Pesan Beliau ketika kami
bersilaturahmi kepada teman dari Makkah (Saudi Arabia), setelah panjang lebar berbicara
masalah perjuangan akhirnya Beliau berpesan kepada kami bahwa "apabila Allah menginginkan dan memilih hambanya
untuk dicintai pasti akan diuji terlebih dahulu”.
“Apakah manusia itu mengira, bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, sehingga Allah mengetahui orang-orang yang benar dan pendusta.” (Q.S. Al-Ankabut [29]: 2-3)
Oleh karena itu apapun ujian yang
ada di Alam Hikmah pesan Beliau hanya diam… diam… ikuti akhlaqul karimahnya Mbah Yai, karena sesungguhnya mengikuti
ajarannnya muallif itu tidaklah mudah bahkan dikatakan memegang perkara haq
diakhir zaman bagaikan memegang bara api.
Ya mungkin ini kesalahan kami,
kesalahan kita bersama karena jauh dari bimbingan Muallif Ra sehingga kami di Alam
Hikmah bukan malah menjadikan sumber hikmah akan tetapi malah kami menjadi sumber
fitnah dimana-mana.
Maka pesan Beliau kepada
teman-teman Alam Hikmah; diam… diam… diamlah… ikuti akhlaqul karimahnya Muallif Ra, karena sesungguhnya murid-murid Muallif
itu bisa dilihat dari akhlaqul karimahnya.
bahkan kita tidak bertanggung jawab terhadap umat dan perjuangan, malah selalu
merasa benar.
Kita lupa bahwa perjuangan ini
adalah jamial alamin
Ingatkah wahai saudaraku, kisah
ini terjadi di zaman khalifah Sayyidina Umar Ra.
Pada suatu hari Sayyidina Umar Ra
melakukan sidak (operasi mendadak) dengan maksud ingin mengetahui seberapa
sejahteranya masyarakat pada saat khalifah umar berkuasa.
![]() |
| Ilustrasi: Kepemimpinan Sayyidana Umar Ra. |
Dan pada saat itu kedua anaknya
merengek menangis sambil berkata kepada ibunya, "ibu....... aku lapar!" dan ibunya pun menjawab, "sabar ya nak ibu kan lagi memasak
gandum cuman saja yang belum
matang" dan anak si ibu itu tetep saja merengek dan menangis mungkin
karena kecapaian akhirnya kedua anaknya pun tertidur pulas dengan kondisi
perutnya yang lapar.
Dari kejauhan Sayyidina Umar Ra
pun melihat serta memperhatikan tingkah laku si ibu itu. Satu jam pun berlalu
dan Sayyidina Umar merasa heran dan berkata dalam hatinya "kenapa makanan yang di masak si ibu tak kunjung matang memang apa
yang di masaknya itu" karena rasa penasaranya akhirnya Sayyidina Umar
pun mendekati dan menghampiri rumahnya si ibu tadi dan bertanya kepada si ibu
tadi dan berkata: "wahai ibu tadi
aku sempat memperhatikan apa yang kau katakan kepada kedua anak mu dan engkau menjawab
makanannya belum masak, memang sebenarnya apa yang engkau masak dengan waktu
yang cukup lama sampai akhirnya kedua anakmu pun tertidur kecapaian dan dalam
keadaan lapar?"
Si ibu itupun menjawab dengan
nada yang sedih karena telah membohongi
kedua anaknya "aku tidak masak
apapun karena aku tidak memiliki sesuatu untuk di masak" lalu umar pun
bertanya kembali "memang tadi engkau
memasak apa?" dan ibu itupun menjawab sambil memperlihatkan kepada Sayyidina
Umar apa yang ada di dalam panci itu, "inilah
yang saya masak, dan engkau pun melihatnya sejak dari tadi" saat di
perlihatkan oleh si ibu tadi apa yang ada di dalam panci tersebut. Sayyidina
Umar pun merasa iba karena rasa ingin membahagiakan anaknya si ibu itu rela
berpura-pura memasak makanan padahal yang dia masak bukanlah gandum yang bisa
di makan tapi si ibu itu terpaksa memasak air yang di isi dengan sebuah batu.
Melihat kejadian itu Sayyidina
Umar Ra pun bertanya lagi kepada si ibu, "memang
apa yang telah dilakukan pemimpin di negeri ini?" dengan jujur dan
merasa tidak mengetahui sebenarnya siapa yang bertanya itu, maka si ibu pun
menjawab "pemimpin di negeri ini
adalah pemimpin yang tidak punya rasa tanggung jawabnya terhadap warga miskin
dan tida ada kepeduliannya terhadak orang kecil".
Mendengar jawaban itu dari si
ibu, Sayyidina Umar Ra pun merasa malu sebagai pemimpin dan berkata kepada si
ibu itu "ibu kamu tunggu sebentar di
sini aku akan kembali lagi kesini" dan Sayyidina Umar Ra pun
berangkatlah ke gudang tempat penyimpanan makanan.sesampai di sana umar
langsung meminta kepada penjaga gudang tersebut untuk di bawakan sekarung
gandum kepada Beliau.
