Suatu ketika di malam yang penuh
dengan prihatin memikirkan umat, tiba-tiba Rasulullah Saw mendapatkan wahyu surat
Ali ‘Imran [3] 190 -191 yang berbunyi :
"Inna fii khalqi alssamaawaati
waal-ardhi waikhtilaafi allayli waalnnahaari laaayaatin li-ulii al-albaabi"
190. Sesungguhnya dalam penciptaan langit
dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi
orang-orang yang berakal,
"Alladziina yadzkuruuna allaaha qiyaaman waqu'uudan wa'alaa junuubihim wayatafakkaruuna fii khalqi alssamaawaati waal-ardhi rabbanaa maa khalaqta haadzaa baathilan subhaanaka faqinaa 'adzaaba alnnaari"
191. (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.
Setelah mendapat wahyu ini seketika Rasulullah tidak kuat menahan tangisan sampai subuh, sehingga pada saat itu berkumpullah jamaah-jamaah menunggu untuk di imami Rasulullah Saw, akan tetapi Sang Terkasih tidak kunjung hadir, akhirnya sahabat Billal berkunjung kerumah Beliau Rasulullah Saw, saat Billal mengucapkan salam, dengan menjawab salam Billal tiba-tiba Sang Terkasih dengan suara paruh dan mata sembab seketika itu sahabat Billal bertanya kepada Baginda Rasul:
Ada apa wahai baginda Rasul? Tanya sahabat
Billal
Celakah-celakalah wahai sahabat Billal orang
yang membaca ayat ini tapi tidak mau berfikir tentang ayat ini!
Wahai saudara-saudaraku…
Dengan adanya wahyu yang barusan turun mari
kita berfikir akan datang dimana umat itu tidak menemukan Tuhan akan ada zaman
lebih dahsyat daripada zaman jahiliyah dimana pada saat itu orang-orang menyembah
patung-patung yang diciptakan yang diletakkan disekeliling ka’bah, akan tetapi
pada zaman itu lebih parah karena manusia akan menyembah pikiran dan otaknya.
Afala tatafakkarun….
Kenyataan ilmu pengetahuan sudah merambah
kehidupan masyarakat baik itu ilmu agama ataupun umum. Banyak anak bangsa ini
yang handal dan pandai, serta mempunyai title SARJANA sampai DOKTOR dan juga banyak
anak bangsa yang diakui keilmuannya sampai keluar negeri, pendidikan
dimana-mana maju dengan pesatnya sehingga tak ada orang yang tak terpelajar,
HEBAT..!!!
Tapi kenyataannya semuanya tidak mampu untuk
mewujudkan karakter bangsa sehingga semakin banyak ilmu dan kepandaian, semakin
diagung-agungkan dan bangga dengan ilmunya, akhirnya jatuh dalam lubang
pengakuan merasa mampu, merasa alim, merasa pandai, sehingga semakin pandai semakin
merasa inilah “aku”!
Inilah yang akan muncul dan mungkin diri kita
memotori bahwa munculnya otak akan disembah bagaikan Tuhan, walaupun lisan
mengatakan Tuhanku adalah Allah, akan tetapi kenyataannya bangga dengan
pikirannya, bangga dengan penemuannya bahkan dengan otaknya dia mengatakan
seperti Fir’aun mengaku menjadi Tuhan.
Maka terjadi ketika Fir’aun hanya menggunakan
akal dan pikiran tidak menggunakan hati yang suci, nikmat yang diberikan oleh
Allah di “aku” 100% sehingga dia mengatakan “Ana Robbukumul A’la” (aku
adalah Tuhanmu yang tertinggi), inilah kejahatan rohani bila kita lupa
dengan kebersihan jiwa sehingga otak dipertuhankan, akhirnya manusia berani
mengaku sebagai tuhan!
Inilah ayat menggunakan pikiran dan otak yang
mampu untuk mengangkat jiwa sehingga jiwa sadar karena otak mampu bertafakkur
terjadinya alam, tapi dengan adanya fenomena ini bagaimana ketika kita
mendewa-dewakan otak, manusia akan semakin jahat karena tidak ada kolaborasi
antara jiwa yang suci dengan otak dan pikiran.
Manusia mengaku sebagai “Sang Pencipta”,
penemuan-penemuannya, orang mengaku dirinya mampu melakukan aktivitas padahal
semua itu datang dari Allah (LAA HAULAA WALAA QUWWATA ILLAA BILLAH) .
Apakah kita tidak menggunakan pikiran? artinya
pikiran yang mampu menembus ke cakrawala batin sehingga manusia mengenal
gerak-geriknya, apapun yang dilakukan semuanya bukan milik kita karena kita
bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa karena asalnya tiada dan diadakan menjadi makhluk.
