“Telah dekat kepada manusia hari menghisab segala amalan mereka, sedang
mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling (daripadanya).” (QS Al Anbiyaa
[21] : 1)
Wahai saudaraku....
Semua pasti
akan merasakan mati dan ingat mati tidak mengenal waktu, kapan saja malaikat
Izroil menjemput tanpa kata kompromi, maka sewaktu-waktu kita harus siap sewaktu-waktu
menjemput kita, akan tetapi ironinya banyak diantara kita lengah, lalai bahwa
perbuatan kita akan dipertanggungjawabkan padahal hari berhisab dan hari untuk
menghitung amal-amal sudah sangat dekat sekali. Ini akan terjadi pada diri
kita, dan mayoritas dari kita tidak memperhatikan masalah yang sangat pokok itu,
karena lengah, dan kita sebagai manusia akan mengalami penyesalan yang
sungguh-sungguh, karena kita tidak mungkin akan kembali kedunia dan akan
meneruskan perjalanan ke akhirat.
Dalam kitab Nashoihul Ibad yang sangat mashyur
dikarang oleh Syaikhina Nawawi Al Bantany
Dari Abi Bakar
As-Shiddiq RA :
“Barang
siapa yang memasuki kubur tanpa membawa bekal yaitu berupa amal shalih maka
keadaannya seperti orang yang menyeberangi lautan tanpa menggunakan perahu.
Maka sudahlah pasti ia akan tenggelam dengan setenggelam-tenggelamnya dan tidak
mungkin akan selamat kecuali mendapatkan pertolongan oleh orang-orang yang
dapat menolongnya”
Pun juga sebagaimana
sabda Rasulullah SAW:
“Tidaklah
seorang mayat yang meninggal itu, melainkan seperti orang yang tenggelam yang
meminta pertolongan.”
Tolong kita camkan dan perhatikan wahai saudaraku…!!!
Apapun kita
lakukan tidak akan bisa kembali, kalau sudah terlanjur baik maka baiklah diri
ini, tapi kalau sudah terlanjur jatuh sulit untuk menghapus, maka sisa hidup
ini harus berarti, hal-hal yang negative harus dibuang jauh-jauh didalam hati
kita. Apapun harus dipaksa untuk baik, dipaksa untuk tunduk, dipaksa untuk taat
kepada ALLAH, mencintai ALLAH dan RASULNYA, serta mencintai perjuangannya.
Ini harus
dipaksa walaupun banyak gangguan, karena gangguan yang membuat manusia terlena
itu sampai masuk liang kubur gangguan itu baru berhenti.
Manusia dijebak
oleh dunia, dijebak oleh pekerjaan, dijebak dengan kesenangan, sehingga manusia
akan terlena,sehingga sampai di alam kubur baru tahu, ketika mulut ini disumpal
dengan tanah kubur itu baru sadar. Saat itu nasi telah menjadi bubur,
penyesalan tinggal penyesalan tiada berarti.
“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu,
sampai kamu masuk ke dalam kubur” (QS At Takaatsur [102] : 1-2)
Wahai saudaraku…
Kita baru saja
melaksanakan gemblengan dari ALLAH, di training
center untuk latihan batin, latihan
jiwa yaitu masuk dibulan SUCI RAMADHAN
yang begitu melimpah kasih sayang, ampunan dan rahmatNya. Tapi apakah masih ada
bekas, sifat kerendahan dan penuh banyak dosa itu, seperti pada saat kita
memasuki bulan SUCI RAMADHAN? atau malah semakin parah penyakit rohani kita
seperti IBLIS yang semakin sombong, suka menghasud, adu domba, dan penyebar
fitnah?
Jangan-jangan
diri saya atau pembaca yang budiman, diluar manusia akan tetapi didalam diri ini tertanam
bibit-bibit IBLIS (merasa aku baik, merasa aku mulia, merasa aku ahli ibadah,
dan sebagainya)!
Mari kita
koreksi pribadi kita wahai saudaraku…
Maka luar biasa
kasih sayangnya ALLAH SANG PENCIPTA masih memperhatikan diri yang penuh dosa
ini, masih mendapat kasih sayang, ampunan dan rahmatNya, tapi kita pernah
memperhatikan, jujur saja tidak ada cinta sama sekali, yang ada hanya cinta fatamorgana.
Dan 10 hari
yang ketiga dilepaskan oleh ALLAH dari neraka, tapi neraka mana yang ada
didunia ini, sebagian ulama di bidang rohani mengatakan bebas dari Narul Hijab (neraka yang menjadikan
manusia tidak sadar kepada ALLAH) sehingga bebas daripada hijab yang membuat
pandangan hatinya tembus dihadapan ALLAH, sehingga nampak semuanya selain ALLAH
adalah PALSU, akhirnya hati tidak terpengaruh (takjub) dengan gebyarnya dunia
dan tidak takut pada apapun baik jatuh, rugi, maupun kehilangan karena memang
dunia diciptakan untuk jatuh, rugi, kehilangan.