Masuklah si penjaga tadi ke dalam
gudang penyimpanan dan mengambil satu karung gandum sesuai permintaan dari
umar, setelah sampai di hadapan umar kemudian si penjaga tadi bertanya lagi, "wahai amirul mukminin kepada siapakah
aku harus mengantarkan gandum ini" dan umar pun menjawab "wahai penjaga biar aku saja yang
mengantarkan gandum ini!".
Mendengar jawaban Sayyidina Umar
Ra si penjaga tadi tetep merasa tidak enak dan menjawab kembali, "wahai amirul mukminin ini adalah tugas
dan tanggung jawabku, jadi biar aku saja yang mengantarkan gandum ini"
mendengar jawaban tersebut Sayyidina Umar Ra tersenyum dan berkata "wahai penjaga ini adalah tanggung
jawabku sebagai pemimpin mau kah kamu menangung tanggung jawab saya di yaumil
akhir ketika semua manusia di kumpulkan dan pemimpin juga di minta
pertanggungjawabannya karena telah menyia-nyiakan amanat dan menelantaran
rakyatnya".
Mendengar jawaban begitu akhirnya
si penjaga tadi menurunkan karung gandum di atas pundaknya dan menyerahkannya
kepada Sayyidina Umar Ra. Dan umar pun berangkat lagi menuju rumah si ibu tadi
dan membawa gandum untuk di berikan kepada ibu tadi, sesampai disana umar pun
berkata "wahai ibu cobalah masak
gandum ini dan berikan kepada anak-anakmu yang kelaparan".
Melihat kedatangan Sayyidina Umar
Ra dan dengan membawa satu karung gandum yang dibawa sendiri,si ibu tadi merasa
terharu juga senang dan mengucapkan rasa terimakasinya,dan kemudian bertanya
kepada Sayyidina Umar, "wahai tuan
siapakah gerangan anda yang mau memberikan gandum kepada kami" lalu
umar pun tersenyum dan berkata "wahai
ibu aku adalah amirul mukminin dan aku adalah pemimpin negeri ini”.
Mendengar jawaban umar begitu, si
ibu tadi sontak merasa kaget dan takut jangan-jangan Beliau akan menghukum atas
kelancangan dan kekurang ajarnya,dan si ibu tadi pun berkata "wahai amirul mukminin ampunilah hamba
yang telah lancang dan berani mencaci dan menjelekan tuan karena ketidak tahuan
hamba".
Dan Sayyidina Umar Ra menjawab "sudahlah ibu ini adalah tanggung jawab
saya sebagai seorang pemimpin di negeri ini" hakikatnya pemimin adalah
pelayan bagi rakyatnya bukannya mengunakan kesewenang-wenangan untuk memindas, memeras,
mendzalimi, dan pemimpin yang baik dapat dilihat dari seberapa baiknya dia
melayani masayarakat.
Wahai saudara-saudaraku….!!!
Pelajaran apa yang kita
dapatkan…? begitu besar tanggung jawab dan santunnya Beliau. Bagaimana dengan
diri kita sebagai pengikut Beliau Ra. Alangkah malunya diri ini bila dibongkar
rahasia hati kita (WAHUSSILA MAA
FISSUDUUR)!
Ternyata diri ini masih jauh,
masih egois, tidak ada rasa kasih sayang di hati kita, padahal kita mengaku
sebagai pejuang kesadaran.
Mari kita koreksi
sedalam-dalamnya diri kita karena cepat lambat akan pulang dan jangan sampai
sesat dijalan!
Ingat motto kita “HIDUP SEKALI
HARUS BERARTI” ini harus diwujudkan…. dan harus diwujudkan!
Sudahkah saya… teman-teman dan
saudara-saudaraku di Alam Hikmah meniru akhlaqul
karimah Beliau yaitu memiliki rasa tanggung jawab dan kasih sayang terhadap
sesamanya?
Beliau rela memikul gandum demi
untuk rakyatnya padahal Beliau seorang raja, sedangkan kita manusia yang tiada
arti malah enak-enakan dan sering menyalahgunakan amanat dengan merasa benar
dan suci.
Wahai saudaraku…. Marilah kita
koreksi diri kita sebelum dikoreksi oleh Allah dihari pengadilan nanti “HASIBUU
ANFUSAKUM WAHUWA ANTU HASABU” Sayyidina Umar Ra.
Yaa.. semoga bermanfaat karena
kita hidup hanya sekali dan harus berarti
Yaa Allah tolonglah kami….
Bimbinglah kami… mujahadah…. mujahadah… agar kita dikaruniai Musyahadah.
-------------------------------------------------------------------------------
Catatan Kelam Perjalanan “Si Fakir” yang hina
Dalam Bumi Kerendahan, 24 Mei 2013
Hidup Sekali Harus Berarti

0 comments :
Posting Komentar