Persiapan pulang kembali kepada Allah:
Diakhir zaman
memengang perkara agama sangat sulit sekali, tanda-tanda kiamatpun sudah
terlihat, fitnah telah merajalela sehingga menjadikan kita jauh dari kebenaran
dan siapa yang membawa kebenaran (agama) bagaikan seperti memegang bara api
artinya sangat berat sekali dan kita harus sabar dengan segala macam ujian yang
menerpa.
Suatu saat
ketika para sahabat sedang duduk-duduk bersama Rasulullah Saw, tiba-tiba datang
seorang laki-laki berpakaian putih, rambutnya hitam, bekas jalannya tidak
terlihat dan tak seorangpun diantara sahabat mengenalnya.
Ia langsung
duduk dihadapan Nabi dan mendekatkan lututnya ke lutut Rasulullah Saw,
meletakkan pula kedua telapak tangannya di atas paha Beliau Rasulullah Saw
sambil berkata, “Yaa Rasul, terangkanlah kepadaku tentang apa itu Islam?”
Rasulullah Saw
menerangkan, “Islam adalah hendaknya kamu bersaksi bahwa Tidak ada Tuhan selain
Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, membayar zakat,
melakukan puasa di bulan Ramadhan dan melakukan ibadah haji ke Baitullah jika
memenuhi syaratnya.”
Ia menimpali, “Engau
benar” Kami semua heran, dia
bertanya tapi langsung pula membenarkannya.
Sejurus
kemudian dia berkata, “Sekarang, terangkanlah kepadaku tentang
Iman!” Rasulullah berkata, “Yaitu engkau beriman kepada Allah, kepada
para malaikatnya, Kitab-kitabNya, para rasulNya, dan hari kiamat serta engkau
beriman kepada baik dan jelaknya takdir”
Lelaki itu
menimpali, “Engkau benar!”
Katanya lagi, “Selanjutnya
terangkanlah kepadaku tentang IKHSAN!”
Maka Rasulullah
Saw menerangkan, “Ikhsan itu ketika engaku beribadah kepada Allah seakan-akan engkau
melihatNya, akan tetapi ketika engkau tidak bisa seperti itu keyakinanmu harus
kuat bahwa engkau berada itu diawasi oleh Allah”
Orang itu
kembali bertanya, “Beritahukanlah kepadaku tentang terjadinya hari Kiamat?” Jawab
Nabi, “Tidakkah orang yang bertanya lebih mengetahui daripada yang ditanya?”
Orang itu berkata lagi, “Kalau
begitu beritahukanlah tanda-tanda terjadinya hari Kiamat!”
Rasulullah
menerangkan, “Jika budak wanita telah melahirkan tuannya, jika engkau melihat orang
yang bertelanjang kaki, tanpa memakai baju (miskin papa) serta penggembala
kambing telah saling berlomba dalam mendirikan bangunan megah yang menjulang
tinggi” Kemudian orang itu berlalu.
Kami semua
terdiam beberapa saat, lalu Rasulullah Saw bertanya, “Wahai Umar, tahukah kamu,
siapakah yang bertanya tadi?”
Umar menjawab, “Allah
dan RasulNya yang lebih tahu”
Rasulullah Saw berkata, “Dia sebenarnya adalah Jibril. Ia datang untuk mengajari kalian tentang Islam”
Wahai
saudaraku…
Malaikat
Jibril telah mendatangi Rasulullah Saw untuk mendidik umatnya supaya tahu yang
dimaksud agama yang sesungguhnya itu seperti apa, karena diakhir zaman ini
memegang keutuhan agama digambarkan seperti memegang bara api yang panas.
Ingat
sabda Rasulullah Saw:
“Islam pertama muncul dalam keadaan asing, dan akan kembali dalam keadaan asing pula, maka beruntunglah orang-orang yang terasingkan itu.” (HR. Muslim no. 208)
Salah satu Sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang asing itu?”
Beliau menjawab, “Orang-orang yang berbuat kebaikan disaat umumnya orang-orang telah banyak membuat kerusakan-kerusakan.” (HR. Ahmad 13/400 dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Shahih wa Dha’if Al-Jami’ no. 7368)
Salah satu Sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang asing itu?”
Beliau menjawab, “Orang-orang yang berbuat kebaikan disaat umumnya orang-orang telah banyak membuat kerusakan-kerusakan.” (HR. Ahmad 13/400 dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Shahih wa Dha’if Al-Jami’ no. 7368)
Jadi agama yang
utuh itu adalah pengetrapan islam didalam syariatnya, mengetrapkan iman didalam
hatinya dan mengetrapkan ma’rifat adanya ikhsan bahwa kemanapun kita beribadah
harus memandang Allah dan apabila tidak mampu harus merasa diawasi oleh Allah.
