah dan tiada itu!
Karena dengan perasaan itulah yang akan mengantarkan kita mengenal jati
diri yang sesungguhnya!
Ingat... sekali lagi, sakaratul maut hanya sekali dan harus menang!
Catatan kelam perjalanan ”Si
Fakir” yang hina
Dalam bumi kerendahan, 24
Oktober 2013
Hidup Sekali Harus Berarti

0 comments :
Posting Komentar