Ingatlah wahai saudara-saudaraku…!!!
Wahidiyah bukan hanya sekedar dibaca
dan diamalkan akan tetapi titik akhir perjuangan Wahidiyah adalah AKHAQUL
KARIMAH…!!!
Maka dari itu..
Jangan bangga ketika kita menjadi
seorang pengamal selagi hati kita jahat!
Jangan bangga ketika mujahadah kita
meningkatakan tetapi diri kita sebagai ahli fitnah dan ahli menghujat!
Jangan bangga ketika kita bisa menyiarkan
amalan Sholawat Wahidiyah kepada ummat akan tetapi kita sebagai pengrusak tidak
mencerminkan akhlaq pembimbingnya (Al Mukarrom Al HabibSayyid Abdul
MadjidMa’roef Ra) yang lemah lembut, santun, pemaaf dan kasih sayang!
Wahai diriku… wahai saudaraku…. resapi dan renungkanlah fenomena ini…!!!
Perjalanan kita masih jauh,
berliku dan terjal, tidak ada jaminan diujung hayat kita mati khusnul khotimah!
Jangankan sampai kepada Tuhan,
mengenal Dzatnya pun kita tidak mampu, karena sifat ANANIYAH masih melekat kuat
dalam jiwa kita, sehingga menjadi hijab yang tebaluntuk mengenal jati diri hamba
yang lemah dan tiada arti, akhirnya bermunculan patung-patung sesembahan baru dimuka
bumi mengatasnamakan KEAKUAN!
Inilah yang menjadi “AKAR PERMASALAHAN” manusia sehingga hilang
“AKHLAQUL KARIMAH” yang santun, lemah
lembut dan kasih sayang.
Sehingga antara satu dengan yang
lain saling curiga, suudzon,mencari kelemahan dan kesalahan orang lain akhirnya
timbullah bibit-bibit fitnah.
Maka dari itu mari kita sama-sama
mengoreksi diri untuk perbaikan bukan mengoreksi orang lain mencari kelemahan dan
kesalahan, karena Allah sudah memperingatkan kita didalam Al
Quran Surat Al Hujurat - 12:
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan
purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan
janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama
lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang
sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada
Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang”.
Sungguh aneh dan ajaib WAHIDIYAH
sebagai SHOLAWAT spesalis pembersih hati dan jiwa dari virus ANANIYAH, akan tetapi
jiwa ini masih jauh dari sifat kasih sayang dan lemah lembut.
Mungkin mujahadah kita hanya sebatas
ucapan dibibir sehingga hanya bungkusnya saja yang bermujahadah akan tetapi hati
(jiwa) tidak pernah kita libatkan untuk bermujahadah, sehingga DOA DIDALAM
SHOLAWAT WAHIDIYAH “FAQODH DHOLAMTU
ABADAW-WAROBBINII - SUNGGUH AKU MANUSIA YANG DHOLIM SELALU” HANYA KITA
JADIKAN SLOGAN BELAKA!
Padahal ajaran itu harus diterapkan,
dilestarikan dan dipelihara sampai ajal menjemput, seperti dawuh Beliau Muallif
:
“AL WAJAL ILALAJAL” (latih perasaan rendah itu sampai ajal menjemput)
Ingat… 200 tahun Nabi Adam taubat
dengan perasaan rendah dan hina baru terampuni hanya untuk menebus satu
kesalahan, akan tetapi bagaimana dengan kita? Berapa kali kita melakukan
kesalahan? Berapa kali kita melakukan dosa? Berapa kali kita melakukan maksiat?
Tentunya tak terhitung kita melakukan kesalahan, dosa dan maksiat!
Tundukkan sayapmu….Merendahlah…
teteskanlah airmata penyesalan sebagai penebus dosa!
Lepaskan semua perasaaan AKU yang
tertanam didalam jiwa kita! (aku mampu, aku berkuasa, aku kaya, dsb)
NOL kan dan sadarilah kalau kita adalah
ciptaan yang asalnya tidak ada dan dijadikan menjadi ada!
Siapakah dalang dibalik itu semua???
Hanya hati yang benar-benar murni
dan bersih yang akan menangkap frekuensi suci sinyal kehambaan itu!
Dan ketika si hamba menangkap frekuensi suci sinyal kehambaan itu,
niscaya akan terpancar AKHLAQUL KARIMAH yang
santun, lemah lembut, pemaaf, serta kasih sayang.
Wahai diriku wahai saudaraku…!!!
Kembalilah kepada Tuhanmu…!!!
FAFIRRUUU… ILALLOOH…..!!!
“KOREKSILAH DIRIMU SEBELUM ENGKAU
MENGOREKSI ORANG LAIN”
--------------------------------------------------------
Catatan kelam perjalanan “Si
Fakir” yang hina
Dalam bumi kerendahan, 22 Oktober
2013
Hidup Sekali Harus Berarti!
Hidup Sekali Harus Berarti!

Ya sayidi ya rasulalloh
BalasHapus