Kalau ada orang
diakhir zaman ketika memengang 3 perkara haq itu, dengan sabar walaupun ujian
sangat merajalela, dicacimaki, direndahkan, bahkan dihina.
Itulah tanda
bahwa dunia ini sudah tua!
Maka
permasalahannya ketika agama itu mencapai ikhsan, umat sama bingung sehingga
ada yang berpendapat itu belum waktunya sehingga mengamalkan ajaran ikhsan
harus menunggu 40 tahun, kalau tidak akan menjadi gila.
Inilah
pendapat-pendapat diakhir zaman kalau kita benar-benar memegang agama secara
utuh, bila perlu tidak ada teman yang datang, karena dianggap sesat, dan
dianggap gila.
Ternyata
pedoman pedoman Syeikh Ibnu Arobbi
"MAN
SYAHIDAL KHOLQO LAA FI'LA LAHU FAQOD FAAZA, WAMAN SYAHIDAHU LAA HAYAATA LAHU
FAQOD HAAZA, WAMAN SYAHIDAHU 'AINAL 'ADAMI FAQOD WASHOLA."
Orang
yang memandang makhluk (termasuk dirinya sendiri) tidak ada kemampuan, tidak
bisa berbuat apa-apa seperti wayang, itu dikatakan sudah agak lumayan, Orang
yang memandang makhluk (termasuk dirinya sendirinya) tidak hidup (yang hidup
hanya ALLAH SWT), ini yah, dikatakan sudah lebih meningkat, dan orang yang
memandang makhluk, melihat, mengingat, merasa ataupun memikir-mikirkan makhluk
semuanya itu tidak ada sama sekali (NOL) , FAQOD WASHOLA itulah orang yang
sejatinya wushul/ihksan (sadar) kepada ALLAH SWT.
Orang hatinya
itu buta, ketika ada dalang memainkan wayang, hati yang buta itu yang dilihat
wayangnya bukan dalang yang menggerakkan wayang artinya belum mengetrapkan
ikhsan, sehingga yang dilihat hanya dirinya sendiri, ketika kuat menganggap
dirinya kuat, ketika berhasil mengganggap dari hasil jerih payahnya, akhirnya
mengandalkan kekuatannya, mengandalkan hasil jerih payahnya.
Yang haji
mengandalkan hajinya, yang kaya mengandalkan kayanya, yang alim mengandalkan
ilmunya, karena buta bahwa semua itu datang dari Allah, seperti wayang ketika
menang lupa ada dalang yang memainkan, karena wayang tidak bisa bergerak tanpa
gerak dari dalang, karena wayang hakekatnya tidak pernah ada sama sekali
Bagaimana
dengan kita wahai saudaraku…
Padahal
Rasulullah Saw mengatakan, didalam kisah pertemuan dengan malaikat Jibril,
kalau kita beribadah (bisa haji, bisa sholat, bisa mujahadah, bisa melakukan
pekerjaan), kita harus memandang bahwa semua bukan milik kita.
Akhirnya dengan
hati terbuka, tidak ada keraguan sama sekali, bahwa wayang itu tidak akan bisa
menang kecuali dimenangkan oleh dalang, tidak akan pernah ada kalau tanpa
diadakan sang dalang, orang inilah yang telah mengetrapkan IKHSAN, dan pengetrapan
ini dihati sehingga timbul rasa, setelah itu rasapun harus hilang karena yang
sesungguhnya semuanya itu ciptaan yang hakekatnya tidak pernah ada (wujud),
Sedangkan
sampai pengetrapan dihati ini butuh hidayah, sedangkan hidayah itu diperoleh
dari MUJAHADAH.
“AL
MUJAHADATU MIFTAHUL HIDAYAH LAA MIFTAAHA LAHAA SIWAAHAA” (kitab IHYA, hal 39)
INGAT…!!! KITA AKAN MATI! KITA AKAN PULANG!
Sudahkan kita
seperti itu?
Bahwa semua itu
datang dari Allah, atau datang dari kita sendiri?
Ketika kita
kaya apakah sadar bahwa semua itu datang dari Allah atau malah kita aku?
Ketika kita
mulya apakah sadar bawa semua itu datang dari Allah atau malah kita aku?