Dan orang
terkena Narul Hijab akhirnya
senantiasa pandangannya menyangka jelek kepada ALLAH, sehingga apa yang ALLAH
berikan yang ada hanya jeleknya. Dan ketika mengalami kemrosotan otomatis TUHAN
yang disalahkan tidak bisa menyangka bagus, tidak bisa menyangka benar kepada
ALLAH, yang ada hanya prasangka jelek dihadapan ALLAH.
Contoh:
Ketika dirinya
mengalami sakit, sangkaan-sangkaan malah jelek keluar sehingga bukan hikmah
yang ia cari tapi malah mengambing hitamkan ALLAH sehingga ia berpendapat bahwa
ALLAH tidak adil dan tidak kasih sayang. Akan tetapi ketika Narul Hijab itu terbuka, maka si hamba
hanya positif thingking kepada ALLAH,
justru sakit itu adalah rahmat yang diberikan oleh ALLAH kepada dirinya, justru
sebab sakit inilah semakin dekat kepada ALLAH.
Ingat wahai saudaraku…!!!
“SATU SANGKAAN JELEK (SUUDHZON), TERGANJAL
SUDAH PERJALAN KITA KEPADA ALLAH”
Dan ingat wahai
saudaraku…!!!
Orang hebat
tidak pernah merasa rugi!
Orang yang
bersama ALLAH tidak merasa takut kehilangan!
Orang yang
bersama ALLAH ia selalu positif thingking
dan positif feeling!
Karena semua
akan kita tinggal, anak-anak & istri yang kita cintai, keluarga kita
sayangi, bahkan jasad yang kita cintai akan kita tinggal, telinga yang sehat
akan kehilangan pendengarannya, mata yang sehat akan kehilangan penglihatannya.
Dan ketika Narul Hijab diangkat oleh Allah, saat
itu bebas dari pengakuan, sehingga sifat aku didalam jiwa itu hilang walaupun
sebesar debu didalam dirinya, sehingga aku pintar, aku kaya, aku diberi hidayah
otomatis hilang, akhirnya manusia “NOL” tidak ada pengakuan sedikitpun didalam
dirinya, saat itulah ia menduduki maqom
iman “Haqqul Yaqin” karena manusia
diperkenankan oleh Allah untuk beserta DIA.
“Wahuwa ma akum ainamaa kuntum” (dan Dia
bersama kita dimanapu berada)
Tapi bagaimana
dengan diri kita wahai saudaraku…???
Apakah hati kita
sudah bisa menghilangkan sifat aku? Ataukah masih ada perasaan bangga? Masih
ada perasaan benar? Masih ada perasaan mulia?
Maka wahai
orang-orang yang beriman takutlah kepada Allah dengan sebenar-benarnya takut
sehingga tidak ada pengakuan didalam diri kita kita, sehingga “laa
haulaa wala quwwata illa billah” mencap dan menghujam didalam jiwa ini.
Indahnya hidup
ini karena kita Idul Fitri dan kita betul-betul mendapat predikat kita
“la
allakum tattaqun”
Bagaimana
dengan kita wahai saudaraku?
Padahal baru
berselang beberapa bulan lewat, akan tetapi hati kita kotor (takut dengan
keadaan, takut dengan makhluk) lebih parah lagi keakuan didalam diri kita
semakin parah!
Ingat! hidup ini sekali wahai saudaraku, maka
prinsip kita harus berarti!
Kita baru
menang, tapi kenyataanya hati kita masih keras, banyak menyangka, banyak
menghasud, serta adu domba!
Kalau kita
menang pasti banyak merendah, mudah menangis, mudah menyadari kalau kita salah
tidak pernah menyalahkan orang lain karena hati kita bersih dari penyakit hati.
Maka orang yang fitrah tidak pernah mementingkan dirinya sendiri, lisannya
hanya terdengar ucapan selamat karenaia berselimut dengan ridhonya ALLAH.
Satu kata yang
kita ucapkan akan dimintai pertanggungjawaban!
Satu langkah
yang kita gerakkan juga akan dimintai pertanggungjawaban!
Karena semua
akan kembali kepadaNYA!
Ingat…!!!
Orang yang
fitrah hati seperti bayi yang baru lahir, yang terlihat hanya dengan kerendahan
dan air mata yang benar-benar tulus menjadikan hatinya benar-benar bersih (NOL
dari pengakuan) sehingga didalam dirnya benar-benar menyadari bahwa ia bukanlah
apa-apa dan bukanlah siapa-siapa!
-------------------------------------------------------------
Catatan kelam perjalanan “Al Fakir” yang hina
Dalam Bumi Kerendahan, 16 September 2014
“Hidup Sekali Harus Berarti”
Refrensi kajian Alam Hikmah ke - 136: "Bagaimana Keadaan Hati Kita Setelah Idul Fitri Berlalu?"

0 comments :
Posting Komentar