“Qul kullum min 'indillah
(Katakanlah : "Semuanya datang dari sisi Allah")” An Nisa' [4]: 78
Maka fenomena alam terjadi di zaman ini banyak manusia termasuk mungkin
diri kita menyembah otak kita, menyembah pikiran kita, menyembah
penemuan-penemuan kita, tidak ada bedanya dengan zaman jahiliyah, ketika
manusia menemukan bentuk patung-patung sesuai dengan imajinasinya saat itu
patung yang diciptakan disembah oleh umat jahiliyah akan tetapi sekarang bukan
menyembah patung akan tetapi menyembah ciptaan itu sendiri, di “aku” bahkan
manusia lebih parah menyembah otak dan pikirannya sendiri.
Posisi kita dimana? Sedangkan Allah mengatakan
gunakan otak dan pikiranmu untuk menemukan “AKU” Sang Pencipta, tapi sekarang
kita berbalik menggunakan otak dan pikirannya untuk dijadikan Tuhan!
Alangkah biadabnya pikiran manusia termasuk
diri saya ini, ketika diberi kepandaian, ilmu pengetahuan dan teknologi diberi
oleh Allah luar biasa bagaikan hujan turun dari langit yang tiada
henti-hentinya manusia tidak semakin dekat dengan Tuhan akan tetapi manusia
semakin dekat dengan otak dan pikirannya, akhirnya disembah, disanjung,
seakan-akan Tuhan ada di otak kepalanya, ada didalam tempurung kepalanya.
Turunkan ke hati wahai diri kami dan
saudara-saudaraku…
Temui Tuhanmu dengan menggunakan hatimu bukan akal
pikiranmu...
“Yawma laa yanfa'u maalun walaa
banuuna, illaa man ataa allaaha biqalbin saliimin (Asy-Syu'araa [26] : 88 -89)
Dihari itu ketika kita akan menemui sakaratul
maut yang hanya satu kali itu tiada yang manfaat, anak-anak kita dan
dunia-dunia kita bahkan juga pikiran-pikiran kita bahkan juga aktivitas kita
saat itu yang berlaku adalah melainkan orang sowan kepada Allah, yang sowan ini
bukan otak dan pikiran akan tetapi hati, jiwa dengan hati yang bersih dan
selamat!
Sedangkan kita menghadap kepada Allah masih
merasa dan mengandalkan selainNYA!
Bagaimana posisi kita saat ini?
Maka besihkan dari anasir-anasir (nafsu) otak dan
pikiran kita, begitupula kita yang hanya menggunakan otak dan pikiran kita, “Lillah
Billah” akan menjadi wacana sehingga berbahaya karena hanya mengerti
akan tetapi tidak mampu untuk mengetrapkan, tidak bisa merubah akhlaqul karimah dalam surah Ash Shaaf:
Kabura maqtan 'inda allaahi an taquuluu
maa laa taf'aluuna (Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa
yang tidak kamu kerjakan) (QS – Ash Shaff [61] : 2)
Bagaimana posisi kita?
Maka leburkanlah, tenggelamkanlah, karena semua
milik Allah dan kita harus sadar bahwa diri kita bukan siapa-siapa dan bukan
apa-apa, inilah yang kami maksud sadar bahwa diri kita NOL, karena NOL bukan
ajaran akan tetapi kesadaran jiwa tidak memiliki perasaan dan kemampuan, karena
Illa Billah miliknya Allah!
Untuk teman-temanku yang terkasih di Alam Hikmah, inilah selayang pandang perjalanan anak manusia dengan akal, otak dan pikirannya! Bahaya ketika otak tidak berkolaborasi dengan jiwa yang suci.
Otak kita bisa menyelamatkan hati apa belum?
Otak kita bisa berkolaborasi dengan hati belum?
Apa hati kita justru terpengaruh?
Sehingga hati kita malah menyembah otak, menyembah
pikiran, tidak kenal kepada Sang Pencipta!
Silahkan otak dikembangkan akan tetapi hati jangan
pernah dilupakan!
”Apabila segumpal daging itu baik maka
baik semuanya dan apabila segumpal daging itu jahat maka jahat semuanya dan
ketauhilah itulah hati!”
Bagaimana dengan hadist ini? dan bagaimana dengan
upaya kita? apakah lupa bahwa ini pesan Rasulullah?
Ingat wahai saudaraku...!!!
Baik dan jeleknya manusia bukan dari otaknya akan tetapi
dari hatinya, sedangkan otak dan pikiran yang dikuasai hati akan membantu
manusia menjadi INTELEKTUAL WALI dan WALI YANG INTELEKTUAL yang sadar kepada
Allah.
Akan tetapi ketika hati telah dikuasai otak dan
pikiran maka akan muncul intelektual-intelektual yang melupakan Tuhannya
walaupun lisan mengatakan aku menyembah Tuhan akan tetapi jiwa menyembah akal
pikirannya!
Catatan
perjalanan ”Si Fakir” yang hina
Dalam
bumi kerendahan, 29 Oktober 2013
Hidup
Sekali Harus Berarti

Izin copy ,n share
BalasHapusFafiruu ilalloh
Salam kenal
BalasHapusLuar biasa prof...terima kasih
BalasHapusHati sebagai raja dalam dada yang mengendalikan isi otak
BalasHapus