Kadang-kadang
kita merasa tinggi, merasa benar sendiri, sehingga sehingga mudah menyalahkan
orang lain, mudah mengkafirkan orang lain.
BAGAIMANA DENGAN KEADAAN KITA WAHAI
SAUDARAKU…???
Kelihatannya kita
bagus dimata orang lain, tidak pernah berbuat maksiat, tapi nyatanya kosong
tiada arti disisi Allah!
Agama tidak
boleh tercoreng, ketiga aspek (Iman,
Islam, Ikhsan) itu harus tertanam didalam hatinya umat yang diajarkan
malaikat Jibril kepada Rasulullah Saw.
Maka timbulnya
kita mengaku karena tidak ikhsan, dan sebab timbulnya segala maksiat sebab kita
merasa hidup, tidak mengerti semua itu datang dari dalang, sehingga
wayang bisa menang itu sebab dari wayangnya bukan dari dalang. Ini sungguh
terkecam!
“KALLAA
INNAL-INSAANA LAYATHGHO AN ROAAHUS TAGHNA”
(Al Alaq 96 : 6)
“Sungguh,
manusia itu telah melampaui batas”
Maka wajib kita
harus mujadahah supaya timbul hidayah, sedangkan mujadah sendiri itu ada tiga
tingkatan :
Pertama :
Mujahadah umum
Mujahadah
lembaran sampai 10 kali dalam sehari, mujahadah peningkatan, Yaa Sayyidii Yaa
Roosulullah 11.000 ribu kali!
Fokus yang
penting wirid harus tetap berjalan sehingga mengandalkan wirid, mengandalkan
mujahadah, mengandalkan sholat, karena berpendapat dengan ini saya mendapat
hidayah.
Ini sangat
baik, hidup sekali harus dipaksa dengan ibadah!
Kedua :
Mujahadah
tingkat khusus, disamping mujahadah pertama dilakukan, tapi ada tambah batinnya
diisi dengan fokus kerendahan yang ia latih, disamping mujahadah ia lakukan,
kerendahan pun juga ikut dilatih, sehingga didalam hatinya tertanam perasaan
rendah (saya penuh dholim), tiada arti,
Apakah kita
selama ini sudah melatih kerendahan?
Ingat Allah
memilih hambanya melalui kerendahan, bukan unggul ibadahnya
“Allahu
yajtabi ilaihi man yasya-u”
Ingat kisah
pelacur yang melakukan dosa besar, diangkat karena kerendahannya ketika memberi
minuman kepada seeokor anjing!
Apalagi itu
orang baik, orang sholeh yang melatih perasaan rendah akan diangkat,
Ketika
mujahadah dilatih menangis, dilatih merendah, dilatih bahwa diri ini tidak ada
apa-apanya sehingga dia menghilangkan perasaan lain, sehingga yang diandalkan
hanya Allah.
Apa ada orang
rendah merasa baik? Tidak ada!
Apa ada orang
rendah menghina orang lain? Tidak ada!
Karena
kerendahannya mengantarkan dipilih oleh Allah!
Orang yang
merendah banyak menangis,
Orang yang
merendah akan nampak dosanya, dan ketika nampak kerendahan akan langsung
diampuni oleh Allah.
Tapi bagaimana
Allah akan mengampuni kita walaupun kita ahli mujahadah, kita ahli istighfar
akan tetapi tidak ada kerendahan didalam diri kita?
Maka latih dan sibukkan
diri kita melatih untuk merendah, mulai hari ini dilatih, karena hidup kita
terbatas. Insya Allah Khusnul Khotimah didalam akhir perjalanan kita.
Ketiga :
Mungkin orang
ini dipilih menjadi “JENDRALNYA PARA
KEKASIH ALLAH”, dan Allah menutup rapat-rapat maqom ini sehingga tidak ada
yang nampak dan tahu, bila perlu itu adalah seorang pemulung.
Karena selain
melatih mujahadah, kerendahan dilatih terus semua itu di NOL kan, dilepas,
sehingga mengerti bahwa semua itu gerak-gerik dari dalang, bahwa semua itu yang
ada hanya sang dalang inilah yang disebut ikhsan.
Ketika ia bisa
bermujahadah ia merasa bahwa semua ini pertolongan dari Allah!
Ketika ia bisa
merendah ia merasa bahwa semua ini pertolongan dari Allah!
Bahakn ketika
ia bisa NOL, ini semua dari Allah!
Tidak ada
pengakuan merasa “AKU” sedikitpun didalam hatinya, sebab ini bukan miliknya
karena lahir tidak membawa apa-apa, Ini yang disebut “MAQOM INZAL” ya inilah jendralnya wali (kedudukan tertinggi
kekasih Allah). dimana Allah memberikan sifat-sifatnya kepada Hambanya sehingga
mengetrapkan ikhsan, ketika memandang dalang hilanglah rasa “AKU” didalam dirinya yang disebut “ANANIYAH”.
“ANANIYAH” itu adalah nafsu yang paling
licin, bentuknya berubah-rubah dari sifat satu ke sifat lain sampai disebut
musuhmu yang utama adalah dirimu sendiri, sebab kita tidak mengenal musuh kita.
Ketika tidak
tenggelam, tidak rendah, atau tidak merasa dari Allah, pasti “AKU” itu muncul didalam hati kita!
INGAT UTUHNYA AGAMA SEPERTI ITU!
Maka ketika si
hamba sampai pada “MAQOM INZAL”
didalam hatinya ditanami tauhid yang murni sehingga hilangnya pengakuan didalam
dirinya, akhirnya didalam hatinya tertancap saya tidak bisa ingat kepada Allah,
saya tidak bisa rendah kepada Allah, saya tidak bisa ikhsan kepada Allah.
Bawa mati perasaan ini sampai dihadapan
Allah!
Jangan
sekali-kali membanggakan amal, membanggakan mujahadah, mati bukan khusnul
khotimah akan tetapi mati suul khotimah!
Mulai detik ini
tanam perasaan itu (rendah dan NOL)!
Apa arti
mujahadah tanpa perasaan itu?
Apa arti sujud
tanpa perasaan itu?
Sesungguhnya
kita ghosab dihadapan Allah!
“Maka sungguh heran ketika dia lari dari
kenyataan bahwa semua datang dari Allah”
Ingat..!!!
Orang bodoh itu
tidak kenal dengan Allah!
Orang bodoh itu
lari dari Allah!
Orang bodoh itu
tidak sadar bahwa semua datang dari Allah!
Sehingga semua
di “AKU” tidak tahu bahwa semua itu
datang dari Allah!
Maka musuhmu
yang paling berat adalah “AKUMU”!
Sekali merasa
baik sekali itu tidak akan sampai kepada Allah!
Sekali merasa
mulia maka terlempar dari wilayah maqom kekasih ALLAH
Sekali membenci
sekali itu terlempar tidak sampai kepada Allah!
Maka
perangi-perangi… karena hidup ini adalah perjuangan
INGAT…!!!
HIDUP SEKALI HARUS BERARTI, JANGAN
SIA-SIAKAN KESEMPATAN YANG HANYA SEKALI! KARENA KITA AKAN PULANG, SEBENTAR LAGI
KITA AKAN MATI MENINGGALKAN DUNIA YANG FANA’ INI!
JANGAN SAMPAI ADA PERASAAN AKU, KETIKA KITA
BERHADAPAN DENGAN ALLAH!
BUANG PERASAAN AKU… BUANG PERASAAN MAMPU…
BUANG PERASAAN MEMILIKI…
LATIH PERASAAN RENDAH… LATIH PERASAAN PENUH
DOSA… LATIH PERASAAN TIDAK MAMPU BAHWA SEMUA DATANG DARI ALLAH (NOL)!
INGAT…!!!
DUNIA BUKAN TEMPAT UNTUK SEKEDAR MENCARI
KESENANGAN HIDUP
DUNIA BUKAN TEMPAT UNTUK SEKEDAR MENGHIAS
KEMULIAAN HIDUP
DUNIA BUKAN SEKEDAR UNTUK MEMENUHI
KEBUTUHAN HIDUP
KARENA DUNIA INI ADALAH SUATU PERJALANAN
UNTUK MENEMUKAN SIAPA JATI DIRI HIDUP INI SEBENARNYA!
SEMOGA ALLAH MEMBERIKAN TAUFIQ DAN
HIDAYAHNYA KEPADA KITA SEMUA, SEHINGGA DI AKHIR PENGUHUJUNG HIDUP KITA MATI
DENGAN MEMBAWA IMAN, ISLAM, DAN IKHSAN!
------
Catatan
perjalan “Al Fakir” yang hina
Dalam
bumi kerendahan, 04 Desember 2014
“Hidup Sekali Harus Berarti”
------
Refrensi diambil dari kajian Alam Hikmah Ke-140 : "3 Tingkatan Mujahadah"

0 comments :
Posting Komentar